Ekspor Pertanian Indonesia Didominasi Tiga Komoditas

35

BISNIS BANDUNG–Ketua Departemen Koperasi Serikat Petani Indonesia (SPI),  Wahyudi Rakib, S.I.P mengemukakan, secara umum potensi produk pertanian Indonesia cukup positif. Namun jika mengacu pada data dari Badan Pusat Statistik (BPS), perkembangannya masih fluktuatif.

Pada tahun 2017, berat bersih ekspor Indonesia mencapai 4.177.6 ribu ton,  dengan nilai transaksi 3.671.0 juta us dolar. Pada tahun 2018, berat bersih ekspor Indonesia mencapai 4.345 ribu ton dengan nilai transaksi 3.431.0 juta us dolar. Dan pada tahun 2019 berat bersih ekspor Indonesia mencapai 4.981.7 ribu ton dengan nilai transaksi 3.612.4 juta us dolar.

Jika dilihat data BPS tentang analisis komoditas ekspor 2012-2019, potensi dari ekspor produk pertanian Indonesia mengerucut pada tiga jenis produksi pertanian yang khas di Indonesia. Pertama kopi, kedua

tanaman obat, aromatik dan rempah-rempah. Ketiga buah-buahan tropis.

Berdasarkan data BPS tentang perkembangan ekspor barang hasil pertanian 2012-2019 tersebut, kita lihat secara kuantitas itu terus menunjukkan kenaikan. Hanya saja memang daris segi nilai keuntungan, ini yang masih cukup fluktuatif karena memang tergantung pada mekanisme pasar yang berlaku.

Pemerintah memiliki klaster atau peta tersendiri mengenai sentra komoditas pertanian, walau pada dasarnya setiap wilayah memiliki potensi pertanian atau perkebunannya yang khas masing-masing. Misalnya produk kopi, ini terkenal di provinsi-provinsi di Sumatera seperti Lampung, Sumatera Utara, dan Aceh berdasarkan data dari BPS, berkontribusi besar terhadap nilai ekspor kopi nasional, yakni sebesar 82,75 persen dari seluruh ekspor komoditas ini pada tahun 2019. Sisanya berasal dari wilayah lain seperti Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan lain-lain.

” Kami berpandangan dengan kekayaan sumber-sumber agraria yang kaya di Indonesia, setiap kabupaten/kota memiliki potensi untuk mengekspor produk pertaniannya. Contoh misalnya kopi, ini di hampir setiap kabupaten/kota di Indonesia memiliki tanaman kopi yang berbeda-beda, mulai dari varietas sampai dengan citarasa yang khas. Hal ini juga sudah mendapat apresiasi dari masyarakat internasional tentang kehebatan kopi Indonesia,”  ungkapnya

Wahyudi Rakib mengemukakan, kualitas produk pertanian, apakah itu layak untuk dikonsumsi untuk pasar di tingkat lokal maupun internasional, tidak terlepas dari kebijakan pertanian yang dipilih pemerintah. Dalam konteks Indonesia mengingat belum adanya kebijakan yang holistik, mulai dari ketersediaan faktor produksi utama bagi petani (tanah, sumber air, infrastruktur) sampai dengan perlindungan bagi produk pertanian hasil petani, tentu akan sulit menghasilkan produk pertanian dengan kualitas yang baik.

Pesaing Indonesia adalah negara-negara dengan kekayaan alam/geografis dan kebijakan pertanian yang sangat mendukung. Kita ambil contoh tanaman kopi, kopi produksi dari Indonesia beresaing dengan kopi dari negara Brazil dan Vietnam. Kedua negara tersebut dikenal dengan negara yang memiliki jumlah produksi kopi yang lebih banyak dan harga lebih murah daripada kopi Indonesia, sementara dari segi kualitas, kopi produksi dari dua negara tersebut hampir mirip dengan kualitas kopi Indonesia.

SPI melihat dukungan pemerintah terhadap sentra pertanian di tanah air masih belum maksimal. Ini dapat dilihat dari berbagai kebijakan yang diambil pemerintah justru merugikan bahkan mengancam keberadaan petani di Indonesia.  Misalnya dikeluarkannya kebijakan UU Cipta Kerja oleh pemerintah, yang merevisi beberapa peraturan seperti UU Pangan, UU Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, sampai pada UU Hortikultura.

Beberapa undang-undang yang direvisi  ini, menurut SPI sudah cukup baik dalam konteks melindungi dan memperkuat petani di Indonesia. Kehadiran UU Cipta Kerja justru merugikan petani, seperti diletakkannya impor sebagai salah satu sumber pangan nasional. (E-018)***