Bupati dan Wabup Selebritis Birokrasinya Masih Minim 

15
Bupati dan Wabup Selebritis Birokrasinya Masih Minim

BISNIS BANDUNG– Dosen Komunikasi Politik Pascasarjana UIN Bandung, Dr. H. Mahi M. Hikmat, M.Si menganalisis Pilkada Serentak 2020 di Jawa Barat sukses, kendati dalam bayang-bayang pandemi Covid-19.

Untuk menyajikan data yang tepat seharus berdasarkan data yang sudah ditetapkan KPU melalui real count. Namun, untuk sementara berdasarkan data dari sejumlah lembaga survey dan quick count, kendati meleset dari target sekitar 77% angka partisipasi, tetapi mendekati rata-rata sekitar 76%. Padahal diperkirakan dengan masa pandemi ini, partisipasi pemilih akan anjlok karena pemilih kondisi ketakutan terpapar korona, buktinya tidak atau hanya sekitar 1% meleset dari target.

“Saya menilai tingkat partisipasi pemilih untuk mencoblos dalam Pilkada Serentak 2020 cukup bagus, tidak sesuai dengan kekhawatiran selama ini. Selama ini kita khawati karena kondisi Pandemi Covis-19 para pemilih ketakutan datang ke TPS, sehingga angka pemilih akan turun drastis. Namun, faktanya tidak juga kendati ada kemerosotan, tetapi cukup rendah,”  katanya kepada Bisnis Bandung  pekan ini.

Akademisi UIN Bandung ini mengatakan, fenomena lama bahwa ada sebagian selebritis yang menang dalam Pilkada Serentak 2020, tetapi ada juga yang kalah. Jika kalah pun mereka menang selain faktor popularitas yang dimiliki mereka, masih banyak faktor lainnya, misalnya, faktor pasangan calonnya.

Yang menggembirakan, pemilih di Jawa Barat makin cerdas, mereka tidak hanya terjebak pada popularitas, tetapi juga pada kualitas calon. Kita lihat hanya selebritas yang berkualitas yang mampu menang dan kalau selebritis itu berhadapan dengan calon yang lebih berkualitas, pasti kalah.

“Sebetulnya menang atau kalah kan baru bisa ditentukan berdasarkan pengumuman dan data yang dimiliki KPU. Kita sebagai masyarakat, termasuk lembaga survey tidak dapat menyatakan bahwa pasangan calon tertentu memang atau kalah. Kita hanya dapat memprediksi berdasarkan data-data sementara yang disajikan oleh lembaga survey, misalnya, untuk sementara di Kabupaten Bandung, Sahrul Gunawan yang berpasangan dengan Dadang Supriatna diprediksi menang; Lucky Hakim di Kabupaten Indramayu yang berpasangan dengan Nina Agustina diprediksi menang, ” ucapnya.

Baca Juga :   Lelang Mobil Ferrari, Ini Harga Penawaran Minimalnya

Menurut  Mahi Hikmat, secara umum para selebritis yang menang cukup lumayan, tentu jika dibandingkan dengan selebriti lainnya juga. Namun, jika dibandingkan dengan calon secara keseluruhan, jelas kapasitas para selebritis yang menang masih standar, terutama terkait dengan pengalaman atau jam terbang dalam organisasi publik dan organisasi birokrasi, bahkan juga dari tingkat pendidikan.

Mereka masih harus banyak belajar dan  jika dilihat banyak selebritis yang serius belajar dan bisa sukses dalam pemerintahan sampai terpilih kembali dua periode. Lama tidaknya proses belajar, tentu tergantung motivasi yang mereka miliki, makin mereka termotivasi untuk mengabdi untuk negeri melalui jalur pemerintahan, mereka akan makin cepat belajar dan beradaftasi.

“Kalau secara keseluruhan dari selebritis yang manggung atau sempat manggung di pemerintahan, saya nilai masih belum memenuhi harapan. Memang ada sebagian yang sukses, tetapi lebih banyak yang tidak suksesnya, sehingga yang melihat pada publik terkait percalonan selebritis masih berkutat pada penilaian popularitas bukan kualitas. Selebritis dianggap dapat mendongkrak suara, tetapi tidak memberikan harapan banyak untuk dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemerintahan di daerah,” tuturnya.

Dewa Pakar ICMI Jabar ini menilai, satu kelebihan selebritis yang memiliki popularitas, mereka lebih cenderung dapat membangun komunikasi politik dengan pihak manapun. Kebiasaan mereka yang egaliter dan potensi mereka yang populer memudahkan mereka untuk berkomunikasi dengan level manapun. Sebetulmya, jika mereka memiliki kecerdasan, mereka dapat memanfaatkan itu untuk mendongkrak potensi daerah dengan memperkenalkan potensi daerah sekaligus membangun kerjasama dengan pihak lain.

Pekerjaan rumah yang harus dilaksanakan oleh kepala daerah/wakil yang terpilih (di Kabupaten Bandung/Depok/Indramayu), yang terdepan, mereka harus menjadi pahlawan pada saat pandemi Covid-19 ini. Mereka harus cepat memiliki program unggulan untuk menghadapi pandemi Covid-19, baik upaya menekan persebaran maupun menanggulangi dampak dari pandemic covd-19 ini.

Baca Juga :   Gubernur Kaji Untuk Gratiskan SMA Dan SMK Di JABAR

Kata Mahi Hikmat,  mereka harus cepat melakukan mapping potensi daerah dan mengembangkannya. Seluruh Kota dan Kabupatena di Jawa Barat sangat potensi untuk dikembangkan karena memiliki kekayaan yang luar biasa. Di situlah dibutuhkan kepala daerah yang jeli mengenali potensi dan cerdas mengembangkannya.  (E–018)***