Bisnis Furnitur Dan Sepatu Berbekal Pengalaman Dan Hasrat

28

SEBAGAI mantan karyawan yang pernah bekerja cukup lama, banyak berdiam diri di rumah membuat Anindya Sukarni tak betah. Soalnya, setelah menikah, dia mengundurkan diri dari pekerjaan, dan ikut sang suami yang bekerja di sebuah perusahaan pertambangan di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Akhirnya, bermodal pengalaman kerja selama lima tahun, perempuan kelahiran Jakarta, 24 Desember 1980, ini membuka usaha furnitur kecil-kecilan. “Sebelum menikah, saya kerja di sebuah perusahaan di mana bos memercayakan divisi furnitur kepada saya,” kata Anindya.

Pengalaman bertahun-tahun berkecimpung di dunia furnitur, jelas membuat lulusan Jurusan Komunikasi Massa Universitas Indonesia (UI) ini paham betul seluk beluk usaha tersebut. Mulai siapa saja klien potensial sampai bagaimana mekanisme bisnis dan produksinya.

Dengan mengusung merek dagang Miumosa Furniture, Anindya mulai merintis jasa kontraktor furnitur pada 2014 lalu. Seiring berjalan waktu, dia juga menawarkan jasa kontraktor interior, jasa desain interior, termasuk jasa arsitek.

Dua tahun kemudian, tepatnya 2016, Anindya melebarkan sayap usaha, dengan masuk ke bisnis mode. Ia membuat sepatu hak tinggi alias high heels, juga dengan brand Miumosa.

“Saya merasa, saya harus menjalani usaha sesuai passion yang saya miliki. Sejak dulu saya suka high fashion (produk fesyen rancangan desainer papan atas),” ungkapnya.

Sayang, Anindya menolak buka-bukaan soal omzet usahanya. Yang jelas, dia membeberkan, untuk bisnis furnitur saja, sekali dapat proyek, nilainya sampai miliaran rupiah.

Sejak awal membangun usaha furnitur, Anindya mengklaim bisnisnya berjalan mulus-mulus saja. Sama persis ketika dia mendapat kepercayaan dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja dulu, untuk memegang divisi furnitur.

“Enggak tahu kenapa, saya di divisi itu tahu-tahu banyak saja kliennya, penjualannya terus meningkat. Saya pikir saat itu, kok ternyata, enggak susah, ya, jualan furnitur,” ujar dia tertawa.

Itu juga yang Anindya alami kala memulai bisnis furnitur di Balikpapan. Bahkan, ia bisa menjaring hotel dan rumahsakit menjadi klien Miumosa.

Ceritanya, sebagai orang baru di Balikpapan, Anindya mencari-cari informasi soal keberadaan teman sekolah atau kuliah yang tinggal di Kalimantan.

Ternyata, ada teman satu sekolah menengah atas (SMA) yang menetap di Tarakan, Kalimantan Utara. Kebetulan, suaminya kontraktor bangunan yang menggarap proyek-proyek besar di seputaran Borneo.

Dari situ, dia memperoleh tawaran jadi kontraktor furnitur di proyek suami temannya. “Lalu, nama saya mulai dikenal, makin banyak pekerjaan yang datang,” imbuh Anindya.

Hobi desain sepatu

Kendati bilang skala usahanya kecil, sedari awal Anindya enggak main-main dengan infrastruktur teknologi informasi (TI). Sebab, keberadaan infrastruktur ini  semakin memudahkan dirinya dalam menjalankan bisnis furnitur.

Tak heran, ia rela merogoh kocek hingga Rp 400 juta untuk membangun infrastruktur TI. Untuk itu, dia terpaksa menjual apartemen dan barang-barang bermerek (branded) miliknya.

“Saya itu technology minded. Jadi buat saya, apapun bisnisnya, fundamentalnya adalah teknologi. Penting bagi perusahaan punya teknologi secara eksternal dan internal. Internal, misalnya, laporan keuangan, keluar masuk barang harus pakai sistem,” tegasnya.

Selain itu, sebelum bisnis furniturnya bergulir, Anindya sudah mengurus legalitas Miumosa. Soalnya, ia bakal banyak berurusan dengan pelabuhan. Maklum, produk-produk furnitur dia datangkan dari luar Balikpapan lewat jalur laut.

Pasokan furnitur berasal dari Jepara, Jawa Tengah. Anindya menjalin kongsi dengan beberapa perajin mebel yang ada di daerah tersebut.

“Sebelum membuka usaha furnitur, saya keliling di Jepara untuk menawarkan kerjasama dengan perajin,” tambahnya yang awal merintis bisnis furnitur hanya memiliki satu karyawan untuk mengurus keuangan.

Dalam tempo dua tahun, Miumosa Furniture berkembang pesat. Portofolio bisnis lebih dari 50 proyek. Klien pun tak hanya dari dalam negeri, juga datang dari luar negeri.

