Ekonomi Dunia Kontraksi Indonesia Terancam Resesi

17

BISNIS BANDUNG – Ketua Umum ICBI – (Ikatan Coach Bisnis Indonesia), Arief Yanto Rukmana, S.T., M.M mengemukakan, meski semua elemen masyarakat  berusaha beradaptasi dengan kebiasaan baru,  dampak wabah Covid-19  ini secara makro memungkinkan menjadikan ekonomi Indonesia resesi dan ekonomi dunia terjadi kontraksi atau tumbuh negatif -3% di 2020.

Penerapan PSBB yang paling berimbas mengalami pukulan berat, karena ada restriksi kegiatan ekonomi dan sosial adalah sektor pariwisata, transportasi, korporasi dan UMKM, juga beberapa sektor lainnya. Ganguan aktivitas sektor korporasi yang di sebabkan tekanan wabah covid-19 menyebabkan penurunan pada kinerja bisnis dan terjadi pemutusan hubungan kerja hingga ancaman kebangkrutan.

“Pandemi virus Corona  secara tidak langsung memberi efek samping positif pada pola transaksi konsumen, serta usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), ” ungkapnya kepada Bisnis Bandung (BB),  pekan ini.

Menurut Arief Yanto Rukmana, S.T., M.M, adanya covid-19 ini membuat UMKM lebih terbiasa dengan pola transaksi digital, secara tidak langsung iklim usaha secara daring saat ini ber-prospek makin baik dan percepatan UMKM go online, dapat terwujud. Indikatornya saat ini terjadi peningkatan yang signifikan terhadap penjualan secara online pada industri kuliner kemasan serta kebutuhan bahan makanan pokok lainnya, mitra penjual di platform e-commerce juga meningkat penjualannya semenjak pendemi.

Memasuki tahap new normal pemerintah mengeluarkan surat edaran/aturan untuk melakukan SOP dan Protokol Kesehatan yang harus di patuhi pelaku usaha demi membatasi dan mencegah penyebaran/penularan covid-19 ini. Pemerintah mewajibkan aktivitas industri beroperasi secara terbatas, tetap menjaga jarak, menyediakan tempat cuci tangan, cek suhu, selalu menjaga Kebersihan lingkungan usaha, rutin membersihkan/ desinfektan tempat tempat yang sering di pegang pengunjung, mengontrol dan membatasi kapasitas/jumlah pengunjung untuk menghindari dari berkerumunnya pengunjung, dan izin yang di perlukan untuk beroperasi.

Arief yang juga berprofesi sebagai Dosen Perguruan Tinggi Indonesia Mandiri Bandung ini mengimbuhkan, sektor yang mengalami pertumbuhan di tengah mewabah nya covid-19 adalah sektor teknologi informasi dan komunikasi, produk kesehatan pribadi, pertanian, jasa media digital, jasa kebersihan, jasa pengangkutan, retail, kesehatan, makanan, air bersih, gas dan listrik. Sektor yang paling banyak terancam mengalami gulung tikar/kolaps adalah yang paling menggantungkan pada cara langsung ataupun cara konvensional dalam proses bisnisnya, dan tidak mampu beradaptasi dengan kebiasaan baru, seperti sektor pariwisata, kontruksi, industri manufaktur, oertambangan, ekspor barang tambang, jasa event organizer. “Yang tidak mampu beradaptasi dengan kondisi krisis dengan pergerakan usaha online tentu akan menyulitkan dan membawa ke arah gulung tikar. Belum banyak yang pindah ke jalur daring, estimasi baru sekitar 50% yang “semi-online”. Disisi lain pelaku usaha sedang menempuh strategi bertahan dan bersaing di era krisis dengan membuat terobosan inovasi model bisnis, layanan dan peningkatan teknologi kearah digital”

Syarat yang di berikan tersebut masih dinilai logis dan demi memerangi penularan virus melalui pengetatan aturan SOP dan Protokol Kesehatan. Untuk pelaku usaha pada awal nya resistensi terhadap kebiasaan baru, dan bisa jadi terbebani karena belum siap, juga akan memperbesar risiko penurunan omzet, mengingat daya beli masyarakat menurun karena, pembatasan sosial bersekala besar. Namun sekelompok pelaku usaha merespon dengan positif dan tidak terbebani semua di upayakan untuk optimistisme akan memenangkan peperangan melawan Pandemic, dengan melewati saat krisis dengan adaptasi dengan cara yang semakin baik. Banyak hikmah positif disaat sulit.

Terobosan yang dilakukan pelaku usaha supaya usaha nya kembali menggeliat di masa AKB, yaitu melakukan program UMKM go On-line, dengan membuat pemasaran digital marketing, mengoptimalkan penjualan melalui media daring, membuat konten promosi yang menarik di sosial media, memanfaatkan kreativitas untuk membuat konten-konten kreatif, untuk membangkitkan minat belanja online. Pengusaha juga harus berkolaborasi dan bekerja sama untuk membangun ekosistem digital, beberapa juga melakukan pivot bisnis ke industri kreatif untuk tetap survive dan usaha nya dapat menggeliat kembali.

Program/kebijakan yang akan di gulirkan untuk optimalisasi pelayanan dengan cara memaksimalkan tatacara semi online/semi digital untuk memberikan kemudahan bagi pelanggan, sebagian pelaku usaha sudah di bekali dengan platform yang mempermudah pelayanan dengan respon cepat dan aktual terbaik. Perlindungan terhadap tenaga kerja dengan menjalankan SOP seperti menjaga jarak aman juga lengkapi APD standard untuk keamanan kerja  dan kenyamanan  interaksi dalam masa newnormal, yang paling penting juga untuk melindungi konsumen terhindar dari droplet yang menjadi salah satu penyebab penularan covid-19, dengan ketat menjalankan prosedur/protokol kesehatan, membersihkan sarana prasarana dengan mendisinfektasi berkala menuju/mensukseskan adaptasi kebiasaan baru yang lebih sehat, pungkas orang nomor satu di ICBI itu kepada BB. (E-018)***