Catatan Perjalanan dari Anahiem California ke Alaska, Jok Motor jadi Bongkahan Es Batu

442

Melakukan perjalanan menggunakan sepeda motor sejauh kurang lebih 14.000 kilometer , membutuhkan stamina atau kekuatan fisik yang mumpuni , selain kekuatan mental. Saya bersama dokter Yacobus dan Shanto , masing-masing menggunakan ”kuda besi” Harley Davidson berselinder 1500 CC , pekan pertama September baru lalu memulai melakukan petualangan dari daerah pegunu­ngan Kota Anaheim California menuju Mesquite Nevada sejauh 343 mil ( kurang lebih 700 kilometer) di kota ini kami menginap semalam.

Keesokan harinya , petualangan berlanjut ke Rawlins Wyomimg menelusuri gunung batu dan hutan pinus , dengan jarak tempuh lebih dari 1.000 kilometer . Dari Rawlins Wyoming menuju Rapid City (South Dakota) . Di Rapid City menginap dua malam , sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke Montana .

Dalam perjalanan ke Montana , kami diterpa badai salju yang membuat gigi gemeretak. Hingga harus menurunkan kecepatan laju kendaraan yang dikendarai dengan sangat hati-hati . Saat melintas di daerah perdesaan (Williston North Dakota), kami harus melintasi jalanan tanah berbatu (country) kira-kira sejauh 200 kilometer .

Tidak hanya sebatas itu, kami juga terpaksa harus melanjutkan perjalanan di tengah hujan badai dengan laju kendaraan yang bisa dipacu antara 40 – 50 km/jam karena posisi kami berada di tengah hutan dan padang rumput yang jauh dari perkampungan penduduk (sangat jarang perkampungan) di daerah ini sangat tidak diperkenankan berhenti karena banyak satwa liar.

Tiba di sebuah kota kecil Plentywood (Negara Bagian Montana) sekitar pukul 02.00 dinihari . Di kota yang dikenal banyak binatang liar , seperti srigala dan beruang , kami menginap setelah melakukan perjalanan jauh yang cukup melelahkan.

Sejak memulai perjalanan dari Anahiem California sampai Plentywood sejauh ratusan kilometer, kami belum menyantap makanan pokok ”urang Jawa Barat” yakni nasi karena tidak ada yang menjualnya. Selama petualangan , kami makan chinese food , berupa sayuran dan semacam tahu , menghindari makanan berbahan daging .

Baca Juga :   KPU Umumkan Hasil Rikes Bapaslon Walikota Bandung

Pagi hari dari Plentywood, kami melanjutkan perjalanan menuju Moose Jaw . Lagi-lagi dalam perjalanan sejauh kurang lebih 300 kilometer , kami tidak bisa mempercepat laju motor karena melintasi jalanan tanah .

Di kota yang sudah masuk wilayah Kanada ini , kami rehat semalam , sebelum keesokan harinya menuju ke Prince Albert .

Dari Prince Albert diteruskan ke Big River wilayah perdesaan yang memilki suhu udara antara 9 – 10 derajat celsius , jaraknya sekira 520 kilometer dari Prince Albert. Berlanjut ke Fort Lake , kota kecil kira-kira sebanding de­ngan Kota Sumedang Jawa Barat. Selama di kota kecil yang memiliki suhu udara antara 3 – 5 derajat cilcius, saya mengantisipasinya de­ngan banyak makan vitamin, selain empat rangkap pakaian , mulai jaket kulit, rompi, sweeter dan lainnya, termasuk dua rangkap sarung tangan. Salju yang menempel di jok bagian belakang, membeku menjadi bongkahan es (jadi seperti penjual es batu).

Bison tiduran di ruas jalan
Namun suhu dingin , Alhamdulillah tidak sampai membekukan bahan bakar . Walau untuk menghidupkan mesin motor pada pagi hari agak susah. Selama berpetualang di wilayah Kanada , banyak melintas daerah pegunungan berisi pohon pinus dan padang rumput.
Umumnya penduduk perkampungan di Kanada bermatapencaharian pada sektor usaha agribisnis, petani jagung, kedelai dan buah-buahan. Warga perkampungan di Kanada , jumlahnya paling banyak sekira 1.000 orang , masih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah penduduk perkampungan di negeri kita.

Dari kota kecil Fort Lake , petualangan berlanjut menuju ke kota Dawson Creek (Negara Bagian British Columbia) sejauh 766 kilometer dengan waktu tempuh sekira enam jam. Dengan laju kecepatan kendaraan yang diperbolehkan maksimal 120 km/jam .

Setelah menginap di Dawson Creek, berpe­tualang menggunakan sepeda motor mengarah ke Fort Nelson, menyebrang menggunakan kapal ferry, diteruskan ke kota Tood Driver (790 km) , daerah pegunungan salju dengan suhu udara 1- 4 derajat celsius, bahkan tiupun angin bisa menjadikan suhu udara minus 1 derajat celsius yang meresap sampai ke tulang , walau sudah menggunakan beberapa rangkap pakaian.

Baca Juga :   Penataan Ruang Harus Sinergis

Beristirahat di kota Muncho Lake BC , kemudian menuju kota Beaver Creek Yukon sejauh 1.156 kilometer . Perjalanan menuju Beaver Creek Yukon melewati hutan yang menjadi habitat beruang dan bison. Tidak jarang , kita harus menghentikan kendaraan atau menurunkan laju kecepatan , karena di tengah jalan ada bison atau beruang yang sedang tiduran atau binatang tersebut sedang melintasi jalan. Namun keberadaan satwa liar yang tiduran di ruas jalan menjadi sebuah hiburan tersendiri , menjadi obat rasa lelah kami bertiga .

Di beberapa kota yang saya lalui dan singgahi dengan ruas jalan yang lebar dan disiplin pengemudi , bukan kemacetan lalu lintas kendaraan yang menjadi penghambat. Tapi keberadaan satwa liar yang tiduran di ruas jalan. Perjalanan selanjutnya dari Beaver Creek menuju Fairbanks Alaska sejauh 479 kilometer di tengah hujan deras dengan suhu udara minus 2 derajat celsius .

Di daerah ini , lagi-lagi jok motor jadi bongkahan es batu. Sesampai di kilometer 0 kota Fairbanks , perjalanan dihentikan selama dua hari karena cuaca buruk yang tidak memungkinkan perjalanan dilanjutkan. Setelah dua hari berada di Fairbanks , berlanjut ke Anchorage Alaska sejauh 542 kilometer .

Kota paling ujung di Alaska ini dikelilingi gunung es dan danau dengan jumlah penduduk sangat sedikit. Anchorage merupakan kota pertambangan yang menjadi matapencaharian penduduknya .

Di daerah yang memiliki udara bersih ini, kami beristirahat selama dua hari dan bisa makan nasi , karena banyak rumah makan milik orang Fhilipina dan Thailand.

Kota Anchorage , menjadi kota terakhir yang kami kunjungi dan kembali ke Beaver Creek dengan waktu tempuh selama 10 jam, empat kali berhenti untuk mengisi BBM dan singgah di rumah makan.

Dari Beaver Creek menuju Seatle Washington , mungkin perjalanan paling jauh yang kami tempuh, kurang lebih sejauh 2.994 kilometer , di sini menginap selama 3 hari. 8 Oktober 2017 , kami kembali ke Indonesia dari San Fransisco . (Dudi Suhandi ) ***

Baca Juga :   Pemartabatan Bahasa Negara di Kabupaten Tasikmalaya