Impor Pangan Masih Jadi Pilihan Utama  

21
Impor Pangan Masih Jadi Pilihan Utama

BISNIS BANDUNG-Guru Besar Ilmu Pertanian Universitas Padjadjaran, Prof. Ir. Maman Haeruman K. MSc. PhD mengemukakan, semua komoditas tanaman di bidang pertanian sebenarnya dipengaruhi secara serius (IPCC, 2001) oleh kondisi iklim ekstrem akibat pemanasan global yang melahirkan El Nino – pergeseran pola curah hujan akibat suhu permukaan air laut meningkat dan La Nina – kenaikan kelembaban udara.

Padi, gandum, jagung, kedele dan ubikayu adalah komoditas pangan yang banyak disoroti akibat pengaruh La Nina.  Curah hujan yang meningkat dapat mengakibatkan terjadinya banjir di berbagai lokasi sehingga tanaman gagal panen. Atau, karena kelembaban meningkat maka organisme pengganggu tanaman (OPT) meningkat dan meningkatkan hama-penyakit tanaman.

Akan tetapi curah hujan yang meningkat ini bisa berakibat positif pada daerah-daerah yang biasanya kekurangan air seperti daerah tadah hujan maupun lahan kering. Secara keseluruhan La Nina masih memberikan efek positif, akan tetapi efek positif La Nina masih lebih kecil dari pada efek negatif El Nino, ujungnya ketahanan pangan masyarakat menurun.

Menurut Prof. Ir. Maman Haeruman K. MSc. PhD, harga komoditas pangan jelas akan terpengaruh karena pasokan berkurang sehingga berakibat pada harganya meningkat. Menurunnya ketahanan pangan masyarakat tingkat rumah tangga, di wilayah perdesaan lebih berat dari perkotaan.

Di wilayah perdesaan, pilihan pangan masyarakat bergeser ke produk pangan yang kualitasnya lebih rendah, sementara di perkotaan pilihannya lebih banyak. “Kenaikan ataupun penurunan produksi komoditas pangan seharusnya secara ekonomi berpengaruh pada naik turunnya harga. Akan tetapi harga pangan di Indonesia ini “bias beras”. Karena harga beras dikendalikan ketat, seperti kecenderungan harganya naik segera ditutupi oleh impor, maka harganya stabil-terkendali.

Oleh karena harga beras terkendali relatif rendah, maka komoditas pangan lainnya sulit beranjak naik walau pasokan berkurang. Bagi petani yang menghasilkannya, mereka tidak menikmati insentif harga. Kalaupun ada perubahan harga di konsumen, lebih banyak dinikmati oleh para pedagang perantara (middle-men). Hal-hal inilah yang menyebabkan nilai tukar petani (NTP) relatif rendah dan NTP padi paling rendah.

Baca Juga :   Rancangan Undang - Undang Memarjinalkan Rakyat Dan Petani  

Baca Juga: Ketahanan Energi Indonesia Dalam Posisi Net Importir

Guru Besar Ilmu Pertanian ini mengatakan, dampak La Nina bisa berpengaruh negatif terhadap produk-produk pertanian tertentu. Bawang merah, cabe, tomat adalah contoh jenis tanaman yang tidak begitu tahan terhadap tingkat kelembaban dan curah hujan tinggi La Nina sehingga produksinya bisa menurun. Menurunnya produksi berakibat pada menurunnya pasokan sehingga harganya meningkat.

 “Prosentase penurunan produksi akibat La Nina bervariasi. Untuk tanaman jagung dan kedele produksi terendah di Jawa Barat sekitar Bulan Januari, sementara ubi kayu pada Bulan Mei. Sementara untuk tanaman sayuran, seperti bawang merah dan bawang putih, produksi yang rendah terjadi sekitar Bulan Juni – Juli dan untuk Cabai Merah dan Cabai Rawit produksi yang rendah terjadi pada Bulan September. Karena La Nina berlangsung pada musim hujan, pola tanam tanaman yang tidak cocok dengan curah huan tinggi, sebaiknya digeser, namun tetap memperhatikan karakteristik tanaman itu sendiri” katanya kepada Bisnis Bandung ,  di Bandung, pekan ini.

