Daya Tahan Ekonomi Petani Terkuat

48
Malah Minta Diperketat

      PADA Triwulan I!I 2020 perekonmian, baik domestik maupun global, diprediksi akan sedikit membaik dibanding ttriwulan sebelumnya. Hampir semua sektor penunjang perekonomian nasional, termasuk Jawa Barat, mengalami  kontraksi sangat dalam. Andalan Jabar berupa industri pengolahan, justru mengalami kontraksi paling dalam pada Triwulan II 2020. Kinerja industri pengolahan terjun bebas akibat Covid-19.  Selain impor bahan baku yang hampir tertutup, hasil industri tidak dapat masuk jalur ekspor. Sedangkan pasar dalam negeri melemah akibat belanja konsumen terus menurun.

      Dari semua sektor penunjang pertumbuhan ekonomi di jabar, ternyata sektor pertanian menjadi “pahlawan” ketahanan ekonomi Jabar. Dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, justru petani memiliki daya tahan paling kuat. Panen raya padi dan hortikultura yang hampifr bersamaan dengan hasil yang melimpah, menjadi “bekal”warga Jabar dalam mengakhiri tahun pahit 2020.

      Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan bukan hanya bertahan tetapi justru pada Triwulan III kinerja pertanian  meningkat. Hasil panen raya pada April dan Mei 2020 mencapai 3.699.684 ton gabah kering giling. Luas panen juga meningkat menjadi 658.130 ha. Hasil panen hortikultura seperti cabai, tomat, cabe rawit, juga menigkat tajam. Buah-buahan, seperti mangga, papaya, nenas, anggur dan apel lokal, memenuhi pasar buah-buahan. Selain buah-buahan hasil panen lokal, Jabar juiga dipadati buah-buahan Jatim dan Bali.

        Daya serap konsumen terhadap hasil pertanian tampak lebih bergairah. Bantuan pemerintah secara langsung kepada para individu masyarakat, mampu meningkatkan belanja konsumsi. Banyak warga yang memiliki uang berupa bantuan sosial. Dampaknya, daya serap pasar terhadap hasil pertnian (termasuk tanaman hias) terus meningkat. Banyak petani yang kini beralih dari tanaman pangan ke tanaman hias dan  buah-buahan. Subsektor pertanian tanaman hias mengalami booming yang semakin bergairah. Dalam masa pandemi, banyak sekali warga yang melaksanakan hobinya memelihara tanaman hias. Buah-buahan, dan bahkan burung peliharaan.

        Dunia hobi yang berkaitan dengan pertanian dan peternakan, mendorong meningkatnya pendapatan petani dan pedagang. Hal itu dapat digunakan sebagai indicator tumbuhnhya kegairahan pasar. Perputaran uang di Jabar pada Triwulan III memperlihatkan kecenderungan terus meningkat. Apalagi bila pemerintrah dan masyarakat  bertidak kendur dalam menanggulangi mewabahnya Covid-19.

        Berjangkitnya Covid-19 yang justru semakin meningkat di beberapa tempat di Jabar,  berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi. Meningklatnya sikap emosional masyarakat, merupakan salah satu gejala psikologis akibat pandemi. Korban PHK, bekerja dari rumah, para siswa dan mahasiswa yang terus menetruis berada di rumah, mobilitas yang terhambat, peekonomian yang terjerembab, menimbulkan perubahan sikap sebagian masyarakat.  Perubahan itu menuju ke arah yang nagatif, seperti kerusuhan, paranoid, dan lain-lain. Untung, masih banyak warga yang menyalurkan emosinya ke arah lebih positif seperti menyalurlam hobi memelihara tanaman, burung, memancing,  turing/traveling, dan sebagainya.

       Di Jabar, banyak pembangunan yang tertunda adapat segera terselesdaikan. Di Jabar, beberapa proyek strategis yang terjadwal ulang, antara lain, Tol Cisundawu seksi 3 (Sumedang-Cimalaka) yang renacana selesai Maret 2020,dijadwalkan lagi. Tol Depok-Antasari seharusnya selesai April 2020, tertunda. Tol Cibitunmg-Clincing dijadwalkan selesai Juni 2020, juga ditunda. Tol Cinwere-Serpong direbncanakan selesai Juni 2020, tidak tercapai.

        Diharapkan, perubahan  ke arah normal-baru, sejalan dengan makin memudarnya serangan Covid-19. (bahan: Lapopran Perekonomia Jabar/BI) ***