Budaya Mudik dan Ekonomi Rakyat

43
Malah Minta Diperketat

       MASIH dalam upaya pengendalian penyebaran Corona Vitus Disease 2019 (Covid-19) pemerinah, melalui Satgas Covid-19 menetapkan peniadaan mudk Lebaran 1442H. Semula larangan mudik itu berlaku seminggu sebelum  dan sesudah lebaran,  6 – 17 Mei 2021. Kemudian batas waktu itu diperanjang dengan dikeluarkannya addendium pembatansan mobilitas masyarakat.

      Addendum Surat Edaran Nomor 13 Tahub 2021 itu menetapkan, Pelaku Perjalanan Dalam Negeri (PPDN)  tidak boleh melakukan perjalanan mudik dari 22 April hingga 5 Mei (H – 7) dan H+7 (18 – 24 Mei). Namun larangan mudik dari tanggal  6  – 17 Mei tetap berlaku.  Adendum juga dilengkapi dengan peraturan yang berkaitan dengan moda angkutan. PPDN yang menggunakan pesawat udara atau kapal laut harus dapau memperlihatkan surat keterangan  hasil negatif rapid test atau hasil tes negatif GeNose C19 di bandara/pelabuhan laut.

      Terbitnya addendum tersebut dilatarbelakangi, kenyataan pemudik sudah mulai bergerak sejak awal April. Dikhawatirkan, sejak April hingga  Mei terjadi arus mudik yang membludak. Karena itu, seperti yang berlaku pada Iedulfitri tahun lalu, pemerintah meniadakan mudik Lebaran tahun ini.

       Dipastikan peratruran pelarangan mudik yang kemudian diperkuat dengan Addendum 2021, menimbulkan pro-kontra di maasyarakat. Banyak orang yang merasa pelarangan itu berlebihan di samping pendapat yang sebaliknya. Dari sisi pendapat yang pro, peraturan itu harus diterbitkan sebagai upaya mengurangi pandemi Covid-19. Arus mudik tanpa kendali akan berakibat terjadinya interaksi antarwarga. Mereka yang datang dari kota, dikhawatirkan  membawa serta corona. Penyebaran dan penularan Covid-19 akan mudah terjadi. Upaya memerangai pandemi akan terhambat. Jumlah penderita Covid19 akan terus bertambah.

        Dari sisi masyarakat yang kontra, pelarangan mudik itu merupakan pemengggalan kebiasaan turun temurun. Mereka berpendapat tradsisi mudik yang sudah jadi budaya masyarakat Indonesia itu, punya manfaat yang sangat besar, baik dari sisi sliaturahmi  maupun sisi eknomi.  Ekonomi masyarakat, baik di kota maupuin di perdesaan selalu tumbuh signifikan  meskipun terjadi secara musiman. Selain pasar  dan UMKM lainnya maupun usaha menengah ke atas, terkena pukulan keras dengan peratruran itu. Perusahaan yang mendapat pukulan berat itu antara lain perushaan angkutan umum. Bus yang biasanya “marema” dicarter para pemudik, kini tidak dapat berbuat banyak.

       Mudik merupakan momentum perpaduan total,kegiatan spiritual, kebuayaan, dan ekonomi. Karena itu mudik dijadikan ritual yang punya makna lahir dan batin.

Kebanggaan sebagai perantau, kesolehan warga desa, spirit saling berbagi, bergulung menjadi sebuah seni  yang bersifat katarsis. Segala beban hidup yang makin berat benar-benar dikuras habis.

       Semua itu dua Lebaran ini terkikis. Bangsa ini tidak dapat lagi menonton bahkan menjadi bagian dari pelaku pentas penuh makna di persawahan, gunung, dan sungai, di sana di perdesaan. Bangsa ini  kehilangan sari-sari silaturahmi dan pertemuan-pertemuan nostalgik. Semuanya terpapar corona virus diseases yang masih belum terusir dari bumi ini. (bahan  Bandung TV, Kompas, Tribune, INews, dan media lain).***