Cara Pebisnis Salon dan Kuliner Bertahan?

91

MENJALANKAN bisnis di bidang jasa saat pandemik COVID-19 terasa sangat berat. Sekar, pemilik SCHATZ Salon & Rias Pengantin, tahu betul soal itu. Salon khusus untuk perempuan yang mempekerjakan 7 karyawan tetap dan 5 karyawan part-time itu terpuruk di tengah pandemik.

Di tengah physical distancing yang diterapkan pada masa ini, aneka perawatan dari ujung rambut hingga kaki yang jadi andalan salon ini jelas tidak bisa ditawarkan. Salon ini pun menyediakan galeri berisi busana pengantin, kebaya wisuda, dan pakaian adat anak.

“Biasanya di bulan puasa, usaha rias pengantinnya mengalami peningkatan omzet hingga 100 persen karena itu merupakan peak season untuk menikah,” tutur Sekar.

Namun, semuanya berbeda pada Ramadan tahun ini. Semua orang work from home, tidak boleh berkumpul dan menggelar resepsi. “Bisnis tidak semulus di tahun-tahun sebelumnya, malah mengalami penurunan drastis,” sambungnya.

  1. Dengan berat hati menutup salon

Akhirnya, dengan berat hati Sekar menutup salon di gedung tiga lantai tersebut. Dia juga membatalkan beberapa pelayanan rias pengantin sejak pertengahan Maret karena maraknya kasus COVID-19.

“Masih banyak yang menghubungi di media sosial ingin melakukan treatment, tapi saya mau mendukung pemerintah juga melindungi karyawan dan pelanggan,” ungkap berusia 35 tahun ini.

  1. Penghasilan bisnis kuliner turut menurun

Selain bisnis salon, Sekar juga memiliki SCHATZ Snack & Cookies. Nahasnya, pandemik menghajar segala lini usaha. Bisnis kue tersebut juga menurun omzetnya karena orang sudah mulai ketakutan membeli makanan yang diproduksi dan didistribusikan orang lain.

“Padahal di bulan puasa, biasanya orderan terbanyak,” ujarnya

Mantan bankir ini lantas putar otak mempertahankan dua lini bisnisnya. Dari berbagai literatur yang dibacanya, dia semakin sadar dia tidak bisa hanya mengandalakan promosi offline.  Dia sadar promosi harus lebih gencar di tengah kondisi sulit ini. Promosi online tentu lebih efektif di era digital.

Sekar pun belajar otodidak dengan melakukan promosi berbayar di media sosial, yang ternyata kurang efektif karena memakan biaya yang besar. Pencariannya yang tekun akhirnya berbuah hasil, dia menemukan cara dengan memanfaatkan fitur Google Ads dan Google Bisnisku.

“Hasilnya banyak pelanggan datang karena alamat tertera jelas, juga bisa melihat contoh riasan make up, dekorasi dan busana nikah di sana,” kata dia.

  1. Sekar kembali bangkit dengan mengikuti program Womenwill

Di bulan Maret, lanjutnya, Sekar mendapat informasi mengenai program Womenwill. Ia sangat tertarik meski akhirnya kelas dilakukan secara virtual karena peraturan pemerintah untuk social distancing. Hanya perlu meluangkan waktu satu jam, ia mendapatkan banyak ilmu mengenai memanfaatkan media sosial untuk bisnis, dan sisanya masih bisa ‘me time’ sambil tetap menjalankan kewajiban sebagai istri dan ibu di rumah.

Sekar pun langsung menerapkan ilmu yang didapatnya dari kelas virtual dengan mengubah jam operasional  dengan informasi ‘tutup sementara’. Ia juga melakukan hal yang sama dengan menginformasikan ke pelanggan di media sosial.

  1. Beralih ke penjualan produk kecantikan untuk mempertahankan bisnis

Untuk mempertahankan bisnisnya menjelang bulan Ramadan ini, Sekar beralih menjual produk untuk perawatan di rumah seperti shampoo, conditioner, serum, lulur, hair spa, cat rambut dan lainnya secara online.

Sekar juga menjadi aktif berbagi tips kecantikan di akun media sosial untuk tetap berkabar dengan pelanggan. Sedangkan untuk bisnis kulinernya, Sekar semakin giat berpromosi online, namun dengan standar kebersihan yang ditingkatkan. SCHATZ Snack & Cookies yang biasanya menjual kue lebaran juga menambah berjualan takjil dan jajan pasar di bulan puasa. (C-003)***