Hubungan Indonesia-Korsel dari Sejati Menjadi Sehati

22

BISNIS BANDUNG –   Duta Besar Kim Chang-Beom Seeing  kerap menyebut Indonesia sebagai teman sejati dan sehati. Maka tidaklah aneh jika saat merebaknya Covid-19 , Indonesia diprioritaskan untuk menerima bantuan medis dan kesehatan.

Dalam lima  bulan terakhir, Korsel telah menyerahkan bantuan sebesar 500.000 USD khusus ke BNPB, dan 5.000.000 USD ke pemerintah RI, guna menanggulangi program-program darurat dan pemulihan. Korsel juga sudah meningkatkan kerjasamanya dengan PMI, Bappenas, dan Kementerian Kesehatan, guna mendukung sistem ketahanan kesehatan  masyarakat Indonesia.

“Korsel sedang mempersiapkan mekanisme bernama Economic Development Cooperation Fund, berupa pinjaman lunak bagi keperluan medis dan kesehatan masyarakat. Saat ini Korsel sedang mempersiapkan pendirian industri telekomunikasi  berbendera LG dan industri otomotif  berbendera Hyundai di Indonesia. Sekiranya proyek ini segera beroperasi, tak terhitung nilai tambahnya bagi pembangunan nasional Indonesia,”  kata Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran, Dr.Teuku Rezasyah kepada Bisnis Bandung, Senin (29/6/2020).

Teuku Rezasyah mengimbuhkan, dekatnya hubungan kedua negara terbukti dari seringnya Presiden Joko Widodo berkomunikasi dengan Presiden Moon Jae-In, terutama sekali pasca keberhasilan kedua negara menyelenggarakan pemilu, dan saat  kedua negara berkoordinasi menanggulangi Covid-19.

Mengingat kedekatan kedua negara dan masyarakatnya yang sudah terjalin lama, kedua negara hendaknya bergerak menuju tingkatan yang lebih tinggi, yakni dari teman sejati menuju sahabat sehati. Tentunya terdapat beberapa persyaratan yang hendaknya direncanakan secara serius oleh kedua negara.

Pertama, menyikapi perang dagang AS-RRC yang semakin serius, yang berbarengan dengan konflik di Laut China Selatan, pemerintah RI dan Korsel hendaknya segera mempersiapkan kepindahan industri  Korsel yang berbasis di RRC ke Indonesia. Guna keperluan ini, diperlukan sinergi di tingkat kebijakan, tata ruang, teknologi dan manajemen yang lebih baik, didukung sistem tata kelola di sektor pemerintah dan dunia usaha yang menarik dan berdaya saing, namun juga sesuai dengan hukum nasional Indonesia.

Kedua, menyikapi keunggulan teknologi 5G Korsel yang sudah terintegrasi ke dunia usaha dan industri, maka kedua negara hendaknya mempersiapkan sebuah proyek rintisan di bidang  perhubungan darat dan laut, komunikasi, pendidikan, dan kesehatan, pada sebuah kawasan industri khusus, misalnya di  provinsi Jawa Barat.

Pemerintah dan masyarakat Indonesia sudah sepenuhnya mengerti, jika relokasi industri Korsel hanya melibatkan  manajemen senior dan ahli semata. Dengan demikian, terbuka peluang bagi Indonesia untuk secara besar-besaran mempersiapkan tenaga kerja terlatih pada level madya dan dibawahnya. Ketiga, bersinergi di sektor pendikan dan pelatihan.

Dalam hal ini, Indonesia hendaknya siap menjadikan bahasa Korea sebagai sebagai mata pelajaran di tingkat SMU dan SMK. Memang diperlukan kerjasama  pengajar dari kedua negara, guna menyiapkan materi ajar yang tepat guna, dan terakreditasi pada Kementerian Pendidikan di kedua negara. (E-018)***