Dalam Gelar Perkara Oleh Bareskrim Polri Dua Jenderal Polisi Jadi Tersangka Penerima Suap

64

BISNIS BANDUNG – Mantan Kadivhubinter Irjen Pol Napoleon Bonaparte dan eks Karo Korwas PPNS Bareskrim Polri Brigjen Prasetijo Utomo ditetapkan sebagai tersangka kasus penghapusan red notice Djoko Tjandra. Dua jenderal polisi ini, terseret pusaran kasus Djoko Tjandra, buronan selama 11 tahun yang sudah tertangkap Bareskrim Polri beberapa waktu lalu di Kualalumpur Malaysia.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono menyebutkan, penetapan tersebut berdasarkan hasil gelar perkara yang dilakukan penyidik, Jumat (14/8).Dalam perkara ini penyidik juga menetapkan Djoko Tjandra sebagai tersangka yang diduga sebagai pihak yang memberikan janji atau hadiah.

“Untuk penetapan tersangka tersebut ada dua selaku pemberi dan selaku penerima. Untuk pelaku pemberi  kita tetapkan tersangkanya Djoko Tjandra,” kata Argo di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (14/8). Sedangkan Napoleon dan Prasetijo diduga sebagai pihak penerima janji dan hadiah. “Selaku penerima adalah saudara PU dan yang kedua yaitu  NB,” ujar Argo menjelaskan.

Sebelumnya, setelah terungkap adanya surat jalan untuk Djoko Tjandra, tersiar kabar jika Divisi Hubungan Internasional Polri menerbitkan surat penghapusan red notice. Surat tersebut tercatat bernomor B/186/V/2020/NCB.Div.HI tertanggal 5 Mei 2020, ditandatangani oleh Sekretaris NCB Interpol Indonesia Brigjen Pol Nugroho Wibowo.

Terkait kasus ini, Kapolri Jenderal Pol Idham Azis mengambil langkah tegas kepada bawahannya. Setelah mencopot jabatan Brigjen Prasetijo Utomo karena menerbitkan surat jalan, pencopotan juga dilakukan di Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter).

Melalui Surat Telegram Nomor ST/2076/VII/KEP./2020 tertanggal 17 Juli 2020, yang ditandangani oleh As SDM Kapolri Irjen Pol Sutrisno Yudi Hermawan, Kadivhubinter Irjen Pol Napoleon Bonaparte dimutasikan menjadi Analis Kebijakan Itwasum Polri. Posisinya digantikan oleh Brigjen Pol Johanis Asadoma yang saat ini menjabat sebagai Wakapolda Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bisa jadi saksi

Sementara Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) mendatangi Bareskrim Polri untuk menyampaikan masukan kepada polisi terkait siapa yang bisa dijadikan saksi dalam kasus surat jalan palsu Joko Tjandra.

“Saya sudah menyampaikan surat ke kabareskrim melalui staf tata usaha,” tutur Koordinator MAKI Boyamin Saiman, di Mabes Polri, Senin awal pekan ini.

Boyamin menyebutkan, ada beberapa saksi yang bisa diperiksa yang terkait dengan tersangka Brigjen Prasetijo Utomo dan Anita Kolopaking  yang terkait dengan kasus Joko Tjandra.

Saksi itu antara lain Tommy Sumardi yang diduga meminta Prasetijo untuk diperkenalkan dengan pejabat di Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Mabes Polri yang membawahi NCB Interpol Indonesia.

 “IMenurut informasi, Tommy mempunyai anak perempuan yang bertunangan dengan anak dari Mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak,” ucap Boyamin.

Saksi lain yang disebut MAKI adalah rekan kerja Joko Tjandra bernama Vlady. Pria yang diduga keberadaannya di Bali diduga terbang dari Jakarta ke Pontianak pada 22 Juni khusus untuk menemui sang Joker (julukan Joko Tjandra)..

Kemudian saksi lainnya adalah Jaksa  Pinangki Sirna Malasari yang diduga mengenalkan Anita dengan Joko. “Selain itu, Pinangki juga ikut terbang dua kali untuk bertemu dengan Joko ke Kuala Lumpur pada 12 November dan 25 November 2019,” ujar Boyamin. (B-003) ***