Era 4.0. Bahan Baku Lokal Penyokong Utama Ekonomi Dan Kontributor Pendapatan Daerah

63

BISNIS BANDUNG –  Pendamping UMKM Juara – Dinas KUK Provinsi Jabar, Arief Yanto Rukmana S.T.,M.M mengemukakan, berdasarkan pengamatan dan analisis, trend pemanfaatan bahan baku lokal pada pelaku usaha UMKM trendnya cukup tinggi, realita dilapangan bahan baku lokal tentunya mudah didapat dan harganya relatif lebih murah, indikatornya adalah masih terjaminnya pasokan bahan baku dari daerah pedesaan sebagai lumbung penghasil bahan baku produksi utama untuk produk umkm.

Bahan baku lokal yang digunakan untuk produksi, contohnya adalah pisang kepok putih (bahan baku Banana Harajuku), didapat langsung dari petani pisang, dengan kualitas terjamin dan tanpa penggunaan pestisida, dan bahan baku pisang didapatkan dari wilayah Lampung, karena disana adalah salah satu wilayah penghasil Pisang Kepok terbesar di Indonesia, juga bahan baku tambahan yaitu coklat sebagai inovasi/varian rasa – topping-nya diperoleh juga dari Lampung. Sedang untuk Bahan Baku ubi (produk Ubinesia) didatangkan langsung dari Sumedang Jawa Barat. Karena bahan baku ubi yang lumayan melimpah serta harga yang terjangkau, untuk memberikan benefit kepada petani setempat supaya lebih semangat untuk mengoptimalkan hasil pertanian dan panennya.

Bahan Baku Pisang dan Ubi sebetulnya kegunaannya lebih luas, dan pemanfaatan bahan baku ini untuk produk produk inovatif dari UMKM. Pada study kasus event UMKM Juara saja, jika diteliti pemanfaatan produk bahan dasar pisang dan ubi ini, dapat menjadi: Bolu Pisang, Bolu Ubi, Keripik Pisang Coklat, Cake Ubi, Pasta Ubi, pisang bakar, sale pisang, permen susu ubi, pisang ijo, stik pisang, selai pisang dan selai ubi dan lain-lain. Produk olahan itu di branding oleh umkm menarik dan inovatif.

Arief mengatakan, untuk bahan baku lokal potensi kedepan masih bisa di andalkan, dengan program dari pemerintah, untuk mendukung pengembangan pertanian di Indonesia yang memiliki potensi wilayah subur dan basisnya agraris, akan menuju swasembada. Indikatornya saat panen raya di Indonesia, aneka ragam buah begitu melimpah bahkan hingga harga sangat murah.

Keunggulan bahan baku lokal adalah supply yang mandiri memberdayakan petani lokal sehingga dapat menumbuhkan geliat ekonomi yang lebih masif, selain itu keamanan produk dari pestisida langsung bisa di pantau, kekurangannya kadang transportasi menjadi kendala. Kekurangan dari bahan baku impor adalah dapat menurunkan pendapatan khususnya para petani/produsen bahan baku, masyarakat lokal sebagai negara agraria akan terancam omzet (pendapatan) nya, dan  ketergantungan dan tekanan dari produk/bahan baku hasil impor membuat dan berpengaruh kondisi dan geliat ekonomi memburuk. Realitas positif nya saat ini wirausaha lebih memilih menggunakan bahan baku lokal sebagai penunjang produksi nya

Keuntungan dengan memanfaatkan bahan baku lokal akan menjadikan ekonomi masyarakat semakin meningkat, petani lokal yang sejahtera, mewujudkan supply bahan baku yang murah, berkualitas dan aman juga berlimpah. Bahan baku lokal masih tinggi diminati oleh pelaku usaha UMKM hampir 90% pasokan bahan baku utama nya asli dari wilayah di Indonesia, dan permintaan pertahun semakin meningkat signifikan terhadap komoditas pertanian lokal, ini menunjukkan geliat UMKM bertumbuh dan berkembang, bahan baku pelengkap seperti garam memang belum mencukupi namun untuk bahan baku utama produk lainnya sudah cukup aman pasokan untuk memenuhi supply pasar dalam negeri, ungkap Dosen STIE STAN IM Bandung itu, kepada Bisnis Bandung (BB), di Bandung.

Kualitas bahan baku lokal kini makin baik, teknik produksinya pun ditingkatkan menggunakan alat dan teknologi dengan demikian berpengaruh terhadap daya tarik pasar. Pada tahun 2020 dengan support pemerintah, kualitas dari bahan baku lokal terus ditingkatkan kualitasnya dengan menggunakan metode khusus juga bibit unggul serta “treatment” prosesnya yang kini melibatkan teknologi dan SDM yang makin unggul terlatih hal tersebut yang meningkatkan daya saing.

Optimisme untuk meningkatkan daya saing dalam era revolusi industri 4.0 , mendorong bahan baku lokal yang melimpah ini dapat didistribusikan keseluruh pelosok negeri hingga pemasaran ke mancanegara, seperti kopi, coklat, sawit, umbi-umbian dan lain lain. “Sejauh ini peran pemerintah dalam mensosialisasikan program program manfaat melalui stake holder (Gapoktan) dan mengedukasi melalui Sertifikasi juga optimasi kompetensi SDM bidang pertanian giat di lakukan oleh Dinas kota/kab/provinsi masing-masing, sehingga wilayah memiliki produk hasil pertanian unggulan, yang menjadi penyokong utama ekonomi masyarakat dan kontribusi pendapatan daerah”.  (E-018)***