Indonesia Triwulan II 2020 Terpuruk ke Titik Terendah 

12
Indonesia Triwulan II 2020 Terpuruk ke Titik Terendah

BISNIS BANDUNG— Pakar Perdagangan Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti mengutarakan  BPS telah mengumumkan bahwa  kinerja ekonomi pada Triwulan II 2020, Indonesia terpuruk sampai titik terendah setelah masa reformasi pada tahun 1998.

Pertumbuhan Indonesia mengalami penurunan yang drastis dibandingan Triwulan II 2019 yaitu terjadi penurunan sebesar 5.32 %. Jika dibandingkan kinerja ekonomi Indonesia dengan negara tetangga lainnya, negara yang menempati penurunan pertumbuhan ekonomi di ASEAN yaitu Singapura yaitu sebesar -42.9 per Juni 2020 yang sebelumnya sebesar -3.3%. Selanjutnya yaitu Malaysia penurunan petumbuhan ekonomi per Juni 2020 yaitu sebesar -16.5%, dari triwulan sebelumnya sebesar -2.00%.

Selanjutnya Phillipina yaitu sebesar -15.2% yang sebelumnya sebesar -5.1%. Dibandingkan dengan negara G-20 yang merupakan kelompok 20 Produk Domestik Bruto tertinggi dunia seperti Amerika Serikat mengalami penurunan sebesar -32.9 pada Triwulan ke-2 ini, sebelumnya yaitu sebesar -5%.

“Secara total Uni Eropa sebesar -11.9%, triwulan I sebesar -3.5%. Sedangkan Jerman sebagai kuda hitam perekonomian Uni Eropa mengalami penurunan sebesar -10.1, padahal triwulan sebelumnya sebesar -2%, “ paparnya kepada Bisnis Bandung, Senin (24/8/2020).

Menurut Akademisi Unpad ini, jika dibandingkan dengan negara di ASEAN, hanya Indonesia yang masih status di ambang krisis karena mengalami pertumbuhan negative pada triwulan ke-2. Sedangkan Malaysia, Thailand, Singapura, Philipina sudah mengalami dua kali pertumbuhan ekonomi secara berturut-turut.

Secara teknis walaupun kita telah mengalami pertumbuhan ekonomi negative, kondisi krisis dapat ditutup jika pertumbuhan ekonomi dapat di angkat secara signifikan pada Triwulan III menjadi positif.

Jika dilihat berdasarkan pada komposisi PDB Pengeluaran sumber pertumbuhan secara year on year (yoy) dengan Triwulan yang sama. Indikator yang paling drastic penurunannya yaitu eksport sebesar -11.66%, disusul oleh pembentukan Modal Bruto sebesar -8.61%, Pengeluaran Konsumsi Luar Negeri yaitu sebesar -7.76%, dan pengeluaran konsumsi rumah tangga yaitu sebesar -5.51%. Pada periode tahun yang sama yaitu 2020, telah terjadi penurunan secara drastis di ekspor barang dan jasa sebesar -12.81%, pembentukan modal bruto sebesar -9.71%, pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar -6.51%.

Menurut Yayan Satyakti,  makin dalamnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada saat ini, disebabkan dua hal yaitu menurunnya aktivitas perdagangan internasional yang berdampak pada menurunnya ekspor karena tidak ada permintaan di luar negri. Pasa ekspor menjai sumber penyebaran Covid-19 sehingga menurunkan permintaan dan aktivitas perdagangan itnernasional. Kedua yaitu pembentukan modal bruto.

Hal ini disebabkan turunya alokasi modal dari investasi yang masuk dalam proses produksi, menurunnya permintaan secara internasional maupun domestic yang menghentikan alokasi modal dalam aktivitas produksinya.

Penurunan ini dapat disebabkan investor tidak melakukan distribus investasi menjadi barang modal untuk proses produksi. Dengan penuh ketidak pastian seperti ini, para investor menahan investasinya sampai keadaan membaik. Dalam jangka pendek, selama demand dari luar negeri tidak banyak, maka pertumbuhan ekonomi akan semakin kuat. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi Tiongkok, dalam satu triwulan, tingkat pertumbuhan Tiongkok mengalami peningkatan secara signifikan dari -10 pada bulan Februari 2020 menjadi 11.5%

Indonesia berada di bibir jurang resesi, hal yang dapat dilakukan oleh Indonesia yakni memfokuskan diri pada dua hal yaitu, menahan daya beli masyarakat agar terjadi keberlanjutan permintaan melalui pengeluaran pemerintah yang berpengaruh pada pengeluaran pemerintah dan memberikan multiplier kepada perekonomian.

Hal lainnya yaitu meningkatan Pemebtukan Modal Bruto untuk pembiayaan bagi aktivita produksi.  Artinya di sini adanya dua pengaruh kuat yang  saling berhubungan. Ketika permintaan perdagangan internasional menurun, hal ini menyebabkan pembentukan modal bruto menjadi menurun.

Pada saat ini pengeluaran pemerintah menjadi bagian yang sangat penting dan menunjukkan kehadiran negara dalam masyarakat. Program bantuan sosial merupakan Langkah yang relatif tetap agar secara matematik pertumbuhan ekonomi bisa terjaga.

Dengan menurunnya impor secara signifikan seharusnya komoditas subtitas domestic meningkat. Walaupun ini membutuhkan waktu, proses peningkatan komoditas domestic akan meningkatkan aktivitas ekonomi melalui penciptaan tenaga kerja dan mengurangi kemiskinanan.(E-018)***