Berkelit dari Resesi Ekonomi

173
Berkelit dari Resesi Ekonomi

 SEPERTI juga ekonomi negara lain, ekonomi Indonesia mengalami kotraksi selama Covid-19. Ekonomi Indonesia negatif 5,32 persen sampai kuartal II/2020. Kontraksi itu masih kecil dibanding ekonomi negatif negara lain. Negara tetangga yang selama ini dikenal memiliki pertumbnuhan ekonomi paling tinggi di ASEAN, Singapura, ternyata  mengalami kontraksi cukup parah, minus 12,6.  Uni Eropa menempati urutan paling tinggi yaki minus 14,4. Sedangkan Amerika Serikat minus 9,5 dan Malaysia minus 8,4.

Kontraksi ekonomi Indonesia yang dinilai kritis, bila dibandingkan dengan negara lain, masih dapat bernafas sedikit lega. Apabila Indonesia dapat mempertahankan kontraksi pada angka itu, diperkirakan, ekonomi Indonesia dapat segera bangkit, setidaknya “kembali ke enol”. Bahkan menurut Staf Khusus Presiden Bidang Eknomi, Arif Budimanta,  minus 5,32 itu belum menunjukkan resesi. Seperti dilansir KOMPAS.com, Arif mengatakan, resesi adalah petumbuhan negatif perekonomian bertrurut-turut selama dua kuartal .

 Pada kuartal pertama 2020 perekonomian Indonesia masih positif meskipun masih jauh dari target. Pada kuartal kedua, sejalan dengan makin masifnya penyebaran Covid-19, perekonomian Indonesia terus merosot. Makin tinggi kasus positif Covid-19, tentu makin turun angka pertumbuhan ekonomi. Karena itu, kita harus mampu menekan penyebaran Covid-19 agar perekonomian nasional tidak terjun ke jurang resesi. Kita sudah mengalami resesi ekonomi paling parah pada tahun 1997-1998. Kala itu krisis ekonomi disertai krisis moneter.

Masa resesi sekarang akan lebih parah apabila pemerintah tidak mampu menekan penyebaran Covid-19. Caranya yang paling jitu, menurut beberapa ahli, dilakukannya lock down (LD) secara serempak di seluruh negeri. Namun menurut para ahli yang lain, LD secara menyeluruh itu butuh dana sangat besar. Indonesia merupakan negara  kepulauan dengan luas areal sangat besar. Jangkauan pelaksanaan tugas dan pengawasan sangat sulit. Penanggulangan yang dilakukan pemerintah, bukan LD tetapi PSBB, kemudian masa transisi, dan kehidupan normal baru. Dengan demikian, perekonomian tidak benar-benar lumpuh. Pertanian dan perdagangan, termasuk pasar rakyat, masih teerus berjalan. Banyak rakyat yang tidak sama sekali kehilangan mata pencahariannya.

Konsekuensi cara itu juga ada. Masyarakat kehilangan kewaspadaan dan disiplin. Kehidupan di pasar, baik pasar tradisional maupun pertokoan, jauh dari ketentuan atau protocol kesehatan. Kerumunan bahkan, antrean tanpa jarak, dan berdesak-desakan, terus terjadi. Lihat saja, dua hari tanggal 11-12-13 Agustus  terjadi antrean panjang di semua bank tempat pencairan gaji ke-13 dan BLT. Protokol kesehatan nyaris tak berlaku sama sekali. Keadaan itu membuat penyebaran Covid-19 sulit dibendung.

Tugas pemerintrah seyogianya mendapat respons masyarakat dengan meiningkatkan disiplin dalam melaksanakan protokol kesehatan. Sebenarnya tidak terlalu berat, hanya mau menggunakan masker ketika berada di luar rumah. Kemudian menjaga jarak, tidak berkerumun dan berdesakan.

Kita tidak dapat memprediksi, apakah resesi ekonomi akan benar-benar terjadi atau justru pada kuartal berikutnya, ekonomi kita akan membaik. Pada masa ini, ilmu pengetahuan tentang kesehatan, ilmu ekonomi yang canggih, teknologi perindustrian, belum mampu menolak perkembangan Covid-19. Lihat angka klaster pandemi yang cenderung naik, lihat kehidupan masyarakat yang secara eknomi terpapar corona, merupakan lawan yang sangat kuat. Perbaikan ekonomi harus dilakulan secara bersama-sama dengan perbaikan ekonomi.

Bisakah? Harus!***