Penurunan produksi komoditas pertanian itu akan berakibat kurangnya pasokan sehingga akan mendorong peningkatan harga. Jadi pada bulan-bulan saat produksi rendah, harga komoditas pertanian di bulan itu mencapai tingkat harga yang paling tinggi.

Untuk Jawa Barat, pada tahun 2017 harga tertinggi padi terjadi di Bulan Desember yaitu mencapai Rp.10 158,86 dan untuk tahun 2019 harga tertinggi pada Bulan Januari sebesar Rp.10 392,17.

“Untuk menjaga ketersediaan komoditas pertanian yang terkena dampak negatif La Nina, tidak tertutup bagi importir melakukan impor berbagai komoditas pertanian yang ketersediaannya di pasar kurang atau pasokan dari petani produsen domestik menurun. Jangankan dalam kondisi kekurangan, dalam kondisi normal saja impor bawang merah dilakukan dengan tujuan menekan harga di tingkat petani, dan akibatnya petani bawang merah tidak menikmati insentif harga yang lebih tinggi.”

Baca Juga :   GNNT Sulit Berjalan di Luar Pulau Jawa

Menurutnya, karena orang Indonesia telah terjebak menjadi pemakan nasi-beras tertinggi di dunia, rata-rata di atas 100 kg/kapita/tahun maka impor beras sepertinya tidak pernah berhenti. Indonesia mengimpor beras dari Vietnam, Thailand, Pakistan, India, Miyanmar pada tahun 2019 sebanyak 302.71 juta kg senilai US$ 156.332 juta. Jagung diimpor dari India, Argentina, Brazil, Thailand, Paraguay sebanyak 1,8 milliar kg dengan nilai US$ 544.189 juta. Kedelai diimpor dari Amerika Serikat, Argentina, Malaysia, Paraguay dan Kanada sebanyak 1,19 milliar kg, senilai US$ 735. 437 juta. Bawang merah dan bawang putih juga, sepengetahuan penulis meski tidak dilengkapi data, diimpor dari  Cina.

Demikian pula dengan komoditas pertanian lainnya, masih banyak yang belum terungkapkan. Kedelai yang diimpor dari Amerika Serikat disebut kedelai Gajah karena ukurannya besar, menjadi langganan KOPTI. Bawang putih dari Cina sebenarnya tidak sebaik bawang putih kita kualitasnya, tetapi karena butuh pasokan ya diimpor juga.

Baca juga: Kartel Importasi Bawang Putih Diperankan 19 Pengendali Harga

Produk impor mampu menekan harga produk pertanian di pasaran. Dalam sistem pemasaran komoditas pertanian di Indonesia masih banyak yang sangat tidak terorganisir sistim pemasarannya. Hal ini .erakibat pada jomplangnya perbedaan harga yang diterima petani dengan yang dibayarkan konsumen akhir di perkotaan. Marjin pemasaran yang tinggi dinikmati oleh para pedagang perantara dan importir. Kasus bawang putih pada saat krisis tahun 2017, di mana harga di petani hanya Rp.15.000/kg sementara di pasar mencapai Rp.50.000, bahkan di Cirebon sampai ditawarkan Rp.100.000/kg

Sampai saat ini impor dipandang sebagai jalan pintas menutupi kekurangan, di samping menekan harga domestik. Selintas kita melihat impor berbagai komoditas dilakukan seperti rutinitas. Kalau pasokan dari petani sendiri kurang, wajar saja mengimpor. Tetapi untuk kasus bawang merah pada saat di Jember panen, bawang merah impor malah dipajang dengan harga relatif rendah.(E-018)*** 

Baca Juga :   Membangun Usaha Daun Pintu Berorientasi Ekspor