Intip Kebangkitan Industri Kreatif Bali di Masa Covid-19

29

HIMPUNAN Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bali menilai pengembangan potensi industri kreatif berpotensi dapat membantu perekonomian wilayah itu. Utamanya, di tengah kondisi melemahnya sektor pariwisata akibat pandemi Covid-19.              

Menurut Bendahara HIPMI, Pande Agus Widura, industri kreatif dapat membantu perekonomian di Bali ketika kondisi pariwisata sedang lemah seperti saat ini. “Jika industri kreatif terus digenjot, diharapkan dapat menjadi prospek bisnis yang bagus ke depan,” kata Pande, di Denpasar, Rabu (1/4).

Pandemi Covid-19 yang terjadi di beberapa negara telah membuat kunjungan wisatawan mancanegara yang didominasi turis asal China dan Australia turun signifikan. Akibatnya, aktivitas pariwisata di sejumlah kawasan wisata di Bali lesu yang berimbas ke bisnis hotel dan restoran.

Kondisi ini, ujar Pande, jelas berdampak terhadap perekonomian masyarakat Bali. Di tengah lesunya pariwisata di Bali, tidak ada salahnya mengandalkan sumber pertumbuhan dari sektor alternatif.

Apalagi saat ini Bank Indonesia menurunkan proyeksi pertumbuhan perekonomian Bali dari sebelumnya 5,6-6 persen menjadi 4,6-5 persen karena dampak Covid-19. Untuk itu, pemerintah perlu mendorong berbagai industri agar dapat menopang pertumbuhan ekonomi tersebut.

Selama ini Bali memiliki sumber pertumbuhan ekonomi alternatif yang berasal dari industri kreatif. Hanya saja, kiprahnya belum mendapatkan tempat utama dalam pengembangan perekonomian seperti halnya pariwisata.

Beberapa industri kreatif yakni kerajinan tangan, barang kesenian, hingga yang terkini bisnis rokok elektrik atau yang lebih dikenal dengan vape lokal mulai menjamur di Bali. Pande mencontohkan industri vape yang sedang marak di Bali, dengan konsep mengurangi bahaya tembakau ini bisa menjadi suatu hal yang sangat diminati bagi para perokok dewasa.

Keberadaan industri kreatif ini tumbuh cukup signifikan di segala penjuru Bali, mulai dari Denpasar, Gianyar, hingga Buleleng yang telah membuka lapangan pekerjaan di Pulau Dewata. Selain itu, industri kreatif yang didominasi sektor UKM juga mulai marak. Mulai dari inovasi yang memungkinkan untuk reservasi restoran lewat aplikasi, kantong belanja ramah lingkungan, hingga konsep pengurangan risiko dengan vape yang merupakan bagian dari produk tembakau alternatif.

Ketua Asosiasi Vaporizer Bali (AVB) Gede Agus Mahartika mengatakan, tidak sedikit UKM bermunculan berkat produk rokok elektrik. Secara tidak langsung, kehadiran rokok elektrik telah membuka kesempatan usaha baru bagi masyarakat.

Berdasarkan data AVB, setidaknya sudah ada 500 vape store alias toko vape yang tersebar di Pulau Bali. Usaha baru yang bermunculan ini merupakan usaha rintisan sehingga masyarakat memiliki peluang menjadi wirausaha dan penghasilan. Munculnya usaha-usaha baru ini otomatis membuka lapangan kerja bagi masyarakat di Bali.

Gede mengemukakan, satu toko vape membutuhkan karyawan sekitar lima hingga enam orang. Oleh karena itu, di tengah kegiatan ekonomi saat ini yang tengah terpukul akibat Covid-19, AVB berharap pemerintah turut memberikan perhatian untuk industri kreatif.

HIPMI menghargai upaya pemerintah dalam membangkitkan kembali ekonomi saat ini. “Kami berharap ada stimulus yang diberikan, dengan begitu pelaku industri kreatif dapat membantu perekonomian dan menumbuhkan potensi lapangan pekerjaan,” ujar Gede. (C-003/BBS)***