Dendam Politik Para Oligarki Pendukung Ahok ? Dikemas Dengan Kasus Hukum

32

BISNIS BANDUNG – Terdakwa Rizieq Shihab menilai berbagai kasus pidana yang menjeratnya usai tiba dari Arab Saudi ke Indonesia  adalah kasus politik yang dikemas sebagai kasus hukum. Hal itu dikemukakan Rizieq saat membacakan pleidoi kasus kerumunan Petamburan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (20/5/21). Ia menilai jerat hukum tersebut tak lepas dari dendam politik para oligarki pendukung Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok usai kalah di Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu.

“Saya semakin percaya dan yakin bahwa ini adalah kasus politik yang dibungkus dan dikemas dengan kasus hukum, sehingga hukum hanya menjadi alat legalisasi dan justifikasi untuk memenuhi dendam politik oligarki terhadap saya dan kawan-kawan,” kata Rizieq di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (20/5).

Rizieq menganggap semua kasus yang menjeratnya kini tak bisa dilepaskan dari rentetan Aksi Bela Islam 411 dan 212 yang digelar pada akhir 2016 lalu. Kala itu massa menuntut Ahok yang diduga telah mendustakan agama untuk diadili dan dijebloskan ke penjara.

Kemudian setelah itu,  dirinya dan kawan-kawan diklaim menjadi target kriminalisasi sepanjang Tahun 2017. Dijadikan target operasi intelijen hitam berskala besar karena banyak rekayasa kasus dihadapkan kepadanya. Kekalahan Ahok di Pilkada, lanjut Rizieq membuat para oligarki dan gerombolan pendukungnya  murka dan marah besar. Akibatnya, eskalasi politik semakin memanas dan masyarakat di akar rumput juga semakin terbelah, sehingga di mana-mana rawan bentrok antar pendukung.

Dikemukakan Rizieq , bahwa Ahok yang maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta kala itu dituding didukung oleh para oligarki. Oligarki itu, sukses menggalang dukungan mulai dari Presiden, aparat keamanan, ASN di Ibu Kota Jakarta untuk memilih Ahok.

“Belum lagi penerbitan fatwa-fatwa sesat dan menyesatkan dari ulama gadungan yang mendukung Ahok dengan memutar-balikkan ayat dan hadis serta memanipulasi hujjah dan korupsi dalil, di samping itu juga ada siraman dana besar-besaran dari para cukong,” ungkap Rizieq.

Baca Juga :   Pesat: "Larangan Penjualan Minyak Goreng Curah Terindikasi Diintervensi

Tak hanya itu,lanjut Rizieq , operasi intelijen hitam telah menebar aneka ragam teror dan intimidasi terhadap dirinya dan rekan-rekannya. Dicontohkan adanya pelemparan Bom Molotov ke beberapa Posko FPI hingga penembakan kamar pribadinya di pesantren Markaz Syariah Megamendung Bogor.

“Serta peledakan bom mobil di acara Tabligh Akbar saya di Cawang Jakarta, juga pengepungan dan pengeroyokan serta percobaan pembunuhan terhadap saya dan kawan-kawan oleh Gerombolan Preman GMBI depan Mapolda Jawa Barat,” kata Rizieq.

Kemudian, setelah kembali dari Mekkah, Rizieq langsung diproses hukum terkait kasus kerumunan abai protokol kesehatan. Menurutnya, proses hukum yang dikenakan kepadanya tak lepas dari dendam politik, tidak murni hukum.

Dalam kesempatan itu, dia meminta agar bebas murni dari segala tuntutan di kasus kerumunan Petamburan dan Megamendung. Rizieq sudah membayar denda Rp50 juta, sehingga merasa tidak bisa dikenakan hukum pidana.

Jaksa menuntut Rizieq dengan hukuman penjara selama dua tahun di kasus kerumunan Petamburan. Selaindilarang untuk bergabung menjadi pengurus ormas selama tiga tahun akibat perkara tersebut. (B-003) ***