Bersyukur  Mewabahnya Corona

150

ADA 30.000 narapidana (napi) yang dibebaskan  bersyarat dari semua lapas dan rutan di seluruh Indonesioa. NP, seorang napi yang dihukum tujuh bulan karena kasus KDRT, Senin kemarin, keluar dari pintu besi salah satu lapas. Ia terrmasuk  napi yang dibebaskan berkaitan dengan merwabahnya virus corona. Sebelum melangkah ke luar pagar, ia sujud syukur atas kebebasannya.

NP bersyukur dapat menghirup udara di luar jeruji besi berkaitan dengan peraturan pemerintah berkenaan dengan virus corona. Akibat wabah bermahkota itu ia bebas. Sebetulnya ia masih harus menjalani hukuman sekira tiga builan lagi. Pemerintah melihat, kapasitas  ruang LP semakin sempit karena jumlah napi terus bertambah. Hal itu bertentangan dengan tata cara perlawanan terhadap covid-19. Jangankan antarindividu harus berjarak sekira dua meter, di kamar tahanan, tidur pun harus bergantian. Tidak ada tempat untuk berbaring bersama-sama. Corona mudah berjangkit  dan mudah beranak pinak jutaan kalidi daam kerumunan napi itu.

Benar, tidak ada orang yang bersyukur dengan maraknya virus corona, namun NP dan 30 ribu tawanan lainnya justru melakukan syujud syukur. Tentu saja hal itu wajar mereka lakukan. Kalau tidak ada wabah virus corona, mereka harus terus berdesak-desakan di LP sampai masa hukuimannya habis. Selain bersyukur atas kebabasannya, mereka juiga tercenung ketika terlintas dalam ingatannya, maukah keluarga dan lingkungannya menerimadya kembali? NP sedikit was-was, kalau-kalau anak istrinya menolak kedatangannya. Ia telah melakukan kekerasan dalam rumah tangganya.  Ia pernah menampar istri dan memukul anaknya yang masih balita. Ketika itu ia mengaku khilaf karena depresi berat. Ia di-PHK dari pabrik tempatnya bekerja.

Bisa jadi semua napi yang “dibebaskan”corona itu merasa was-was sepertri yang dialami NP. Selain itu mereka juga was-was kalau-kalau dianggap sebagai pembawa virus corona dari LP kemudian menyebar ke keluarga dan masyarakat di lingkungannya. Wajar kalau masyarakat di kampung halamannya meminta agar ia dan kawan-kawan, dikarantina terkebih dahulu, sebelum dipulangkan ke masyarakat.

Virus corona dapat hilang atau sedkitnya berkurang setelah suspek atau terduga covid-19 diisolasi terlebih dahulu. Namun masyarakat kurang respek terhadap kepulangan mantan napi ke kampung halamannya. Mereka khawatir orang itu akan kembali ke dunia kejahatan.

Stigma itu ada pada setiap mantan napi. Banyak di antaranya yang baru saja keluar LP, sudah melakukan kejahatyan lagi. Kardena itu pembebasan 30.000 napi berakitan mewabahnya corona tidak secara iklas diterima masyarakat. Wajar apabila masyarakat mengharapkan, lembaga pemasyarakatan, kejaksaan, dan kepolisian, mengawasi dan membina para mantan napi itu.setelah mereka berada di masyarakat.

Tindakan pemerintah, dalam hal ini Presiden Jokowi, tidak membebaskan para napi tipikor, masyarakat merasa lega.. “Kami mengapresiasi apa yang btelah disampaikan Presiden karena kita tahu bahaya dan dampak korupsi,” kata  Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK, Ali Fikri, Senin di Jakarta. ***