Budaya dan Komitmen Perbankan Plat Merah Belum Beranjak Jauh 

7
Budaya dan Komitmen Perbankan Plat Merah Belum Beranjak Jauh

BISNIS BANDUNG— Pakar Koperasi dan UMKM, Prof.H.Rully Indrawan mengemukan akses pelaku usaha UMKM  terhadap sektor perbankan/perkreditan belum beranjak jauh walau pemerintah sudah memfasilitasi itu,  dan perbankan sangat hati-hati untuk menggelontorkan kredit.

Kendala utama yang dihadapi pelaku usaha umkm dalam mengakses perbankan/kredit yakni pada level bank pelaksana mulai dari level petugas hingga pimpinan. Budaya melayani/pelayanan belum berubah banyak. Terutama bank plat merah yang seharusnya peduli dengan keadaan dan berkomitmen kuat mendukung program yang diambil oleh pemerintah, tegasnya kepada Bisnis Bandung, Senin (3/5/2021) di Bandung.

Prof.H.Rully Indrawan  menyatakan, upaya yang harus dilakukan oleh UMKM agar dapat mengakses perbankan/perkereditan yakni  UMKM  harus memahami regulasi yang ada. Sedangkan bagu perbankan, OJK harus benar-benar memperbaiki kinerja layanan perbankan untuk UMKM  melalui mekanisme pengawasan yang tidak semata hanya untuk mengejar profit.

Dampak Covid 19 ini, 48 persen umkm hampir menghentikan kegiatan produksi, hal ini disebabkan pembiayaan. Kredit perbankan masih kecil yang digelontorkan ke umkm, belum mencapai 20 persen, sebagaimana ketentuan yang telah ditentukan/disepakati sebelumnya.  Saat ini UMKM  membutuhkan suntikan pembiayaan untuk menggerakan usahanya walau juga membutuhkan kepastian pasar, pungkasnya kepada BB.

Menurut Konsultan Pendamping UMKM Jabar, Sertifikasi SKKNI BNSP, Arief Yanto Rukmana, S.T., M.M,  akses pelaku usaha terhadap pembiayaan dari perbankan masih memiliki kendala, baik untuk mendapatkan pembiayaan maupun untuk mengembangkan usaha nya. Dari sisi pembiayaan masih banyak pelaku UMKM yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses kredit dari bank atau lembaga keuangan lainnya, baik karena kendala teknis, sebagai contoh tidak mempunyai/tidak cukup anggunan, maupun kendala non teknis misalnya keterbatasan akses informasi ke perbankan.

UMKM pada umumnya untuk jaminan ke bank menggunakan anggunan tanah dengan sertifikat hak milik pribadi dan ada kendaraan bermotor (mobil dan motor) dengan BPKB nya, namun sebagian juga ada yang menggunakan bangunan usaha dan mesin pabrik. Ini semua di lakukan untuk memperbesar usaha yg di geluti oleh pelaku usaha untuk menambah modal usahanya. Untuk tempo waktu pinjaman setiap program perbankan berbeda beda, ada yang jangka 6-12 bulan , namun ada juga yang lain kredit modal kerja dapat di panjang, Modal kerja menjadi sumber permodalan atau alternatif kredit yang digunakan untuk menambah dan menjadi modal awal dalam usaha. Untuk jenis permodalan ini biasanya memiliki jangka waktu 1 tahun dan dapat diperpanjang. Untuk mendapatkan permodalan bahkan dari nol sekalipun, sekarang bisa didapatkan melalui pinjaman dari bank atau leasing. Bahkan sejumlah bank mempunyai program khusus dalam memberikan kesempatan bagi UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) untuk mendapatkan bantuan permodalan. Sebagai contoh adalah bank BRI dengan programnya yang terkenal yaitu Teras BRI Nusantara. Melalui Teras BRI, bank BRI bahkan memiliki program dengan pendampingan untuk pengusaha UKM agar usaha yang dijalankan dapat berkembang lebih baik serta untuk menghindari adanya kredit macet. Kemampuan untuk mengembalikan pinjaman untuk UMKM, umum nya berjalan lancar karena sudah di lakukan assesmen dan survey serta pengkajian sebelum UMKM di berikan kredit. Namun beberapa memiliki permasalahan.

Arief Yanto yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Petatih Bisnis Nusantara itu menerangkan, resiko yang dihadapi ketika tidak mampu mengembalikan pinjaman/kredit, risiko pertama adalah mendapatkan pemberitahuan adanya keterlambatan pembayaran, selanjutnya Surat Peringatan dan langkah terakhir yakni Aset Akan di Sita.

“Jika surat pemberitahuan dan peringatan di atas diabaikan, maka bank terpaksa menyita aset yang kreditur miliki. Banyaknya aset yang disita tergantung dari total sisa utang yang seharusnya dibayarkan. Semakin besar sisanya, maka semakin banyak aset yang mungkin disita oleh pihak bank,” pungkasnya. (E-018)***