HP China Serbu Pasar Indonesia

332

SEJUMLAH vendor ponsel China sepanjang tahun ini cukup aktif meluncurkan perangkat ponsel dengan ‘harga miring’ di Indonesia. Alhasil, data pengapalan ponsel dari IDC Indonesia didominasi oleh ponsel dari Tiongkok.

Berdasarkan data IDC pada kuartal ketiga 2019 lalu, ponsel asal Korea Selatan yakni Samsung harus puas duduk di posisi ketiga dengan pengapalan 19,4 persen. Sementara Oppo bertengger di puncak dengan pengapalan 26,2 persen dan diikuti Vivo 22,8 persen.

Padahal pada pengapalan kuartal kedua 2019, Samsung tercatat berada di puncak klasemen dengan 26,9 persen pengapalan di Tanah Air.

Saat itu, laporan Quarterly Mobile Phone Shipment yang dirilis IDC pada kuartal kedua 2019 mencatat pengapalan dari ponsel-ponsel asal China membuntuti Samsung di peringkat kedua hingga kelima.

Analis Pasar IDC Indonesia Risky Febrian mengungkap alasan merosotnya pamor Samsung di Indonesia pada kuartal 3 2019, perusahaan asal Korea Selatan itu lantaran Samsung terlalu terburu-buru meluncurkan ponsel seri As.

Seri As adalah versi perpanjangan dari Samsung Galaxy A yang sudah meluncur sejak awal tahun ini. Samsung Galaxy A10s dan A20s adalah contoh dari seri tersebut.

“Seri As yang diluncurkan kuartal ketiga ini memang membawa fitur-fitur yang up to date namun upgrade seri As dianggap terlalu cepat dan peningkatan spesifikasi yang dilakukan tidak terlalu jauh,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu.

IDC Indonesia memperkirakan stok ponsel seri A dari pengapalan yang lalu masih banyak tersedia di pasar. Sehingga, memengaruhi performa pengiriman ponsel pada kuartal ketiga tahun ini.

Tak bisa dipungkiri, sejak awal 2019 Samsung gencar meluncurkan sejumlah ponsel seri A. Seri A ini meliputi A10, A20, A30 hingga A80.

Ponsel seri A sengaja dikeluarkan Samsung sebagai bentuk perlawanan balik dari ponsel-ponsel China yang gencar menggempur pengguna di segmen kelas menengah.

Alasan ponsel China sodok ke posisi atas pengapalan di Indonesia

Keberhasilan ponsel buatan vendor China seperti Oppo pada data pengapalan IDC Indonesia kuartal 3 2019 ditunjang oleh dominasi produk-produk kelas bawah dan menengah Oppo yang membanjiri pasar.

“Untuk Oppo sendiri untuk kuartal ketiga, dia lumayan mendominasi untuk segmen low end dan mid range. Yang di low end itu cenderung seri A1 lalu yang di mid range (menengah) ada A5 dan A9,” kata Risky.

Konsistensi Oppo menjalankan strategi untuk memenangkan pasar ponsel kelas menengah telah nampak dari kuartal sebelumnya.

Sebab, sejak kuartal dua Oppo sudah mengantongi pangsa pasar ponsel kelas menengah yang cukup signifikan. Saat itu, Risky menjelaskan cakupan retail offline Oppo yang luas menjadi penyebabnya.

Selain itu, peluncuran seri baru Oppo A1K juga ikut mendorong tingginya pengapalan produsen asal China ini.

Padahal pada kuartal dua 2019 (April-Juni), Samsung masih meraja dengan 26,9 persen pangsa pasar. Terpaut tipis dengan Oppo diposisi dua dengan presentase 21,5 persen. Vivo menyusul dengan 17 persen.

Sementara di posisi empat ada Xiaomi yang bersaing sangat tipis dari Vivo (16,8 persen). Realme masuk dalam lima besar dengan 6,1 persen. Meski demikian posisi Realme terpaut jauh dari Xiaomi.

Persaingan para vendor ponsel untuk berebut pasar pada ponsel kelas menengah memang cukup sengit. IDC sebelumnya sempat mengungkap kalau pangsa pasar terbesar Indonesia memang ada di kelas ini, dengan ponsel-ponsel di rentang harga Rp2 jutaan.

Meski sedang diterjang wabah Virus Corona, Negeri Tirai Bambu diprediksi pada tahun 2020 masih tetap mendominasi dengan handphone-handphone murah perusak pasaran. (C-003/Mik)***