Efek Corona Lemahkan  Ekonomi

28

BERBICARA virus selalu menarik perhatian, karena belum ada obatnya.  Banyak virus yang terapinya baru diketemukan, setelah penyakit itu berlangsung lama. Begitu pula terapi atas virus Corona yang saat  ini jadi sorotan luar biasa di berbagai penjuru dunia, lantaran terapi atau pengobatannya belum  ada.

Inilah yang menyebabkan  virus  itu sangat menakutkan  karena belum ada obatnya.  Ahli kesehatan hanya menyarankan  supaya tidak  terpapar virus, dibutuhkan  daya  imun tubuh yang sehat dan kuat.  Artinya  kondisi  kesehatan kita harus baik dengan memperhatian asupan gizi  yang berimbang, sehingga tidak mudah terjangkit virus.

Tak pelak lagi, virus corona yang pertama kali ditemukan pada Desember 2019  di Wuhan, Tiongkok, saat ini tengah menyebar ke berbagai belahan dunia. Bahkan, penyebaran virus corona diduga telah masuk ke Indonesia, hal tersebut menjadi ketakutan masyarakat terkait menyebarnya virus  dimaksud.

Di sisi lain, Wall Street dilaporkan mengalami hari terburuk pada akhir perdagangan Senin, (Selasa 28 Januari 2020 pagi WIB). Kondisi ini merupakan efek wabah virus corona, yang memicu kekhawatiran tentang dampak ekonomi.Diketahui,  korban tewas virus corona  terus bertambah di Tiongkok.

Indeks acuan S&P 500 mengalami kinerja mingguan terburuk sejak September pada pekan lalu, setelah Tiongkok mengisolasi beberapa kota dan menghentikan perjalanan.

Fenomena yang sama hadir saat SARS menewaskan hampir 800 orang pada 2002-2003, dan menelan kerugian miliaran ekonomi global.

Namun, beberapa investor melihat dampak ekonomi jangka panjang sebagai tidak mungkin, mengingat pengalaman masa lalu dengan wabah virus.

Konon, Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 453,93 poin atau 1,57 persen, menjadi berakhir pada 28.535,80 poin. Indeks S&P 500 turun 51,84 poin atau 1,57 persen, menjadi ditutup di 3.243,63 poin. Indeks Komposit Nasdaq berkurang 175,60 poin atau 1,89 persen, menjadi berakhir di 9.139,31 poin.

Saham-saham teknologi dan internet kelas berat yang telah mendukung reli baru-baru ini termasuk Apple Inc, Microsoft Corp, Alphabet Inc dan Amazon.com Inc, yang menyumbang sekitar 15 persen dari bobot S&P 500, kehilangan setidaknya 1,60 persen.

Saham-saham terkait perjalanan berada di bawah tekanan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap virus korona baru, dengan American Airlines jatuh 5,54 persen.

Itulah dampak  negatif  dari virus corona yang kini menjadi sorotan dunia.

 

Deden Barkah,

Turangga  Bandung