Jabar Selatan dan Kereta Cepat

110

    MASIH  ada beberapa proyek pembangunan di Jawa Barat yang belum tuntas. Di antaranya ada yang sedang dikerjakan yakni Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan dan Jalan Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung. Ada pula proyek pembangunan yang masih dalam perencanaan, pembebasan tanah, dan pengukuran. Jalan Tol Cileunyi-Garut-Tasikmalaya, Pelabuhan Laut Inmgternasional Patimban,  dan penyelesaian Bandara Internasional Kertajati. Masih ada proyek pembangunan yang belum termanfaatkan secara maksimal, antara lain Revitalisasi Jalur  Kereta Api Cibatu – Garuit – Cikajang, dan Banjar-Pangandaran, serta Rancaekek-Sumedang-Kertajati. Sedangkan revitalisasi jalur kereta api Bandung – Ciwidey, masih sebatas wacana.

    Dalam keadaan seperti itu, Gubernur Jabar mengajukan usul prioritas pembangunan indeastruktur di Jabar tahun 2021.  Lima usulan Gubernur itu disampaikan Ridwan Kamil kepadfa pemerintah pusat melalui Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan.  Kelima usulan itu meliputi pembangunan jalan nasional sepanjang Jalur Tengah Selatan (JTS), pengembangan kawasan Cirebon, Patimban, dan Keertajati  Ketiga, pengembangan kawasan perkotaan Cekungan Bandung. Keempat, pengembangan kawasan Bogor- Depok-Bekasi-Puncak-Cianjur-Karawang-Purwakarta, dan kelima, pembangunan infrastruktut Kota Bogor. Kawasan Subang, tidak tampak pada lima usulan Gubernur Jabar itu. Kawasan itu akan berkembang bersamaan dengan pembangunan Pelabuhan Patimban danpengembangan Bandara Kertajati.

    Usul Gubernur Jabar itu tampaknya mendapat perhatian khusus Menko Kemaritiman dan Investasi. Menko secara khusus membahas usul Gubernur Jabar itu dengan membawanya ke dalam rapat kerja kementerian. Harapan Jabar semua pembangunan infrastruktur di Jabar yang dibiayai pusat, dapat dilaksanakan dan selesai sesuai target. Wajar bila Gubernur Jabar memimta jaminan pemerintah pusat, semua proyek itu masuk dalam skala prioritas. Kita tidak ingin, semua proyek infrastruktur di Jabar selalu terlambat, apalagi mangkrak. JTS merupakan prioritas utama untuk menggali potensi Jabar Selatan, n\baik sebagai penghasil komoditas perkebunan maupun daerah wisata.

     Pembangunan yang sekarang masih terkatung-katung dapat segera dituntaskan agar manfaatnya dapat dirasakan semua orang. Kita tidak ingin pembangunan Bandara Internasional Kertajati yang dibanggakan pemerintah dan rakyat itu menjadi bangunan yang mubazir. Masalahnya Bandara Internasional itu nyaris tak berfungsi sesuai rencana karena pembangunannya tidak didahului dengan pembangunan sarana transportasi yang memadai, baik jalan tol Kertajati-Bandung, Kertajati-Kuningan -Ciamis-Tasikmalaya, Kertajati-Cirebon (Cipali) dan sebagainya.

    Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung sedianya merupakan salah satu upaya pengurangan kepadatan lalu lintas dan mobilitas penduduk di Jakarta. Para pekerja, pebisnis, mahasiswa, tenaga pendidik yang berdomisili di Bandung, tidak usah tinggal di Jakarta. Mereka tetap tinggal di Bandung. Pergi-pulang Bandung-Jakarta dapat ditempuh sangat cepat, masuk kerja tidak akan terlambat. Begitu pula pulang kerja, mereka dapat sampai di rumah dalam waktu relatif cepat. Namun hal itu harus ditunjang dengan infrastruiktur lanjutan, terutama dari stasiun akhir ke kota sekitarnya. Sekarang semua jalan di sekitarnya masih merupakan jalan desa, sempit dan selalu digenangi banjir. Penumpang kereta cepat  akan sulit menuju atau keluar stasiun. Dipastikan mereka akan memilih jalan termudah, menggunakan mobil pribadi, transportasi umum, bauik mobil maupun kereta api. Masuk atau keluar Stasiun Bandung, jauh lebih mudah, nyaman, dan aman. Mungkin saja mereka memilih kos atau beli rumah di Jakarta.

     Sambil meneruskan pembangunan jalur kereta api cepat, hendaknya infastrukur pendukungnya harus juiga dibangun bersamaan bahkan lebih dahulu selesai darpada jalur dan kertanya.  Bandara Kertajati hendapaknya menjadi cermin***