Belanja Pemda Jabar Minus

107
Belanja Pemda Jabar Minus

      PADA Triwulan II 2020 belanja pemerintah Provinsi Jawa Barat anjlok dibanding triwulan pertama. Belanja pegawai, belanja barang/jasa, dan belanja hibah, mengalami kontraksi sampai minus 41,34%  year to year (yoy). Kontraksi tersebut, menurut Laporan Perekonomian Provinsi Jawa Barat, akibat menurunnya belanja pegawai serta belanja barang dan jasa. Belanja pegawai merosot dari 18,64% pada kuartal pertama menjadi minus (- ) 1,98%. Sedangkan belanja barang dan jasa dari minus 2,15% makin dalam hingga menjadi -11,75%.

       Konsumsi pemerintah menurun drastis pada Triwulan II itu seiring dengan realisasi belanja pegawai dan belanja hibah yang turun tajam.  Dampaknya, pemberian THR saja terpaksa diubah, hanya pegawai eselon III ke bawah yang mendapat THR itupun dalam jumlah yang jauih berkurang dibanding THR pada Triwulan I 2020.  Bukan hanya ASN,  anggota TNI dan Poklri pun bernasib sama. Semuanya merupakan akibat pengalihan alokasi anggaran  untuk penanggulangan Covid-19.

       Melihat neraca perdagangan Jabar, pada Triwulan II 2020 masih surplus namun  jumlahnya menurun dibanding triwulan lalu.  Nilai ekspor Jabar juga surplus meskipun lebih rendah dibanding awal tahun 2020. Tercatat nilai ekspor Jabar mencapai angka Rp 5,13 triliun, turun dibanding teriwulan awal yang mencapai Rp 8,23 triliun.  Impor juga mengalami penurunan akibat penyebaran Covid-19 hampir di seluruh dunia. Dampaknyua perdagangan global, baik ekspor maupun impor turun cukup tajam.

        Meskipun demikian, Provinsi Jawa Barat masih menjadi andalan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Dilihat dari kecenderungan makin melandainya curva perekonoman Jabar yang mungkin akan tembus sampai awal tahun 2021,kontribusi Jabar terhadap pertumbuhan ekonomi  nasional sulit terealisasi. Banyaknya perusahaan yang terrpaksa mem-PHK pegawainya, berakibat pada makin rendahnya daya beli masyarakat. Dampak utamanya, belanja konsumen akan semakin rendah.

          Pada sisi lain, ada beberapa subsector yang justru naik. Selain neraca perdagangan yang surplus, meskipun lebih rendah dibanding triwulan awal, deposito Jabar juga  naik. Subsektor komunuikasi melaju signifikan. Hal itu sebagai dampak langsung peratutran pemerinah tenang belajar dan bekerja di/dari rumah. Pendapatan pemerintah dari masyarakat melalui meningkatnya penggunaan internet meningkat tajam. Akan tetapi belanja masyarakat pada subsktor internet justru menimbulkan keluhan masyarakat terutama masyarakat kelas bawah.  Belajar di rumah bagi para pelajar berakibagt pengeluaran orang tuanya meningkat hanya untuk membeli pulsa atau kuota. ***