Di Perkotaan Gunakan Kartu Kredit Warga Perdesaan Membayar Tunai

298

BISNIS BANDUNG – Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Pengu- saha Ritel Indonesia Jawa Barat, H. Hendarta, SH., MM mengemukakan, imbauan Bank Indonesia kepada masyarakat untuk melakukan pembayaran/transaksi nontunai di pasar swalayan dapat menggunakan debit card atau credit card dari bank manapun.

Dikemukakan Hendarta, kecenderu­ngan masyarakat perkotaan bertransaksi di outlet-outlet/toko mempergunakan non tunai mulai tampak. Di kota kota besar sistem pembayaran nontunai sudah cukup “familiar” dan lazim dipergunakan, sementara untuk masyarakat yang berada di daerah mereka masih banyak yang bertransaksi di pasar swalayan dengan membayar secara tunai.

”Pengguna kartu kredit/debit dipertokoan sudah mencapai 20%-25%,”ungkap Hendarta, Selasa (7/11/17) di Bandung. Pembayaran/transaksi nontunai di pasar swalayan, lanjut Hendarta , memang ada “minimal transaksi”, sehingga masyarakat konsumen dalam bertransaksi/belanja yang besarannya di bawah Rp 50.000, biasanya membayar dengan uang cash.

Mengenai segmen mana yang banyak menggunakan “debit card” atau “credit card”, masing-masing toko anggota Aprindo punya pasar dari pelbagai segmen mulai C, B sampai A, mereka pu­nya tempat belanja sendiri, demikian juga dengan penggunaan alat bayarnya.
“Tren pembayaran nontunai dari waktu ke waktu cenderung terus mengalami peningkatan, masyarakat urban/modern merasa sistem pembayaran nontunai menjadi pilihan .
Dikemukakan Hendarta, masyarakat bisa memilih, bertransaksi dengan debit card atau credit card, apabila ada penawaran yang menarik dari bank penerbit, dan konsumen memanfaatkan tawaran tersebut.

Mengenai barang yang dibeli di supermarket begitu beragam, mulai kebutuhan sehari-hari sampai pakaian, tergantung kebutuhan konsumen, belanja mingguan dan bulanan biasanya nilainya cukup besar, sehingga penggunaan kartu kredit menjadi pilihan masyarakat di perkotaan. “Namun demikian, masih ada masyarakat kita yang bertransaksi/belanja membayar secara tunai,” ujar Hendarta.

Lebih lanjut dikemukakan Hendarta , sebagai pelaku usaha (toko) sistem pembayaran non tunai (debit/credit card) adalah keniscayaan, pelaku usaha harus menyediakan layanan tersebut, karena pembayaran seperti itu juga bagian dari life style masyarakat urban.
Berbicara infrastruktur/mesin EDC (Electronic Data Capture) sudah begitu memadai disiapkan oleh bank penerbit kartu, termasuk line telephone dan satelit di masing-masing riteler sebagai pendukung kelancaran dari transaksi di toko.

“Ya tren sekarang seperti payment di tol gate, sudah dengan e-money, namun di supermarket belum sampai kesana, apalagi masyarakat yang berada di daerah lebih banyak dan biasa dengan sistem pembayaran konvensional, membawa uang tunai tatkala mereka berbelanja,” pungkas Hendarta. (E-018)***