Dilema Pedagang Ponsel Kala Pandemi Covid-19 Melanda

69

WABAH virus corona SARS-Cov-2 telah menjalar ke puluhan negara, termasuk ke Indonesia. Maka dari itu, pemerintah meminta kepada masyarakat untuk tinggal di rumah demi menekan penyebaran Covid-19 agar tak semakin masif.

Pemerintah sampai saat ini pun tidak mengeluarkan instruksi lockdown. Sebab, jika kebijakan ini diterapkan, maka bakal mengganggu arus ekonomi Indonesia.

Pandemi ini juga membuat beberapa mall tutup khususnya di Jakarta. Ali (40), pedagang ponsel di salah satu mall di Jakarta Timur merasakan imbas dari kebijakan pemerintah untuk berdiam diri di rumah.

Meskipun Mall Tamini Square tempatnya berjualan tidak ditutup, tetapi pengunjung mall semakin hari, semakin berkurang karena memilih menetap di rumah.

Saat dihubungi wartawan pada Selasa (25/3), Ali mengatakan tokonya jadi sepi pembeli karena wabah virus corona SARS-Cov-2.

“Iya mba, toko saya jadi sepi karena corona tetapi kami pedagang ponsel di sini tidak bisa berbuat apa-apa, pemerintah buat kebijakan seperti itu ya sebisa mungkin masyarakat mesti manut,” kata dia.

Namun, Ali tak mau menyebutkan secara pasti angka omzet (pendapatan) tokonya sebelum wabah virus corona dan setelah virus masuk ke Indonesia.

“Kira-kira setelah lebih dari seminggu ini, turun 50 persen. Saya belum hitung pastinya berapa, tapi saya yakin rejeki tidak kemana,” tutur Ali.

Akibat wabah virus corona, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat naik sekitar Rp16 ribuan, saat ditanya apakah punya rencana untuk menaikkan harga ponsel, Ali menuturkan dirinya enggan mematok harga tinggi.

Sebab menurut dia, masyarakat saat ini sudah terbebani dengan pengeluaran untuk membeli alat bahkan obat demi melindungi diri dari virus corona.

“Saya enggak mau sembarangan naikkin harga, kasihan nanti pembeli. Mungkin mereka sudah mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk beli masker, hand sanitizer lalu obat-obatan untuk tambah imun. Malah kalau saya naikkan nanti jadi ruginya ke saya,” jelas Ali.

Ditanya apakah akan beralih menjajakan dagangan ponselnya lewat online, Ali mengaku belum memikirkan opsi lain.

“Jujur saya belum kepikiran sampai ke situ, mba. Saya masih yakin setiap hari gelar dagangan di toko langsung kalau rejeki tidak akan kemana, walaupun hanya satu dua pembeli,” pungkasnya.

Senada dengan Ali, salah satu toko retail ponsel yaitu Lucky Cell Store di kawasan Ciracas, Jakarta Timur memilih untuk tidak menutup toko. Sebab, menurut Fatimah (48), masih ada saja masyarakat yang berkunjung ke tokonya untuk membeli ponsel.

“Saya enggak tutup toko karena masih banyak kok masyarakat yang datang ke sini, meskipun ada kebijakan dari pemerintah untuk tinggal di rumah saat wabah corona,” kata dia, Kamis (26/3) malam.

Kendati begitu, ia membatasi jam operasional toko. Sebelum wabah virus masuk ke Indonesia, tokonya dibuka mulai pukul 10.00 WIB – 21.00 WIB namun saat ini toko Fatimah hanya buka dari jam 10.00 WIB – 20.00 WIB.

“Iya saya cuma ubah jam buka dan tutup saja, dibanding harus tutup toko,” tuturnya.

Ditanya apakah ada rencana untuk menjajakan dagangannya lewat platform online, Fatimah mengatakan tetap mengandalkan toko miliknya.

“Enggak kepikiran untuk dagang lewat online, masyarakat sekitar sini masih banyak yang datang ke toko langsung. Soalnya saya kan memang mengkonsepkan dagangan saya di toko seperti ini,” pungkasnya. (C-003/eks)***