COVID DAN MASA DEPAN PENDIDIKAN

225
MASA DEPAN PENDIDIKAN

AKHIRNYA banyak orangtua murid yang protes dan meminta sekolah segera dibuka kembali. Anak-anak mereka dapat kembali belajar di kelas, berinteraksi sesama murid dan bertatap muka dengan guru. Rata-rata mereka mengeluh, anak-anaknya semakin malas belajar. Banyak yang memilih bermain di luar rumah, berdiam diri di rumah, tanpa membuka buku pelajaran.

Menurut para orangtua, masa depan pendidikan Indonesia semakin tidak jelas bahkan menuju ke kegelapan apabila tidak ada perubahan kebijakan. Apalagi bagi rakyat kecil yang miskin,”kata Ibu Rosti orang Kebonkawung, Bandung. “Orang miskin tidak mungkin harus membimbing anak-anaknya belajar secara online. Banyak di antaranmya yang sama sekali buta teknologi komunikasi. HP saja tidak punya. Pemilik HP harus mengisi pulsa/kuota. Bagi mereka uang Rp 25.000 tiap hari mengisi kuota, dirasakan sangat mahal.”

Dilihat dari kenyataan itu, makin hari makin banyak anak didik yang tertinggal. Ilmu penmgetahuan yang diajarkan di sekolah, samasekali tidak mereka kuasai. “Karena itu, apapun risikonya, sekolah harus cepat-cepat dibuka,”kata Bu Rosti lagi.

Itulah keinginan sebagian rakyat yang tentu saja menghadapkan pemerintah kepada persimpangan jalan. Problematika yang amat dilematis dan dikotomis. Dua pilihan yang amat sulit. Tidak segera dibuka, terjadi desakan sebagian rakyat dan betul belajar di rumah tidak efektif dan efisien. Jauh dari peningkatan mutu pendidikan. Masa depan bangsa kita samar bahkan gelap.

Apabila pemerintah mengambil keputusan membuka kembali sekolah, penyebaran Covid-19 akan sangat cepat meluas. Indonesia akan berada pada zona merah sangat panjang, baik wilayah penyebaran maupun waktu epidemi.

Pemerintah tidak dapat terus berpikir dalam waktu cukup lama. Desakan sebagian rakyat perlu segera dijawab secara terbuka dengan argumentasi dan bukti yang transparan. Keputusan tetap memberlakukan pendidikan di rumah, juga harus terus disosialisaikan secara lebih terbuka. Namun tidak cukup hanya dengan penerangan saja, harus ditemukan solusi yang terbaik.

Apabila jalan kedua yang diambil, sebaiknya beban masyarakat bawah segera dipenuhi secara merata. Belajar di rumah membutuhkan hape sedikit canggih yang mampu mengakses internet. Sediakan HP tersebut oleh sekolah. Pihak sekolahlah yang mendata kemudian menngajukan kebutuhan anggarannya.  Selain itu akses terhadap internet tersedia secara cuma-cuma. Melalui Telkom, sediakanlah Wi-Fi di ruang-ruang publik, misalnya di mesjid, pos RT, dan sebagainya. Semua warga dapat menggunakan jalur Wi-Fi itu secara gratis. Hal itu pernah dilakukan Pemerintah Kota Bandung, namun tidak jalan. Sekarang tinggal petunjuknya saja, tanpa terminal dan pesawatnya pun  yang tidak jalan.

Mau ke mana kita sekarang? ***