Dosen ITB Ciptakan Ventilator Covid-19

26

BISNIS BANDUNG – Tim Salman Institut Teknologi Bandung (ITB) didukung beberapa sivitas akademika dan alumni  sedang  merancang pembuatan ventilator Covid-19. Mereka bekerja siang dan malam  guna menciptakan alat  bagi penyembuhan pasien  yang terinfeksi virus corona.

“Kamu berjuang seoptimal mungkin menciptakan ventilator produksi Indonesia. Dorongan membuat ventilator lantaran dalam situasi pandemi global ini mengimpor ventilator bukan pilihan. Semua negara di  dunia  membutuhkan ventilator,” tutur Hari Tjahjono, salah seorang dosen ITB sekaligus sebagai External Public Relations kepada pers, pekan ini di Bandung.

Tim Pengembang dari Salman, ITB dan FK UNPAD telah mempresentasikan prototype Vent-I (Ventilator Portable Indonesia) di depan dokter senior FK (Fakultas Kedokteran) UNPAD. Ada tiga fungsi yang didemonstrasikan di depan tim dokter senior  yaitu  CPAP (Continuous Positive Airway Pressure), CPC (Continuous Pressure Control) dan SPC (Synchronise Pressure Control).

Dalam presentasi yang ketiga di depan tim dokter, setelah dalam dua  pertemuan sebelumnya tim engineering mendapatkan banyak masukan tentang kegunaan dan spesifikasi minimal sebuah ventilator.

“Syukur alhamdulillah, dalam pertemuan ketiga ini tim dokter telah memberikan lampu hijau  untuk fungsi CPAP, yang digunakan untuk pasien yang mengalami sesak namun masih dapat bernafas sendiri, untuk mencegah agar pasien tidak sampai harus dirawat di ICU,” kata Hari Tjahjono.

Secara fungsional Vent-I type 01 CPAP, menurut dia  telah memenuhi standard minimal yang dapat digunakan dalam situasi krisis seperti sekarang. Vent-I bisa dianggap sebagai alat yang dapat digunakan untuk menahan serangan ganas virus Covid-19.

“Kalau dulu bambu runcing berhasil membantu perjuangan para pahlawan dalam melawan penjajah, semoga Vent-I mampu membantu tim medis menahan gempuran virus Covid-19 yang semakin brutal ini,” katanya seraya menambahkan tim ahli dari Kementrian Kesehatan akan  memverifikasi alat ini.

“Bahkan, Menteri Kesehatan menelpon  langsung tim  untuk memberikan dukungan. Semoga tidak ada kendala yang berarti, dan Vent-I mendapatkan lampu hijau untuk diproduksi. Tahap awal akan memproduksi 100 alat dalam waktu satu atau dua minggu,” lanjutnya.

“Diharapkan 100 alat itu bisa membantu menyelamatkan banyak pasien. Apakah 100 cukup? Tentu saja tidak. Paralel ketika 100 produk pertama dibuat, persiapan produksi massal juga dilakukan yang pengerjaannya akan melibatkan industry,” katanya seraya memohon  dukungan dan doa seluruh alumni ITB dan seluruh bangsa Indonesia. (E-011)***