DIBANTU, BUKAN DIMUSUHI

55

Dikucilkan, sungguh merupakan hukuman paling berat dibandingklam dengan hukuman pidana sekalipun. Pengucilan yang dilakukan masyarakat terhadap  keluarga penderita covid-19, merupakan hukuman sosial yang aneh dan menyedihkan.

Ketika seseorang diketahui pernah berhubungan dengan orang yang diduga (suspect) terpapar corona, masyarakat yang tinggal di sekitar orang itu, serta merta  menjauhinya. Para tetangga mencap orang itu sudah benar-benar terkena virus corona. Mereka meminta orang itu diam di rumah bahkan pergi ke tempat jauh. Mereka takut orang itu sebagai pembawa virus yang akan menyebarkannya kepada orang lain, para tetangga dan kerabat dekat. Orang itu benar-benar tersandera hanya karena dugaan korban wabah mematikan.

Tentu saja stigma itu menjadi  beban sangat berat bagi keluarga itu. Semua orang dirasakannya menjauhinya. Tidak pernah lagi mau bertegur sapa apalagi memberi bantuan alih-alih doa tulus, keluarga itu segera terbebas dari penderitaannya. Apalagi bila di lingkungannya benar-benar ada orang meninggal atau harus menjalani isolasi, hukuman yang dijatuhkan masyarakat sungguh berat Keluarga itu diminta meninggalkan rumahnya. Bahkan jenazah penderita covid-19, ditolak dimakamkan di permakaman yang dekat dengan lingkungan masyarakat. Masyarakat di sebuah desa sampai menutup jalan masuk ke permakaman dengan memasang pohon dan reranting kayu. Azab seberat apa lagi selain orang meninggal tidak boleh dikuburkan? Bukankah pemulasaraan jenazah sampai pemakamannya merupakan kewajiban orang hidup?

Jenazah dan keluarga penderita covid-19 bukan sosok yang harus mendapat hukuman sosial atau mendapat stigmatis seperti itu. Mereka bukan orang-orang pendosa yang harus dimusuhi atau dikucilkan. Mereka terpapar corona bukan atas kemauannya. Ada yang tidak begitu paham apa dan bagaimana corona itu, tidak tahu harus bagaimana mengatasinya, bagaimana melaksanakan isolasi mandiri itu? Banyak yang tidak tahu, jenazah penderita covid-19 itu sudah dijamin aman, tidak mungkin menularkan penyakitnya. Pemulasaraan jenazah dilakukan secara profesional dan sesuai kaidah agama. Jenazah dilindungi dengan kain kafan dan plastik. Peti jenazah yang juga dilapisi plastik. Penguburannya juga dilakukan oleh pemulasara mayat di rumah sakit yang mengenakan alat pelindung badan (APB) lengkap.

Stigma yang ditempekan masyarakat terhadap penderita covid 19 beserta keluarganya, sungguh di luar nalar sosial dan kemanusiaan. Boleh, bahkan diwajibkan, masyarakat melaklukan pembatasan sosial, memelihara jarak sedikitnya 1 – 2 meter tetapi bukan berarti memutus silaturahmi. Silakan berkomuniaksi, baik melalui telepon, w-a, dalam grup. Saling tegut sapa, saling mendoakan atau sekadar say hallo.  Tidak  mungkin terjadi penularan corona lewat hape. Sebaliknya orang yang diduga tertulari covid-19, segera berkonsultasi terhadap dokter, minta nasihat kepada tetangga, menuruti aturan pemerintah. Mohon maaf kepada kerabat dan tetangga, ia akan mengisolasi diri dan minta didoakan agar terbebas dari terpaan corona.

Berperang melawan corona bukan harus berhadap-hadapan secara konfrontatif. Masyarakat awam tidak punya senjata dan teknik melumpuhkan corona, secara strategis, masyarakat dapat menghindar dari serangan musuh. Menghindar dari paparan corona, salah satu strateginya, melakukan pembatasan sosial, baik dalam ukuran  kecil maupun berskala besar.

Penderita covid-19 bukan musuh masyarakat. Mereka merupakan kerabat kita yang membutuhkan bantuan, butuh teman bercengkrama. Doakanlah mereka segera sembuh. Virus corona segera hilang dari muka bumi ini. ***