Ekonomi Kelas Bawah Terancam Kelaparan

30

BISNIS BANDUNG — Masyarakat tidak cukup siap untuk mengalami ketidakstabilan ekonomi,  sebab selama masa gelombang Covid-19, sekira 76 persen  masyarakat ekonomi kelas bawah mengalami krisis ekonomi yang menyebabkan mereka terancam kelaparan.

“Dan 30% lebih masyarakat ekonomi kelas menengah kehilangan sumber ekonominya. Hal harus dihentikan dengan pelaksanaan New Normal meski Indonesia terkesan belum siap atau tidak sesiap negara lain,” tutur Kepala Departemen Hubungan Internasional Fisip Unpad Bandung, Dr.Arifin Sudirman kepada Bisnis Bandung, Senin (29/6/2020).

Dia mengemukakan, Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) sangat diperlukan untuk meminimalisasi covid 19 dan tetap mengupayakan stabilitas dan ketahanan ekonomi dan pangan. Begitu penting untuk mengajak semua elemen bangsa untuk bersama-sama melakukan new normal sesegera mungkin, dan meyakini serta terus melakukan sosialisasi untuk AKB terutama dalam meminimalisasi resiko penularan dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

Di masa AKB masyarakat dan pelaku usaha sama-sama akan melakukan perubahan perilaku, sebab tiap-tiap individu memiliki kepentingan baik untuk tetap sehat maupun untuk menjaga nama baik usahanya serta kepercayaan konsumen.

Demi perubahan perilaku yakni menetapkan standar-standar keamanan kesehatan sebagaimana standar WHO terkait covid 19. Penjagaan dilakukan di tiap tempat dan fasilitas publik oleh bagian keamanan. Kebijakan yang dilakukan oleh tiap instansi dan perusahaan sebagai standar normal baru lebih fisibel, daripada kebijakan dari pemerintah yang kurang implementatif.

“Untuk mewujudkan perubahan perilaku,  perlu ada sanksi. Sanksi seperti operasi polisi untuk memberi peringatan kepada masyarakat yang tidak menerapkan atau oleh petugas keamanan di tiap instansi atau gedung yang melarang individu untuk masuk apabila tidak menerapkan standar keamanan. Saat ini sudah cukup baik untuk diterapkan dengan serius demi mewujudkan perubahan perilaku, ” tandasnya.

Menurutnya, di masa New Normal, sepertinya tidak akan terjadi perubahan sistem hubungan kerjasama dengan negara lain, hanya saja, perubahan perilaku masyarakat secara global akan mempengaruhi perubahan teknis dari yang sebelumnya kerjasama internasional banyak melibatkan pertemuan dan pergerakan manusia ke negara lain menjadi lebih menggunakan pendekatan media komunikasi dan mengurangi pertemuan-pertemuan yang bersifat normatif sebagaimana yang sering terjadi sebelumnya.

Sebagai negara dengan angka pasien dan kematian tertinggi se-Asia Tenggara, terkesan naif apabila pemerintah melakukan pembatasan hubungan internasional dengan negara-negara tertentu.

Meski begitu, tetap saja dalam kaitan dengan perpindahan manusia dari negara lain ke Indonesia dan sebaliknya harus melaksanakan protokol kesehatan yang ketat guna mencegah dan meminimalisasi angka masyarakat terjangkit virus/covid.

“Kesiapan negara Indonesia sambut new normal/AKB dibandingkan dengan negara lain jelas saja keanekaragaman masyarakat dan penyebaran kelompok masyarakat di Indonesia menyebabkan kesiapan yang tidak merata dibandingkan dengan negara lain yang lebih homogeny,” ucapnya. (E-018)***