Gema  Petani: Program Petani Milenial Jabar Guna Mencegah Krisis Pangan

7
Gema Petani: Program Petani Milenial Jabar Guna Mencegah Krisis Pangan

BISNIS BANDUNG– Ketua Gerakan Mahasiswa Petani Indonesia  (Gema Petani) Jawa Barat, Anas Sodikin menilai  program petani milenial yang digulirkan Pemprov Jabar  strategis dan bagus   karena  secara tidak langsung pemerintah bisa menganalisis bahwa SDA dan SDM  mempunyai potensi untuk mencegah krisis pangan dan peningkatkan ekonomi dari pertanian.

Manfaat dari pemberlakuan program petani milenial yaitu pertama adanya regenerasi petani dengan usia produktif yang lebih muda, meningkatkan hasil produksi pertanian, menambah nilai ekonomi dari sektor pertanian, mengurangi pengangguran, memanfaatkan lahan lahan tidur pemerintah agar lebih produktif.

Menurut Anas Sodikin, dampak dari petani milenial pasti ada pro dan kontra. Sebelum adanya petani milenial,  sudah mempunyai pertanian keluarga yang notabene berjalan terun temurun melakukan kegiatan bertani secara konvensional atau modern.

“Pemerintah  mesti memberi edukasi  bagi  petani keluarga atau petani konvensional,  jangan  terjadi kesenjangan sosial di masyarakat khususnya masyarakat petani.  Mungkin yang melatar belakangi pemerintah membikin

program petani milenial  guna  meningkatkan potensi pertanian dan mengurangi jumlah pengangguran dengan melihat potensi lahan yang ada di Jawa Barat,” katanya  kepada Bisnis Bandung,  Senin (1/3/2021) di Bandung.

Konsep petani milenial yang menjadi program pemerintah provinsi yaitu untuk mendorong regenerasi tenaga kerja di sektor pertanian Jawa Barat yang memiliki inovasi, gagasan, dan kreativitas.

Melalui pemanfaatan teknologi digital, petani milenial akan menggerakkan kewirausahaan bidang agrikultur yang menjadikan wajah pertanian menjadi lebih segar dan atraktif untuk bisa berkelanjutan.  Rentang usia produktif petani milenial atau petani muda di usia 17-35 tahun, karena di usia tersebut tenaga, pikiran masih sangat bagus dalam penerapan teknologi.

“Berjalan atau tidaknya program petani milenial ini, saya rasa kembali lagi ke pemerintah sebagai  yang mempunyai kebijakan dan para petani milenial itu sendiri sejauh mana mereka bisa konsisten dengan apa yang mereka komitmen di awal terkait program petani milenial ini,” ujarnya mengingatkan.

Ia mengungkapkan minat pemuda untuk menggeluti pertanian sangatlah minim dengan melihat data BPS rata-rata usia petani kita adalah antara 45-55 tahun, betapa mirisnya  jika  melihat usia petani saat ini. Faktor yang mempengaruh kurang nya minat menjadi petani yaitu image petani di masyarakat yang mereka ketahui sebatas kotor-kotoran dan pekerjaan mencangkul di sawah atau kebun, nilai tukar petani yang tidak menentu, waktu pananen yang lama memerlukan beberapa bulan.

Namun, katanya potensi profesi petani ke depannya sangat berpeluang, karena dengan meningkatnya jumlah penduduk, berarti meningkat kebutuhan atas pangan bagi masyarakat dan selama masyarakat ada hasil dari pertanian lah yang di butuhkan sebagai kebutuhan pokok.

“Mungkin bagi saya pribadi istilah petani milenial adalah istilah yang baru di petani, intinya mungkin yang disebut petani milenial ini adalah petani era 4.0 yang bertani dengan memanfaatkan teknologi terbarukan dengan sistem industrialisasi mungkin seperti itu,” imbuhnya.

Semua produk pertanian pada dasarnya baik atau berpotensi untuk digeluti dan bahkan dikembangkan oleh para petani milenial, toh pada dasarnya hasil pertanian merupakan sumber bahan pokok yang dikonsumsi masyarakat, sehingga semua jenis produk pertanian sangat berpotensi untuk digeluti dan dikembangkan.

“Boleh jadi  dengan launchingnya petani milenial, Gubernur Jawa Barat bersama jajaran dinas dan pihak pemodal sudah memperhitungkan persiapan dan kesiapan SDM,  anggaran dan infrastrukturnya ,” demikian  Anas Sodikin. (E-018)***