Dengan bisnis furnitur yang kokoh, Anindya memberanikan diri terjun ke lini mode. “Jadi, tidak ada masalah sama sekali di bisnis furnitur. Namun, karena saya orang idealis dan passionate, jadilah tetap ingin mewujudkan mimpi di usaha sepatu high heels,” katanya.

Hanya, lantaran senang dengan high fashion, dia pun tak sembarangan menelurkan produk. Ia menegaskan, sepatu hak tinggi buatannya mesti punya standar kualitas internasional, tetapi dengan mengusung kearifan lokal Indonesia.

Anindya makin mantap terjun ke bisnis ini lantaran sejak kuliah senang membuat sketsa sepatu. Bahkan ketika itu, dia menawarkan hasil rancangannya ke sejumlah produsen sepatu di Bogor dan Bandung dengan sistem beli putus.

Ternyata, hasil rancangannya membuat sebuah butik mode asal Amerika Serikat (AS) tertarik dan meminta Anindya membikin beberapa sketsa.

“Saya bikin 15 sketsa tapi yang diterima hanya dua. Itu saja saya sudah senang banget. Dari situ, datang permintaan dari Asia dan Timur Tengah. Saya juga enggak tahu, bagaimana butik mode di Amerika bisa tahu saya dan tertarik,” beber dia.

Fokus ke sepatu

Dan, Anindya enggak main-main dalam merintis usaha sepatu hak tinggi. Demi fokus melakoni bisnis ini, ia sampai mengerem perkembangan usaha furniturnya.

Misalnya, dia tak lagi menerima pekerjaan sesuai keinginan klien (custom). Jadi, hanya menawarkan yang ada di portofolio.

Soalnya, Anindya mengalihkan sebagian karyawan divisi furnitur ke lini usaha sepatu. “Jadi, saya fokus ke usaha sepatu sejak 2016, di mana saya mengeluarkan koleksi pertama saya,” ungkap Anindya yang saat ini punya 30-an pekerja.

Jelas, keluarga dan teman dekat menentang keputusan Anindya tersebut. Apalagi, sepatu hak tinggi buatannya mengincar pasar khusus (niche market).

“Banyak yang bilang, saya gila, mau bunuh diri, enggak sayang usaha furnitur yang sudah menghasilkan bermiliar-miliar. Dari situ saya justru merasa tertantang,” ujarnya.

Sama dengan bisnis furnitur, dia menggandeng perajin sepatu. Untuk itu, dia keliling beberapa kota di Jawa dan Bali, mulai Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, Malang, hingga Denpasar, untuk mendapat perajin yang cocok. Prosesnya memakan waktu berbulan-bulan sebelum akhirnya ketemu dengan perajin asal Bandung.

Setelah produknya memenuhi standar internasional, Anindya langsung tancap gas dengan melakukan branding. Tahap berikutnya adalah membuat kampanye digital termasuk video yang bercerita tentang proses pembuatan sepatu atawa behind the scene.

Koleksi perdananya rilis tahun 2016, dengan memadukan tenun Lombok. Tapi ternyata, dia kena tegur dari salah satu orang penting di Lombok. Sebab, motif tenun Lombok yang ia gunakan biasa dipakai untuk upacara keagamaan.

Alhasil, ia langsung menarik semua produk dari pasaran. “Rugi banyak banget, puluhan juta rupiah. Proses produksinya saja sampai dua bulan. Cuma saya sadar, kalau tidak ditarik nanti bakal mencoreng nama Miumosa,” tegas dia.

Berangkat dari pengalaman pahit itu, Anindya pun melakukan riset lebih mendalam lagi mengenai kain nusantara. Sejauh ini, ia sudah melempar tiga koleksi yang masing-masing kolaborasi menggunakan tenun Sumba, batik Jawa, dan batik Kalimantan Timur.

Harganya mulai Rp 800.000 hingga belasan juta rupiah sepasang. Yang harganya belasan juta rupiah merupakan edisi terbatas.

Karena pasarnya kelas atas, Anindya pun sampai masuk ke komunitas-komunitas kaum jetset. Ia juga bergabung ke arisan ibu-ibu sosialita.

Selain pembeli, “Dari sana, tahun lalu saya dapat undangan fashion show, meski bukan front row, ya, dari Anne Avantie,” imbuh dia yang mengaku keluar modal gede untuk bergabung di berbagai acara kaum jetset.

Pembeli sepatu Miumosa juga datang dari luar negeri terutama Timur Tengah dan Asia Tengah. Itu sebabnya, September 2018 lalu, Anindya ikut pameran mode di Baku, Azerbaijan. “Saya ingin Miumosa jadi brand sepatu high heels pertama dari Indonesia yang bisa menembus pasar global,” ujarnya.

Tahun ini, dia berencana meluncurkan koleksi baru dengan mengangkat batik Betawi. Kemudian, menjalankan strategi pemasaran digital, seperti memasang iklan di media sosial Facebook dan Instagram.

Sedang dalam jangka panjang, Anindya ingin punya butik sendiri. “Tapi, karena modalnya sangat besar, mungkin dalam waktu dekat saya akan menitipkan sepatu saya di butik-butik high end,” imbuhnya. (C-003/KNTN)***