Indonesia Belum Memiliki Peraturan Khusus Melindungi Tokoh Agama Penusuk Syeh Ali Jaber Agar Diperiksa Psikolog Dan Dokter Jiwa

11
Indonesia Belum Memiliki Peraturan Khusus Melindungi Tokoh Agama

BISNIS BANDUNG – Politisi Partai Gelora Fahri Hamzah meminta pemerintah menggunakan psikolog dan dokter jiwa untuk memeriksa kejiwaan penusuk Syekh Ali Jaber. Bukan menanyakan kejiwaan ke keluarga dan tetangga pelaku. Demikian diungkapkan oleh Fahri Hamzah melalui akun Twitter pribadi miliknya @fahrihamzah.

Pernyataan tersebut dibuat oleh Fahri menanggapi pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD yang menyebut akan menanyakan kondisi kejiwaan pelaku penusuk Syekh Ali Jaber ke keluarga, tetangga dan kerabat terdekat. Hal itu untuk menyimpulkan apakah pelaku mengalami gangguan jiwa atau tidak.

Pak @mohmahfudmd yth, untuk mengetahui itu gila, tanya asosiasi psikolog dan dokter jiwa yang disumpah untuk tugas itu,” kata Fahri, Rabu (16/9/2020).

Fahri menilai, upaya mengetahui kondisi kejiwaan pelaku dengan menanyakannya kepada pihak keluarga dan tetangga tidaklah tepat. Sebab, pihak keluarga, tetangga hingga kerabat terdekat bisa saja merekayasa pernyataan mereka.

“Jangan tanya keluarga dan tetangganya, sebab bisa direkayasa,” ungkap Fahri.

Fahri meminta pemerintah dapat membuka hasil pemeriksaan secara tranparan di hadapan publik. Agar persoalan tersebut menjadi jelas.

Pasalnya, kasus penusukan terhadap ulama merupakan isu besar dan penting. Terlebih, kasus penganiayaan terhadap ulama sudah seringkali terjadi. Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahud (HNW) menyebut Indonesia membutuhkan peraturan untuk melindungi para tokoh agama. Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) dalam hal peraturan perlindungan tokoh agama.

Hal itu disampaikan oleh HNW melalui akun Twitter miliknya @hnurwahid.

Wakil Ketua Majelis Syura PKS itu menyebut, Negeri Paman Sam selangkah lebih maju dibandingkan Indonesia dalam upaya melindungi tokoh agama mereka.

Di AS yang sekuler dan mayoritas Kristiani mempunyai Pastor Protection Act,” ujar  Hidayat Nur Wahid , Rabu (16/9/2020).

Sementara di Indonesia dengan ideologi Pancasila justru belum memiliki peraturan khusus untuk melindungi para ulama dan tokoh agama.

HNW menilai, kini sudah saatnya Indonesia mulai berbenah diri dan menyiapkan peraturan agar bisa melindungi para ulama.

Bukan hanya tokoh agama Islam saja sebagai mayoritas pemeluk agama di Indonesia, melainkan perlindungan terhadap seluruh tokoh agama yang diakui di Indonesia.

“Indonesia yang ber-Pancasila, wajar punya UU yang lindungi tokoh agama-agama yang diakui di Indonesia,” tegasnya.

Ada motif tertentu ?

Syekh Ali Jaber menduga ada motif tertentu yang membuatnya menjadi korban penusukan. Ia meminta kepolisian untuk mengusut tuntas kasus penusukan yang dialaminya .

“Kalau urusan pribadi, saya tidak ada tuduhan, tapi secara hukum, dia (pelaku) harus diproses,” kata Ali Jaber saat ditemui seusai kejadian di Rumah Hijrah Annaba, Sukarame, Lampung, Minggu (13/9/2020) malam, dikutip BisnisBandung.com dari Kompas.com.

Pendakwah asal Madinah itu  mempertanyakan motif penusukan yang dialaminya. Sebab, ada beberapa kejanggalan ketika melihat sosok pelaku.

“(Pelaku) bukan orang yang, maaf, gila sembarangan. Pertama, dari segi kekuatan, badannya kurus, kecil. Tidak mungkin jika melihat tubuhnya bisa ada kekuatan sampai separuh pisau menusuk ,” kata Ali Jaber seraya bersyukur sempat menengok sekilas ke arah kanan. Beberapa detik sebelum ditusuk, dia sedang berinteraksi dengan jemaah yang berada di sisi kiri panggung.

“Mungkin jika saya masih fokus dengan jemaah di sebelah kiri, kemungkin sangat mudah dia menusuk bagian dada atau leher. Karena dia tangan di atas, bukan menusuk ke perut,” tutur Ali Jaber menjelaskan. (B-003) ***