Efek Pandemi ke Pertanian Tengkulak Sulit Beroperasi

31
Efek Pandemi ke Pertanian Tengkulak Sulit Beroperasi

BISNIS BANDUNG– Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof.Dr.Ir.Maman Haeruman Karmana MSc mengemukakan, dampak pandemi Covid 19 terhadap sektor pertanian, bukan saja pada sektor produksi budidaya, melainkan pada sisi penyaluran – pemasaran ke pihak konsumen. Pedagang pengumpul/tengkulak yang biasanya banyak dan mudah beroperasi mengalami kesulitan dalam menyalurkan sehingga kelihatannya mereka enggan membeli.

Bagi para petani untuk menyalurkan hasil produksinya langsung ke pasar, kesulitannya karena produk yang dihasilkannya dari sisi volume kurang banyak, sehingga biaya pengangkutannya saja per unitnya semakin mahal.

Belum lagi jaringan pemasarannya tidak mereka kuasai, mitra bisnis tidak ada, sehingga kejadiannya banyak petani membawa dan menyalurkan tetapi tidak laku, akhirnya malah dibuang.

“Tantangan dalam kondisi normal saja, ranah pemasaran hasil itu memang di luar jangkauan petani, apalagi petani kecil yang biasa jadi langganan para tengkulak. Dalam memasuki era new normal  tantangannya kembali seperti era sebelum pandemi. Kalau petani-petani kecil itu usahanya sendiri-sendiri masalah itu susah dipecahkan,” ungkapnya pada Bisnis Bandung , Selasa (18/8/2020).

Maman Haeruman menyatakan, wilayah yang paling terdampak dari mewabahnya Covid 19 adalah wilayah pertanian yang kondisi infrastrukturnya kurang baik, atau bahkan jelek, serta lokasinya ke pusat pasar jauh. Ini berlaku untuk semua jenis produk pertanian dan, yang paling rawan, adalah komoditas sayur mayur.

“Akibat mewabahnya Covid 19, usaha pemerintah terhadap sektor pertanian bobotnya hanya pada menganjurkan petani mematuhi protokol Kesehatan dan stay at home, sementara terhadap usaha pertaniannya kurang, malah tidak kelihatan. Banyak petani yang amburadul dalam menyalurkan hasilnya karena jaringan pemasaran yang tidak mereka fahami yang berujung pada dibuangnya hasil produk mereka.”

Di masa adaptasi kebiasaan baru atau new normal, para petani seperti halnya warga yang lain, dalam melaksanakan kegiatan usaha taninya tetap harus memperhatikan protokol kesehatan yang dianjurkan juga “social distance” – jaga jarak.

Tantangan yang berat bagi petani karena banyak melakukan kegiatan dengan bobot pada tenaga mereka, apalagi buruh tani dan petani kecil, sehingga penggunaan masker saja mereka rasakan susah karena menjadi pengap bernafas. Kebiasaan mereka bersilaturakhmi bersalaman dan berdekatan juga tidak begitu mudah, karena tidak terbiasa.

Pengurus harus menjajagi ke mana dan siapa mitra bisnis yang bisa menampung – membeli produk mereka dengan harga yang relatif lebih tinggi dari harga jual ke tengkulak. Upaya pengurus ini tidak mudah dan bukan tanpa biaya, tetapi karena bebannya dipikul bersama (operation at cost), biaya itu masih dapat tertutupi dan perolehan petani anggota untuk per unit hasilnya itu masih bisa lebih tinggi ketimbang jual ke tengkulak.

Kalau saja insentif harga yang diterima petani itu lebih tinggi, lebih menguntungkan, ikatan kerjasama itu akan semakin kuat karena petani anggota merasakan manfaatnya. Pola berlangganan  petani anggota tehadap lembaga kerjasama di antara mereka itu makin terwujud. Ini bisa terlaksana kalau pengurus lembaga kerjasama itu benar-benar amanah, dalam arti lembaga kerjasama itu termasuk pengurusnya mengupayakan betul  menjualkan hasil pertanian anggotanya, sebagai bentuk pelayanan bagi anggota semaksimal mungkin. Anggota harus sampai merasakan bawa upaya semacam ini ternyata menguntungkan mereka.

“Upaya yang dipaparkan itu perlu menjadi arahan program pemerintah agar bisa menciptakan dan mengembangkan sistem pemasaran yang lebih terorganisir, agar para petani dapat menikmati insentif harga yang lebih baik di pintu petani (farm gate price)!”, ungkap Guru Besar Pertanian Unpad itu.

Ia mengimbuhkan, kegiatan ekspor-impor sektor pertanian tidak terlepas dari penyaluran barang dan jasa dari dan ke sektor pertanian. Input-input eksternal, apalagi yang diimpor dan digunakan oleh para petani, tentu harus didistribusikan oleh importirnya.

Sebaliknya komoditas pertanian yang harus diekspor harus dihimpun dari para petani yang mengusahakannya disalurkan ke eksportir. Penyaluran input – output ini tentu akan kena dampak terkait dengan penyebaran pandemic Covid 19  karena tidak selancar seperti pada kondisi normal.  (E-018)***