Hubungan dengan Israel Secara Ekonomi Tidak Berpengaruh Signifikan

26
Hubungan dengan Israel Secara Ekonomi Tidak Berpengaruh Signifikan

BISNIS BANDUNG—Keputusan tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel merupakan langkah tepat. Bagi Indonesia secara sosial dan budaya hampir tidak ada atau kecil sekali. Bahkan, dari sisi politik, hubungan diplomatik dengan Israel justru akan kontraproduktif  merugikan  citra Indonesia di kancah internasional.

Secara ekonomi, walaupun secara people to people (P to P) atau business to business (B to B) terjadi hubungan dagang dengan Israel, Israel bukanlah negara dengan pangsa pasar yang besar sehingga jika terjadi hubungan diplomatik dengan Israel maka secara ekonomi tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Sejak awal Indonesia merdeka sampai saat ini,  tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Ada beberapa pertimbangan di masa lalu mengapa para founding fathers  tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Alasan konstitusional yakni  Amanat Dasar Negara Indonesia yang menyebutkan secara tegas dan eksplisit dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 1: bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, ” tutur Kepala Pusat Studi Keamanan dan Internasional Fisip Unpad Bandung, Dr. Akim kepada Bisnis Bandung, pekan ini.

Akim menyebutkan, Palestina adalah negara yang sejak awal mendukung upaya kemerdekaan Indonesia dan mengakui kemerdekaan Indonesia, sebaliknya Indonesia juga berkomitmen penuh untuk mendukung kemerdekaan Palestina dalam berbagai bidang baik diplomasi resmi melalui PBB maupun ajang olahraga internasional dimana Indonesia pernah menolak bermain sepakbola secara resmi melawan Israel.

Akademisi Unpad itu mengatakan, manfaat itu selalu ada dalam setiap jalinan hubungan diplomatik antarnegara termasuk jika Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Akan tetapi, secara rasional apakah manfaatnya yang akan diterima Indonesia tersebut lebih banyak atau sebanding dengan kerugian yang akan diterima oleh Indonesia.

Secara politik/keamanan, rencana menjalin hubungan diplomatik dengan Israel bukanlah isu populis yang diterima masyarakat, sebaliknya pemerintah justru akan memperoleh “tsunami politik” yang sangat besar dari masyarakat Indonesia yang mayoritas mendukung kemerdekaan Palestina.

Gelombang protes dan demonstrasi akan terjadi dimana-mana, selain itu pemerintah juga akan memperoleh tekanan hebat dari parlemen sehingga akan sangat merepotkan pemerintah bahkan ujung-ujungnya dapat mengakibatkan instabilitas politik domestik yang juga  membahayaan keamanan Indonesia, termasuk kemungkinan meningkatnya aksi-aksi terorisme di Indonesia.

Belum lagi dampaknya secara politik internasional, citra Indonesia akan jatuh serta kepercayaan internasional terutama negara-negara muslim dan timur tengah terhadap Indonesia akan hilang. Peran strategis Indonesia sebagai negara mayoritas muslim dunia menjadi tidak bermakna. Secara pertahanan, justru Indonesia sedikit diuntungkan karena adanya peluang bagi Indonesia untuk memodernisasi peralatan militer canggih dari Israel untuk kepentingan pertahanan Indonesia.

Tetapi bukankah ketergantungan terhadap peralatan militer canggih dari Barat juga tidak baik sehingga perlu adanya diferensiasi sumber peralatan militer. Mengingat Indonesia pernah memiliki pengalaman pahit di embargo militer oleh pihak Barat di masa lalu. Secara ekonomi, adanya kekhawatiran bahwa Indonesia akan menjadi pangsa pasar potensial dari pemasaran produk-produk Israel yang memiliki added value yang lebih baik daripada produk domestik Indonesia jika hubungan diplomatik secara resmi dibuka.(E-018)***