BI Injeksi Rp 300 Triliun Untuk Kuatkan Rupiah Yang Terdampak Corona

17

BISNIS BANDUNG –  Bank Indonesia sudah mengucurkan dana sekitar Rp 300 triliun sepanjang tahun ini dalam intervensi pasar guna menguatkan nilai tukar rupiah dari tekanan dolar AS akibat pandemi global virus corona atau COVID-19.

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam telekonferensi pers usai rapat terbatas bersama Presiden di Istana Merdeka Jakarta, Jumat pekan lalu mengatakan intervensi nilai tukar rupiah dilakukan di pasar spot, kemudian di pasar sekunder untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) yang dilepas investor asing dan intervensi di pasar Domestik NDF.

“Kami terus melakukan injeksi likuidtas baik rupiah dan valas, untuk injeksi likuditas  tahun injeksi rupiah hampir Rp 300 triliun,” kata Perry .

Injeksi likuiditas itu antara lain dengan pembelian SBN di pasar sekunder mencapai Rp163 triliun yang dilepas investor asing. Kemudian, BI mengubah Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah atau batas pencadangan kas bank mencapai Rp 51 triliun sejak awal tahun.

Selain itu, BI juga melonggarkan GWM rupiah dengan tambahan likuiditas mencapai Rp 23 triliun dan GWM valas dengan nilai suntikan dana 3,2 miliar dolar AS.

Perry mengatakan langkah ini dilakukan karena aliran modal asing (capital outflow) yang keluar dari Indonesia terus meningkat akibat tekanan ekonomi global. Dari Januari hingga Kamis (19/3/20 arus modal keluar mencapai Rp105,1 triliun secara neto.

Selain intervensi pasar, BI juga mendorong agar dunia usaha termasuk para eksportir turut membantu menjaga nilai tukar rupiah dengan tidak menahan dolar AS. Eksportir dapat melepas dolar AS ke pasar sehingga memberikan pasokan dolar AS di pasar valuta asing.

“Oleh karena itu dalam konteks ini Presiden Joko Widodo memberikan arahan supaya seluruh potensi suplai yang ada di dalam negeri dimobilisasi termasuk para eksportir yang selama ini menahan dolarnya, agar memberikan suplai kepada pasar valas,” ujarnya

Bank Indonesia mencatat sampai tanggal 19 Maret 2020 terjadi penarikan dana asing sebanyak Rp 105 trilliun. Terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) Rp 92,8 triliun.

Penarikan dana asing / capital outflow sebagian besar terjadi pada bulan Maret 2020  seiring dengan penyebaran virus corona  di Indonesia.

Penyebaran covid-19 yang juga terjadi negara-negara maju mendorong para investor melepaskan aset berharganya dan ramai-ramai mengkonversikan ke mata uang dollar Amerika.

Dikemukakan Perry, untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia membeli SBN yang dilepas investor asing. Tahun ini bank sentral telah membeli Rp 163 triliun SBN yang dilepas asing.

Selain itu ,lanjut Perry , bersama OJK, Bank Indonesia terus berkoordinasi dan menjaga pasar agar tetap berjalan. Fokusnya untuk menjaga confidence, memastikan bekerjanya mekanisme pasar dan menjaga likudiitas baik rupiah maupun valas. (B-003) ***