Bisnis Tanaman Hias Keuntungannya Berlipat-lipat

184
Bisnis Tanaman Hias Keuntungannya Berlipat-lipat

  SEORANG pecinta sekali gus pedagang tanaman hias membeli satu pot keladi dari pedagang lain. Harga tanaman dari kelompok caladium berdaun hijau dengan bidang-bidang hitam di sekeliling permukaan daunnya itu hanya Rp 10.000. Ternyata tanaman itu terrmasuk dalam kelompok keladi tetapi sangat berbeda dengan jenis-jenis caladium lain. Tanaman itu sangat langka. Di pasar tanaman kelas tinggi, tanaman dengan dua daun, berharga antara Rp 300.000 – Rp 400.000.

    Penggemar tanaman lainnya, berburu tanaman liar ke hutan. Ia menemukan tumbuhan sangat aneh. Daun dan batangnya mirip keladi tetapi bunganya sangat indah. Ternyata tumbuhan liar itu merupakan salah satu jenis anggrek langka. Harganya, jangan ditanya lagi, bisa mendekati Rp 1 juta.

    Di Indonesia sangat banyak tumbuhan baik di hutan maupun di tepi sungai, dan kebun  yang kemudian, setelah dipelihara dengan baik, menjadi tanaman hias yang berharga mahal. Salah satu jenis tanaman yang diangkat dari tanaman liar itu kini tengah populer yakni keladi. Tanaman talas-talasan itu sekarang sudah mulai mendesak aglonema. Selain jenisnya banyak, bentuk dan warna daunnya beraneka macam, keladi-keladian (caladium) sangat mudah penanaman dan perawatannya. Di antara caladium yang sangat digandrungi para “maniak” nya, keladi baret, keladi wayang, keladi tengkorak hitam, keladi amazon, dan  keladi merah.

    Keladi-keladian mulai ngetren  menyusul aglonema dan janda bolong namun harganya jauh lebih murah dibanding kedua jenis tanaman tersebut. Keladi merah, misalnya, dijual secara online sekitar Rp 90.000 – Rp 100.000. Karena harganya terjangkau oleh penggemar tanaman kelas menengah ke bawah, keladi-keladian laku di pasaran. Harga keladi tisu yang berdaun putih dijual dengan harga hanya Rp 25.000. Keladi tree star antara Rp 25.000 – Rp 35.000 saja.

Baca Juga :   NYANYI SINGLE YANG NYELENEH MAWANG, DISERET KE PENGADILAN MUSIK

    Para pedagang tanaman hias, pada musim pandemi sekarang, benar-benar tengah panen. Para penggemar tanaman hias semakin banyak. Bukan hanya para ibu penghuni kompleks mewah, tetapi juga masyarakat kota di tengah perkampungan padat. Coba kita masuk ke gang-gang kecil di semua kota besar, di teras-teras rumah petak, penuh dengan tanaman hias. Tembok-tembok sempit, digantung beraneka macam tanaman gantung,  sejenis sirih-sirihan, gewor, dan sebagainya.

     Dulu pemerinrah dan para aktivis lingkungan meminta masyarakat mau memelihara lingkungan dengan bercocok tanam. Sekarang “didorong wabah corona” tanpa kampanye, masyarakat serempak memelihara tanaman di rumah masing-masing. Orang berbangga hati dengan tanaman yang memenuhi teras rumahnya. Banyak pula kalangan berduit, merasa gengsinya naik ketika di rumahnya penuh tanaman mahal, sejenis janda bolong impor, aglonema Thailand, dan lain-lain. Harganya dapat mencapai ratusan juta rupiah bahkan melebihi harga mobil komersial.

   Keadaan itu sangat menguntungkan berbagai kalangan. Aktivis lingkungan bergembira, lingkungan semakin hijau dan berwarna-warni. Petani beralih dari tanaman palawija ke tanaman hias karena keuntungannya berlipat ganda. Pedagang tanaman hias tersenyum simpul, tanaman dagangannya laku keras. Seorang pedagang tanaman yang biasa berjualan di kaki lima setiap hari libur, dapat membawa uang hasil penjualannya sampai dua juta rupiah. Di sebuah kota kecamatan, ada seorang muda usia, berhenti sebagai karyawan sebuah bank dan berjualan tanaman hias, di tepi jalan.

    Seperti yang pernah ditulis pada rubrik ini beberapa waktu lalu, perdagangan tanaman hias mampu menghidupkan perekonomian masyarakat. Peningkatan pasar tanaman hias terjadi hampir di semua daerah di Indonesia. Titik-titik produksi dan pusat-pusat penjualan tanaman hias berada di Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Manado, dan sebagainya. Perdagangan on dan off line semakin marak.

Baca Juga :   Pemekaran Daerah Untuk Apa dan untuk Siapa?

   Ternyata semua musibah yang dialami manusia, selalu disertai hikmah yang tidak diperkirakan sebelumnya. ***