Daerah Kerepotan Pekerja Migran Kembali ke Tanah Air

9
Daerah Kerepotan Pekerja Migran Kembali ke Tanah Air

BISNIS BANDUNG– Pekerja migran Indonesia  yang kembali  ke tanah air akibat dampak pandemi Covid 19 ini mencapai lebih dari 10.0000 orang.  Mereka berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Lampung dan Sumatera Utara.  Artinya  beberapa persoalan akan lebih dirasakan di wilayah wilayah provinsi  tersebut.

“Persoalannya adalah apakah pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan bantuan sosial bagi yang terdampak covit-19 dipandang efektif atau tidak? Jawabannya tentu dalam keadaan Force majeure kebijakan tersebut dianggap cukup,” ujar akademisi  Departemen Kesejahteraan Sosial Fisif Unpad Bandung. Dr.Hadiyanto. S.Sos.M.I Kom  kerpada Bisnis Bandung, Senin (8/3/2021).

Menurut  Hadiyanto,  satu solusi yang dapat dilakukan yakni dengan cara melibatkan mereka yang memiliki usia produktif dan relatif sangat besar jumlahnya di Indonesia terlibat dalam kegiatan kegiatan produktif, sehingga dapat memberikan penghasilan bagi mereka dan juga dapat meningkatkan daya beli mereka. Inilah yang disebut dengan program padat karya dalam kegiatan pembangunan.

Pemerintah sudah saatnya melibatkan  masyarakat yang langsung terdampak covid-19 yang memiliki skill dan pendidikan memadai bisa dilibatkan dalam project-project pemerintah, sementara cara untuk warga yang yang tidak memiliki keterampilan dan pendidikan memadai pemerintah wajib mempromosikan program-program pelatihan dalam rangka meningkatkan pendidikan teknis dan skills mereka untuk kemudian nantinya ketika keadaan sudah pulih mereka dapat bersaing dalam dunia kerja .

Dia mengingatkan  Indonesia termasuk negara yang memiliki bonus demografi yang cukup tinggi, namun demikian apabila kondisi ini tidak dapat di menej secara baik, maka akan berdampak buruk bagi kehidupan perekonomian bangsa Indonesia. Akan tetapi jika dapat di manej secara baik maka akan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang saat ini ini mengalami keterpurukan signifikan akibat covid-19.

Diketahui,  data yang dirilis oleh Biro Pusat Statistik bahwa penduduk Indonesia pada tahun 2020 itu sekitar 270 juta jiwa, jumlah tersebut di masa pandemi mengalami sedikit pengurangan laju pertumbuhan penduduk. Berbagai faktor tentu telah mempengaruhinya di  antaranya adalah masalah migrasi penduduk. Berdasarkan data migrasi penduduk dari kota ke desa itu lebih sedikit dibanding dari desa ke kota saat ini.

Proporsinya penduduk kota mencapai 54% dan selebihnya berada di desa-desa sekitar 46%, sehingga jika terjadi migrasi dari kota ke desa akibat pandemic covid-19, sesungguhnya tidak terlalu berdampak serius, karena faktor kehidupan di kota masih lebih menjanjikan dari sisi ekonomi daripada di desa.

Menurut  Hadiyanto, perubahan tersebut tidaklah terlalu signifikan, sehingga tidak memberikan dampak untuk memberikan sumbangan beban bagi desa. Secara umum, di Indonesia angka dependency ratio saat ini yaitu sekitar 46, berarti dari 100 orang usia produktif menanggung 46 orang yang usia non produktif yaitu dari 0 sampai 15 tahun dan di atas 65 tahun.

“Kendati demikian migrasi penduduk dari kota ke desa akibat pandemi covid 19 ini tetap harus menjadi perhatian karena secara potensial dampak  ini telah melahirkan angka kemiskinan baru di masyarakat,” ucapnya.

Berdasarkan data Biro Pusat Statistik pada tahun 2020, akibat pandemi Angka kemiskinan mengalami peningkatan hampir 10% dari jumlah sebelumnya yaitu sekitar 25 juta orang sehingga saat ini ini diprediksi jumlah penduduk miskin di Indonesia sekitar 27 Juta jiwa. Fenomena angka kemiskinan baru ini diperlihatkan dengan meningkatnya bantuan bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah saat ini terutama bagi mereka yang langsung terdampak covid-19 diantaranya adalah para pekerja yang di PHK.(E-018)***