Batuan Besar dari Perut Bumi Terangkat ke Permukaan Membentuk Fitur- fitur Fauna Fantastik Imajinatif

289
BATU BERLAYAR Kolom batu granit yang menyerupai layar, disebut Batu Berlayar, di selat Gaspar, Tanjung Kelayang. Fitur tersebut terbentuk karena proses alam yang panjang, abrasi ombak laut, angin dan cuaca. Bentukan-bentukan seperti itu banyak ditemui di sebaran gugusan pulau-pulau kecil Tanjung Kelayang, yang berbatasan langsung dengan selat Gaspar. Bila pada saat air pasang, dasar pasir kuarsa tersebut tenggelam, namun pada saat surut bisa dimanfaatkna tempat kunjungan wisatawan. ©2016 Deni Sugandi, All Right reserved, no reproduction without prior permision

Sejak subuh udara masih basah, angin barat mengayun-ayunkan kapal yang saya tumpangi oleng ke kiri dan ke kanan. Dengan sigap pengemudi perahu kayu mengarahkan haluan, kadang memperkuat putaran baling-baling. ”Tidak harus melawan, tetapi mengikuti arah angin sekaligus harus mampu membaca ombak,” ujar pengemudi kapal berseloroh dengan tenang. Sejak meninggalkan dermaga Tanjung Kelayang, saya disuguhi bongkah-bongkah batu granit yang mencuat di batas permukaan laut, seolah berada di perairan dangkal yang memunculkan bongkah batuan.

Bila duduk di atas batuan induk yang lebih besar, Pulau Belitong seperti berdiri di atas batu granit. Batuan granit menjadi sangat menarik, karena bentuk-bentuknya bervariasi, bahkan bila memainkan imajinasi dengan titik pandang yang pas, batuan tersebut membentuk fitur-fitur fauna imajinatif. Titik kunjungan pertama dalam rangkaian hoping island, perahu mengarah ke Pulau Burung Garuda yang terletak kira-kira 2 mil dari Tanjung Kelayang.

Disebut pulau karena membentuk daratan yang disusun oleh batu granit lapuk oleh proses abrasi ombak laut, panas panggangan matahari hingga beratus-ratus tahun. Tatahan alam ini membentuk seperti burung garuda, lengkap dengan sayap dan ciri khas bagian paruh yang lancip. Masyarakat di Tanjung Kelayang menyebutnya Batu Garuda.

Perjalanan dilanjutkan menyusuri tepian pantai bagian utara Pulau Belitong, disuguhi pemandangan pulau-pulau kecil yang ditempati oleh bongkah-bongkah batu dari ukuran sedang, hinga melebihi ukuran rumah pada umumnya. Bongkah batu granit tersebut membundar, karena proses pelapukan fisika dan kimia yang masih berlangsung hingga kini. Pemberhentian kedua perjalanan , di Batu Berlayar. Saya telah menduga, penamaan tersebut dikaitkan dengan bentuk morfologi batuan.

Sebab itu, Batu Berlayar kurang lebih bentuknya seperti layar perahu yang tengah mengarungi samudera. Dugaan saya tepat, ternyata layar kapal yang dimaksud adalah batu granit yang menjualang tinggi, tampak seperti kolom dan bila dari kejauhan terlihat seperti layar.

Bentukan imajinatif demikian tidak sepenuhnya sama persis, karena diperlukan cara melihat yang berbeda. Keunikan batu ini menjadi sumber cerita para pemandu wisata ketika menjelaskan singkapan batuan granit. Batu granit disebut batuan dalam, terbentuk jauh di bawah permukaan bumi dengan kedalaman kurang lebih berpuluh-puluh kilometer.

Digolongkan ke dalam batuan beku yang membentuk batolit. Karena terjadi proses tektonik . Batuan-batuan tersebut terangkat, bahkan beberapa segmen mengalami pematahan dan peretakan. Akibat proses tektonik tersebut, batu granit yang terbentuk jauh di dalam perut bumi, kemudian muncul ke permukaan. Ketika tersingkap, tubuh granit tersebut mengalami deformasi, massa batuan kemudian membelah dan retak-retak.

Proses pelapukan
Proses pelapukan dan erosi serta abrasi mengikisnya secara perlahan-lahan. Seiring waktu dan terjadi berulang-ulang selama ribuan tahun, bongkah-bongkah granit tersebut seakan terpisah dengan jarak tertentu. Sebenarnya bongkah batu granit raksasa tersebut hanyalah bagian atas saja dari tubuh batuan sangat besar yang terletak di bawah permukaan.

Tujuan berikutnya perjalanan laut adalah ke Pulau Lengkuas yang terletak di wilayah administratif Kecamatan Sijuk. Beberapa sumber mengatakan, Pulau Lengkuas adalah salah satu nama tanaman yang tumbuh di pulau ini dengan nama latin Alpinia Galanga.

Tetapi nama tersebut ternyata bukan diambil dari nama tanaman, tetapi untuk sebutan rumah berbentuk memanjang yang ditempati para pekerja, disebut Long House. Karena pelafalan dan lebih menekankan kepada nama yang telah dikenal, nama Long House diucapkan ”terpeleset” jadi Lengkuas.

Pulau seluas 1 hektar ini dikelilingi oleh pasir kuarsa dan kelompok bongkahan-bongkahan batu granit yang tersusun rapi, seakan-akan ditata sedemikian rupa oleh manusia, padahal semuanya terbentuk secara alami. Di pulau ini dijumpai salah satu fasilitas negara, mercusuar yang dibangun 1882 pada masa kolonial. Tinggi bangunannya mencapai 65 meter, terdiri atas 18 lantai dengan jumlah anak tangga 313 buah, dan diperlukan waktu antara 15 hingga 20 menit hingga ke lantai terakhir.

Bangunan tua yang didirikan oleh perusahan di Den Haag, Belanda L.I. Enthoven & Co, terdiri atas 71 blok lempeng luar yang tersusun hingga lantai 18 serta 32 blok kolom bagian dalam yang dipasang hingga lantai 15. Mercusuar ini kini masih melayani navigasi kapal dan berfungsi baik, dikelola oleh Kementrian Perhubungan di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Distrik Navigasi Kelas I TG.Priok.

Dari Lengkuas, perahu memutar balik kembali ke dermaga Tanjung Kelayang. Sei­ring waktu perahu perlahan merayap dibelai ombak, seolah malas untuk kembali. Namun perjalanan harus berakhir di dermaga Tanjung Kelayang untuk dilanjutkan ke lokasi kunjungan berikutnya; Tanjung Tinggi , lokasi taman batu granit yang pernah digunakan untuk pengambilan film Laskar Pela­ngi.

Seperti yang terekam di film, lokasi wisata ini persis memberikan fenomena bongkah batu membulat dengan ukuran raksasa. Bongkahan-bongkahan batu ini , menyusun menjadi seperti pagar alami yang memperindah pemandangan sore, menjelang matahari terbenam.
(Deni Sugandi/fotografer kebumian, anggota MAGI-IAGI)***