Ethiopia Sebuah Negara Daratan Sulit Jika Ingin Mengkonsumsi Ikan Laut

3122

Sebelum menginjakan kaki di Ethiopia, saya membayangkan negara dengan ibu kota Addis Ababa ini merupakan negara miskin dengan suhu udara panas dan gersang yang sempat muncuatkan tragedi rakyatnya kelaparan, hingga menyita perhatian masyarakat dunia. Namun ternyata sangkaan saya mengenai keadaan Ethiopia meleset. Sejak saya turun di Bandara Addis Ababa, kota yang juga sebagai ibukota Uni Afrika ini  udaranya sejuk, bersuhu udara antara 17 – 20 derajat celsius. Addis Ababa berada pada ketinggian 2300 diatas permukaan laut (dpl). Selain dataran tinggi, di  Ethiopia terdapat dataran terendah di dunia. Sebagai negara berkembang,  umumnya penduduk Ethiopia merupakan petani kopi dan bunga. Dua produk pertanian yang menjadi komoditas ekspor ke Eropa dan Arab. Khusus produk bunga mawar kualitas unggulan dari negara ini diekspor sampai ke Jepang dan negara Asia.  Secara geografis Ethiopia berbatasan dengan Kenya dan Somalia, mayoritas penduduknya beragama Islam dan Kristen Ortodok yang hidup rukun berdampingan. Yang membedakan antara orang Muslim dan Kristen Ortodok terlihat dari kaum perempuannya.

 Perempuan Kristen sehari-harinya hanya menggunakan kerudung putih, sedangkan perempuan muslim kerudung (hijab) yang digunakannya aneka warna, jadi tidak hanya menggunakan satu warna saja. Uniknya lagi antara yang beragama Islam dan Kristen Ortodok, yakni dalam mengkonsumsi daging. Walau gerai pedagang daging sapi berdampingan, pemeluk agama Islam tidak akan membeli di gerai pedagang daging untuk pemeluk agama Kristen dan sebaliknya pemeluk agama Kristen tidak akan membeli daging sapi di gerai pedagang daging untuk orang Islam.

Makanan pokok orang Ethiopia berupa roti tipis bernama Inzera hasil permentasi dari tepung Tef, sedangkan minuman tradisionalnya populer disebut Tej yang berbahan baku madu. Menu tradisional lainnya yang dikonsumsi warga berupa sajian daging mentah giling dengan campuran serbuk cabai (Babare) yang disajikan hanya dalam waktu tertentu.

Di Ethiopia terdapat Kota Harar yang dijadikan situs sejarah keagamaan yang dipercaya sebagai kota suci ketiga di dunia. Situs keagamaan lain bagi yang beragama Kristen Ortodok adalah Lallibela, sebuah gereja yang dibangun di bukit batu bawah tanah. Selain itu, uniknya  orang Ethiopia penganut agama Islam maupun Kristen Ortodok memiliki kalender dan waktu tersendiri. Awal tahun atau tahun baru pada kalender, bagi mereka jatuh pada tanggal 11 September. Sedangkan untuk tahun penghitungannya berbeda delapan tahun, misalnya saat ini tahun 2020, dalam perhitungan mereka baru tahun 2012. Sama halnya dalam penghitungan waktu (jam), walau jarum jam sudah menunjukan pukul 12.00, mereka tetap pada pendiriannya bahwa waktu masih pukul 04.00, walau sudah siang hari. Hal lain yang menarik dari penduduk Kota Harar adalah soal keakraban dengan binatang buas bernama Hyna. Binatang yang menyerupai srigala ini hidup berkelompok mampu melumpuhkan Singa, namun kepada warga Kota Harar sikap buasnya menjadi lunak. Kenapa? Karena penduduk Kota Harar, secara turun temurun biasa memberi makanan berupa daging untuk Hyna, hingga binatang buas ini mengetahui sang majikan pemberi makan. Di luar majikannya, Hyna akan menyeringai  dengan gigi tajam siap menerkam.

Mengenai warga negara Indonesia yang bermukim di Ethiopia, jumlahnya kurang lebih sekitar 150 orang. Umumnya mereka bekerja sebagai karyawan pabrik tekstil. Di Ethopia sulit mendapatkan makanan berbahan ikan laut , karena di Ethiopia  jauh dari laut . (Akbar) ***