Hubungan RI dan Israel Untungkan Segelintir

5
Hubungan RI dan Israel Untungkan Segelintir

BISNIS BANDUNG–  Mengapa Israel  berusaha keras “merayu” Indonesia agar mau membuka hubungan diplomatik ? Karena, masalah pertarungan diplomatik. Kalau Indonesia sebagai negara Muslim terbesar dunia mengakui Israel,  bakal  semakin kuat posisinya dan semakin sewenang-wenang.

“Sekarang saja, tidak ada resolusi PBB yang dipatuhi PBB. Di antara resolusinya, adalah resolusi 194 tahun 1948 yang berisi: hak kembali bagi bangsa Palestina yang terusir dari tanah dan rumah mereka. Israel melarang mereka kembali sehingga jutaan orang palestina kini hidup di kamp-kamp pengungsian,” jelas Dosen Hubungan Internasional FISIP Unpad, Dr. Dina Yulianti kepada Bisnis Bandung.

Ia  mengemukakan, sejak awal berdirinya Israel, Indonesia tidak pernah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Indonesia merdeka 1945, Israel dibentuk 1948. Jadi posisi Indonesia sejak awal adalah tidak mengakui Israel karena didirikan dengan melakukan pengusiran warga Arab-Palestina dari tanah dan rumah mereka, lalu menduduki tanah tersebut dan di atas tanah itu, didirikanlah Israel.

“Indonesia bertugas menunaikan amanah UUD 1945, yaitu ikut serta dalam menghapuskan penjajahan di muka bumi dan mewujudkan perdamaian dunia,”  katanya.

Menurut Dina Yulianti keputusan tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel merupakan langkah tepat, karena  Palestina adalah negara yang terjajah dan amanah UUD 1945 adalah menghapuskan penjajahan di muka bumi. Tekanan diplomatik adalah satu-satunya “senjata” yang dimiliki Indonesia dalam membantu bangsa Palestina mencapai kemerdekaannya.

Ia berujar tidak ada manfaatnya bagi bangsa Indonesia secara umum. Tapi kalau para bisnismen atau orang-orang tertentu mungkin ada manfaatnya, misalnya mereka bisa mengimpor barang-barang dan teknologi Israel secara lebih leluasa.  Kalau dilihat dari pangsa pasar, yang akan ambil untung bila hubungan diplomatik dibuka adalah Israel.

Penduduk Indonesia 270 juta, sementara populasi Israel sekitar 8 juta. Dari perbandingan ini saja, sudah bisa dipastikan, Israel-lah yang akan mendapatkan keuntungan ekonomi sangat besar bila hubungan diplomatik dibuka.

Baca Juga :   Laba Antam Dipoles Emas Freeport

“Indonesia adalah pasar yang sangat besar dan menggiurkan bagi produk-produk Israel. Produksi unggulan Israel adalah produk-produk berbasis teknologi tinggi, terutama senjata dan teknologi komunikasi, serta layanan jasa. Jadi, kalau dibilang ada keuntungan ekonomi, perlu dipertanyakan: siapa yang untung? Rakyat, atau segelintir pengusaha?”

Selain dengan israel, Indonesia tidak memiliki hubngan diplomatis dengan negara Kosovo. Menurut situs Kemenlu, alasannya Indonesia hingga saat ini belum mengakui kemerdekaan Kosovo, yang dideklarasikan secara sepihak pada tanggal 17 Februari 2008.

Posisi Pemerintah tersebut  sejalan dengan prinsip Indonesia untuk menghormati sepenuhnya prinsip kedaulatan nasional dan keutuhan wilayah setiap negara anggota PBB, yang merupakan prinsip yang dikandung dalam Piagam PBB dan Hukum Internasional, sebagai prinsip penting yang harus dijunjung tinggi oleh negara-negara, utamanya negara-negara berkembang yang masih menghadapi tantangan ‘nation building’ mereka, pungkasnya kepada Bisnis Bandung  (E-018)***