Gawai Tiongkok Diujung Tanduk Usai Skakmat AS

4103

TAIWAN Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) memutuskan untuk menghentikan produksi chipset Kirin milik Huawei usai tekanan Amerika Serikat (AS) sebagai sanksi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Penghentian produksi ibarat skakmat bagi Huawei lantaran bakal mengganggu produksi ponsel produsen gawai asal China itu. TSMC terpaksa tunduk pada keinginan AS lantaran karena peralatan yang digunakan TSMC untuk memproduksi chipset Kirin yang digunakan Huawei, merupakan peralatan dari AS.

Pasalnya, AS telah diperketat larangan kepada Huawei pada Mei lalu. Saat itu, Gedung Putih melarang vendor di seluruh dunia yang menggunakan teknologi AS, untuk memproduksi komponen bagi Huawei.

Namun, menurutnya dua tahun ke depan akan menjadi tahun yang sangat sulit bagi Huawei untuk mempertahankan stok ponsel pintar, seperti dilansir dari CNBC. Meski dijegal oleh AS terkait produksi komponen, Direktur Eksekutif of wireless device strategies dari perusahaan analisa pasar, Strategy Analytics, Neil Mawston memprediksi Huawei dapat bertahan pada 2020.

Penggiat gadget, Lucky Sebastian pun menyampaikan hal serupa.

“Kalau sampai Huawei tidak berhasil mendapatkan pabrik pembuat chipset atau chipset pengganti (Kirin), maka akan ada kelangkaan produknya, terutama ponsel,” kata Lucky saat dihubungi wartawan, Selasa (11/8).

Lucky menjelaskan apabila Huawei memutuskan untuk membuat Kirin, perusahaan harus segera mencari pabrik pengganti yang tidak menggunakan paten teknologi AS.

redaksi sudah menghubungi Huawei Indonesia untuk mengomentari hal ini, namun belum mendapat respons.

Bikin sendiri di China

Kemitraan Xiaomi dengan PT Sat Nusapersada untuk memproduksi secara lokal, memperkuat posisi pasar Indonesia dalam strategi ekspansi global Xiaomi. Resmi diproduksi di Indonesia, Xiaomi membuka peluang untuk membawa lebih banyak produk ke pasar Indonesia lebih cepat dari sebelumnya.Ilustrasi. China kini tengah berusaha menggenjot pabrik semikonduktor lokal di negaranya. Namun, teknologi fabrikasi semikonduktor di negara itu masih jauh tertinggal.

Namun patut diingat, Huawei kemungkinan tak akan membuat chipset di China, sebab pabrik semikonduktor di sana masih tertinggal dibandingkan TSMC atau Samsung Semiconductor.

Dilansir dari Android Authority, Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC) milik China bisa diajak Huawei untuk memproduksi Kirin. Namun, SMIC sendiri masih menggunakan peralatan buatan AS.

SMIC terutama tertinggal dalam teknologi fabrikasi chipset terkini. Sebab, SMIC hanya mampu memproduksi chipset FinFET 14nm, sementara TSMC mampu memproduksi FinFET 7nm .

Belakangan, TSMC bakalan mampu memproduksi chipset dengan EUV makin kecil, 5nm. Oleh karena itu, SMIC tak akan segera mampu menggantikan TSMC sebagai opsi manufaktur chipset premium.

Angka FinFET ini penting, lantaran berpengaruh pada kinerja ponsel. Makin kecil pemrosesan semikonduktor, makin banyak transitor yang bisa dimuat, sehingga meningkatkan kinerja ponsel.

Huawei lirik Samsung?

Cipset Exynos Samsung punya fabrikasi semikonduktor sendiri untuk memproduksi chipset besutannya, Exynos. Akankah Samsung menjadi pelabuhan produksi chipset Huawei berikutnya?

Dilansir dari Sammobile, Samsung bisa jadi mendapatkan peluang emas di tengah penghentian produksi cipset Kirin ini. Samsung diprediksi akan berusaha untuk meningkatkan performa cipset Exynosnya, terutama kemampuan dari sisi kemampuan AI.

Berbeda dengan Huawei, Samsung memiliki fasilitas manufaktur sendiri sehingga tidak perlu bekerja sama dengan pabrik semikonduktor seperti TSMC untuk membuat cip.

Namun, Lucky menjelaskan Huawei bisa saja membuat chipset di Samsung Semiconductor. Akan tetapi, Lucky mengingatkan ada indikasi bahwa perusahaan yang bekerja sama erat dengan Huawei ditekan AS.

Di sisi lain, Samsung memiliki pasar besar di AS. Lucky mengungkap Samsung menduduki peringkat kedua di pangsa pasar ponsel di AS setelah Apple.

“Untuk chipset kelas flagshipnya jadinya Huawei mengalami kesulitan membuatnya, cara tercepat untuk tetap bisa bertahan setelah stok cipset habis, harus menggunakan cip buatan pihak ketiga, entah Samsung Exynos atau Mediatek,” tutur Lucky.

Lucky menjelaskan saat ini peluang terbesar adalah Huawei menggunakan chipset Mediatek mengingat Samsung memiliki potensi akan ditekan oleh Amerika Serikat.

Lucky menjelaskan Qualcomm yang merupakan perusahaan AS dikabarkan sedang meminta izin khusus dari pemerintah AS untuk menjual cipset Snapdragon ke Huawei.

“Karena sebenarnya saling tekan antar Amerika dan China ini adalah perang dagang, atau strategi ekonomi, bisa saja ada kemungkinan Qualcomm diberi izin khusus untuk menjual chipsetnya ke Huawei,” kata Lucky.

Huawei tersudut

Lucky menyebut bisnis ponsel Huawei tentu akan terancam ketika tak mampu untuk memproduksi cipset Kirin. Sebab tanpa pabrik untuk memproduksi Kirin dan belum adanya kepastian cipset pengganti Kirin, Huawei tak mungkin menjual ponsel ke pasar.

Lucky memprediksi pada kuartal III 2020, pangsa pasar global Huawei akan menurun akibat masalah cipset ini.

“Sepertinya nanti di kuartal tiga bisa jadi akan ada penurunan pangsa pasar Huawei, karena tanpa Google Mobile Services (GMS) tidak berpengaruh untuk pasar China, sementara tanpa chipset, tidak ada smartphone yang bisa dijual. Belum lagi menyangkut juga cipset modem 5G,” tutur Lucky.

Huawei sejauh ini memang terbukti mampu bertahan meski telah AS telah melarang perusahaan untuk bekerja sama dengan Huawei. Google Mobile Services (GMS) berupa Gmail hingga Google Play Store yang tak bisa dipakai di perangkat Huawei, mampu digantikan dengan Huawei Mobile Services. (C-003/HMS)***