Jabar Juara “Keberanian” Jika Niat Ridwan Kamil Terlaksana Jadi Relawan Uji Vaksin 19

2

BISNIS BANDUNG – Jawa Barat punya slogan “ Jabar Juara” , juara dalam berbagai sektor pembangunan. Kini  Jabar akan punya sebutan juara pada sektor lain, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat (Jabar) juga Gubernur Jabar M. Ridwan Kamil menyatakan dirinya dan para pimpinan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jabar siap menjadi relawan uji klinis vaksin Covid-19 produksi Sinovac, China. Jika niat Ridwal Kamil terlaksana , Jabar akan menjadi juara “keberanian” sosok pertama petinggi daerah jadi relawan uji klinis vaksin Covid 16 oleh Bio Farma di Bandung.

Menurut Ridwan, inisiatif pimpinan di Jabar untuk menjadi relawan uji klinis vaksin Covid 19 akan menjadi contoh  menambah keyakinan bahwa uji vaksin yang dilakukan BUMN PT Bio Farma bisaberjalan lancar. Data terakhir  pendaftar relawan vaksin sudah kurang lebih 900 orang dari target 1.600 orang yang dibutuhkan. Ridwan mengajak warga berusia 20 tahun hingga 59 tahun untuk turut serta menjadi relawan uji klinis vaksin Covid-19.

Proses uji klinis vaksin Covid-19 Sinovac fase 3 akan berjalan  hingga akhir tahun 2020. Jika berjalan lancar, vaksin Sinovac akan mendapat izin edar dan diproduksi massal pada tahun  2021.

Sementara Aktivis dari Eksponen Gerakan Mahasiswa 98, Haris Rusly Moti mengusulkan, agar vaksin yang didatangkan dari China seharusnya diujicobakan terlebih dahulu kepada Presiden Joko Widodo, para Menteri dan seluruh kepala daerah.

Menurut Haris, menjadikan para petinggi negara itu penting agar rakyat tidak dijadikan korban ujicoba vaksin yang menurutnya adalah abal-abal. “Ada baiknya vaksin  yang diimpor dari China itu diuji coba dulu ke Presiden, para Menteri , Menko dan seluruh kepala daerah. Biar mereka yang jadi kelinci percobaan. Jangan korbankan rakyat dengan vaksin abal-abal,” ujar Haris yang dicuitkan melalui laman Twitter pribadinya, belum lama ini .

Rakyat dijadikan obyek

Keputusan pemerintah yang mau menerima uji klinis tahap III vaksin Covid-19 asal China membuat heran anggota Komisi III DPR RI, Nasir Djamil.

Nasir Djamil mengaku miris jika benar rakyat Indonesia hanya dijadikan obyek untuk vaksin yang belum teruji itu. “Bagi saya pribadi memang, ya bisa saja orang menyebutnya sebagai kelinci percobaan,” ujarnya kepada wartawan.

Padahal, menurut politisi Parti Keadilan Sejahtera (PKS) , kemungkinan saja uji klinis vaksin itu gagal. “Itu trial and error, uji coba namanya. Berarti bisa berhasil atau gagal,” ungkapnya.

 Nasir mempertanyakan alasan pemerintah yang mau menerima  uji klinis tahap III. Padahal, vaksin itu   belum diujicoba di China sendiri.

“Kenapa Indonesia menerima. Di mana nurani presiden.  Karena itu mumpung masih ada waktu bisa mengubah pendiriannya dan memikirkan ulang,” pungkasnya menegaskan.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo  melalui akun Twitter pribadinya, Rabu (22/7) angkat bicara terkait rencana ujicoba klinis tahap III yang akan dilakukan di Bandung.  “Kita akan melaksanakan uji klinis vaksin Covid-19 tahap ketiga dengan melibatkan 1.620 sukarelawan,” tulisnya.

Untuk pelaksanaannya, pemerintah bekerjasama dengan sejumlah instansi dan lembaga. Di antaranya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Bio Farma (persero) dan juga Universitas Negeri Padjajaran (Unpad)  Bandung. Proses dan protokolnya mendapat pendampingan secara ketat dari BPOM. (B-003) ***