DPRD Jabar: Dampak Banjir Besar Rusak Jalan dan Pemukiman Warga

2
DPRD Jabar: Dampak Banjir Besar Rusak Jalan dan Pemukiman Warga

BISNIS BANDUNG– Banjir  besar yang melanda beberapa kecamatan   Kabupaten Subang,  Bekasi dan Majalangka terakhir ini  sangat berdampak terhadap kerusakan infrastruktur, baik jalan raya, jaringan irigasi maupun pemukiman warga.

Ketua Komisi IV DPRD Jabar Tetep Abdul Latif menyatakan  sudah mengatahui  adanya  bencana  banjir bandang di beberapa kecamatan  tersebut yang tersebar, namun katanya belum dapat mengkaji sejauh mana tingkat kerusakan infrastruktur  yang ada.

“ Kami belum sempat melihat langsung ke lokasi banjir bandang, tetapi kita sudah berkoordinasi dengan mitra kerja Komisi IV, seperti  Dinas BMPR, Dinas SDA, Dinas Perkim  serta  BPBD Jabar,”  kata Tetap Abdul Latif didampingi wakil ketua  Ali Hasan di ruang  kerjanya, Selasa (9/02/2021).

Ia mengatakan  telah koordinasi  dengan mitra kerja Komisi IV dan  meminta agar dilakukan identifikasi atau  mendata semua kerusakan  untuk dibahas lebih lanjut  dalam rangka  perbaikan.

Dikatakan, hasil identifitasi yang dilakukan oleh mitra kerja Komisi IV terhadap beberapa wilayah yang terendam banjir bandang, akan kelihatan, yang mana menjadi kewenangan Pusat, Provinsi dan Kabupaten/kota.

Kerusakan infrastruktur yang menjadi kewenangan provinsi, tentunya kita minta untuk segera ditindaklanjuti dan dilakukan segera perbaikan.

Beberapa faktor penyebab terjadinya banjir bandang di beberapa wilayah Jabar saat ini, bukan hanya karena tingginya intensitas curah hujan. Tetapi ada  penyebab lainnya,  seperti  kesalahan dalam strategi pembangunan.  Seharusnya di beberapa wilayah hanya untuk serapan air tetapi malah dibangun dengan  beton, sehingga air sulit untuk dapat terserap ke dalam  tanah.

Faktor lain, adalah alih fungsi lahan, yang seharusnya lahan pertanian kini beralih menjadi kawasan lahan industri dan perumahan, perkotaan.  Bahkan ada juga faktor, aspek pemeliharaan hulu sungai.

Meski  dilakukan reboisasi dengan memakan dana tidak sedikit, baik dari dana pusat, provinsi maupun kabupaten/kota, namun hingga kini masih relatif belum berhasil bahkan relatif tidak efektif. Bahkan kita melihat dan mendengar sendiri, penggundulan di wilayah hulu masih sering terjadi.  Sehingga, setiap kali hujan deras,  air langsung mengalir ke sungai dengan membawa sampah-sampah, baik berupa ranting, batang kayu, dedaunan, maupun sampah rumah tangga.

Untuk itu, kata Tetep,  perlu dilakukan penertipan dari  hulu hingga hilir.  Di hulu tidak boleh ada penggundulan,  begitu pula sekitar aliran harus ada pemeliharaan dan di hilir tidak boleh ada penutupan serapan air yang cukup luas.(B-002)***