Beradu Kelezatan Budidaya Labu Madu

68

TANAMAN labu cenderung kurang populer bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, tidak untuk labu madu. Belakangan ini, labu madu mulai menjadi tren di sebagian kalangan sebagai alternatif pangan dan mulai banyak ditemukan di sejumlah pasar modern yang membidik kelas premium.

Selain pangan alternatif, labu madu juga mulai populer sebagai makanan pendamping ASI bergizi tinggi. Bagi para ibu muda masa kini yang memiliki buah hati berumur mulai satu tahun hingga di bawah lima tahun pasti akrab dengan olahan labu madu. Labu berbentuk bulat memanjang ini punya kandungan gizi yang beragam. Mulai dari vitamin A, zat besi, asam folat dan kandungan serat yang tinggi.

Naiknya popularitas tanaman yang juga sering disebut butternut squash atau butternut pumpkin ini membuat sejumlah petani mulai beralih ke komoditas tersebut sejak lima tahun lalu. Bahkan beberapa daerah di Indonesia menjadi sentra budidaya labu madu.

Salah satunya di Kediri Jawa Timur. “Potensi labu madu cukup bagus, saya mendorong sesama petani di sini beralih menanam labu madu,” kata Sulistyo Purnomo, petani labu madu asal Desa Toyoresmi, Kediri, Jawa Timur. Ia menyebut desanya kini menjadi menjadi salah satu sentra penghasil labu madu di Kediri.

Pria yang akrab disapa Sulis itu mulai budidaya labu madu sejak 2016. Awalnya, ia menanam singkong dan melon. Melihat potensi labu madu yang besar, ia pun banting setir menanam labu madu. Keberhasilan Sulistyo dan timnya membudidayakan labu madu menginspirasi warga sekitar yang sebagian besar adalah petani. Satu per satu warga beralih dari tanaman singkong, ketela dan melon ke labu madu.

Hal ini tidak terlepas dari harga labu madu yang kompetitif. Di tingkat petani, harganya sekitar Rp 12.000–Rp 15.000 per kg. “Di supermarket bisa sampai Rp 65.000 per kg,” jelasnya.

Sekali panen, Sulistyo bisa menghasilkan 500 sampai 700 buah labu madu, dengan perkiraan berat sekitar 1 ton–2 ton. Satu buah labu madu memiliki berat 1,5 kg–3 kg. Setiap satu batang tanaman labu madu bisa menghasilkan 5 sampai 7 buah. Hasil panen tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal di sekitar Jawa Timur serta ke Yogyakarta, Jakarta, hingga Banjarmasin.

Tak mau kalah, Indra Mahyudi, petani labu madu asal Medan juga menanam komoditas tersebut di lahan seluas 2,5 hektare sejak empat tahun lalu. Ia pun bakal terus memperluas areal tanam karena permintaan yang besar. “Sebagian besar untuk pasar menengah atas di Jawa dan Bali,” tuturnya.

Labu madu hasil panenan Indra dibanderol Rp 10.000–Rp 13.000 per kilogram. Dalam sekali panen, ia bisa menghasilkan 50 ton–75 ton labu madu. Hasil panen tersebut dikirimkan ke berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Bali, Surabaya, Medan, Pontianak, Makasar, Semarang dan Yogyakarta.

Ia berharap, labu madu ini tidak cuma menyasar segmen menengah ke atas saja tapi juga bisa lebih luas lagi. “Bisa menjangkau seluruh kalangan, apalagi olahan labu mau banyak variasi,” tuturnya.

Labu madu atau butternut squash merupakan salah satu jenis tanaman labu yang mulai banyak dibudidayakan di Indonesia. Labu yang berasal dari benua Amerika ini memiliki bentuk bulat panjang seperti bohlam lampu. Rasa labu ini manis dan teksturnya lembut.

Yang lebih menarik, masa tanam labu asal benua Amerika ini relatif singkat. Sekitar 85 hari–90 hari saja, tanaman labu madu sudah siap dipanen.

Sulistyo Purnomo, petani labu madu asal Desa Toyoresmi, Kediri, Jawa Timur menjelaskan, jika budidaya labu madu tidak terlalu sulit, asalkan setiap tahap dilakukan dengan benar. “Asal disiplin saat perawatan dan awal penanaman,” ujarnya.

Hal pertama menggemburkan lahan dan membuat bedengan untuk menanam labu madu. Bedengan dibuat dengan lebar satu meter dan tinggi 40 cm–50 cm. Jarak antar bedengan sekitar 2 m–4 m.

Berikutnya, melakukan penebaran pupuk kandang sebanyak 10 ton–15 ton per hektare di atas bedengan selama 2 minggu. Setelah itu, menutup bedengan plastik supaya cepat lembab dan tidak tumbuh gulma. Jangan lupa membuat tempat rambatan tanaman karena labu tanaman merambat. “Tempat rambatan bisa memakai bambu,” katanya.

Setelah lahan siap ditanami, siapkan bibit labu madu. Kebanyakan masih impor yakni dari jenis labu madu Hanna dan Havana. Namun ada juga bibit labu madu lokal asal Purwakarta yang kualitasnya tidak kalah dengan bibit impor. Supaya cepat bercambah, bibit labu madu direndam terlebih dahulu di dalam air selama dua sampai tiga hari.

Jarak tanam antar bibit yaitu 1 m x 1 m dan jarak tanam antar baris sekitar 50 cm. Sulistyo mengatakan bibit labu madu bisa dipindah tanam ke lahan yang lebih luas jika sudah mencapai usia 1 – 2 minggu.

Selain persiapan awal yang matang, pemeliharaan tanaman juga jadi kunci keberhasilan budidaya labu madu. Sulis, sapaan akrab Sulistyo bilang, pemberian pupuk dan penyiraman harus diperhatikan. Pada saat awal penanaman, pemberian pupuk harus rutin dan agresif agar merangsang pertumbuhan tanaman. Seperti di tahap awal, pemberian pupuk secara kocor atau semprot setiap tiga sampai empat hari sekali. Baru setelah berusia 1,5 bulan intensitas pemupukan dikurangi.

Indra Mahyudi, petani labu madu asal Medan menambahkan, pemberian pupuk secara rutin bisa juga meningkatkan kualitas buah labu madu. “Waktu awal pakai pupuk untuk mempercepat tumbuh tanaman, nanti bisa diganti dengan pupuk buah,” ujarnya.

Menurut Indra, penyiraman jadi hal penting dalam budidaya labu madu. Pasalnya, tanaman menjalar ini tidak tahan kering. Jika turun hujan, penyiraman bisa dikurangi menjadi sehari sekali.

Labu madu juga memiliki hama penyakit yang kerap menyerang, yaitu hama layu yang disebabkan spora yang ada dalam tanah dan serangga seperti kumbang, ulat.

Pencegahannya, bisa pakai insektisida atau pestisida untuk membasmi hama. Sedangkan untuk mematikan spora adalah di tahap awal, lahan harus dicangkul atau bajak dan didiamkan tiga minggu untuk mematikan spora fusarium tersebut. (C-003/Selesai)***