JABAR SIAP BELAJAR TATAP MUKA?

224
JABAR SIAP BELAJAR TATAP MUKA?

GUBERNUR Jabar, Ridwan Kamil yakin,  di 257 kecamatan sekolah tatap muka siap dilaksanakan. Pernyataan Kang Emil itu tentu saja melegakan hati banyak orangtua murid. Banyak sekali orangtua murid di Jabar yang sudah merasa jenuh menyaksikan anak-anak mereka belajar di rumah. Seperti ditulis pada BB mingg kemarin, banyak orangtua murid di Jabar berunjuk rasa. Mereka meminta sekolah segera dibuka kembali, anak-anak mereka dapat masuk kelas, belajar sambil bertatap muka dengan guru dan teman-teman mereka.

Tentu saja, pemerintah melaksanakan kebijakan sekolah di rumah saja itu, bertujuan menjaga anak-anak tidak terpapar Covid-19. Pemerintah tidak ingin, sekolah menjadi klaster baru Covid-19. Anak-anak menjadi korban kemudian meteka juga dapat menjadi perantara penyebaran Covid-19 di lingkungannya. Kebijakan itu bukan dilakukan di Jabar saja. Hal itu merupakan kebijakan pusat, dalam hal ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Masalahnya, tidak semua sisswa dapat melakukan proses belajar-mengajar secara virtual. Pengawasan guru dan orang tua kurang evektif. Tidak semua siswa memiliki akses internet dengan kualitas gambar sempurna. Masih banyak orangtua murid, di kota dan di desa yang masih gagap teknologi. Di samping itu belajar secara virtual membutuhkan biaya yang menurut sebagian rakyat, sangat berat.

Berdasarkan data harian perkembangan Covid-19 di Jabar masih fluktuatif. Ada beberapa daerah yang sudah masuk jalur hijau tetapi ada pula yang justru yang naik dan kembali kuning bahkan merah. Di daerah-daerah yang menunjukkan perkembangan ke arah lebih baik, dimungkinkan dibukanya kembali sekolah tatap muka. Kita tidak tahu persis, dari 257 daerah itu mana saja yang dijamin benar-benar aman, sehingga sekolah tatap muka dapat dibuka.

Masalahnya,kita bahkan di   seluruh dunia, Covid-19 belum dapat dimusnahkan secara masif. Di Kota Bandung yang sebagian wilayahnya dinyatakan hijau, tiba-tiba muncul klaster baru, bukan hanya di pasar, tempat ibadah, atau daerah wisata, Covid-19 mulai masuk ke perkantoran. Banyak ASN bahkan pejabat yang terserang. Karena itu sekolah tatap muka harus benar-benar di bawah pengawasan, apakah protokol kesehatan dilakukan secara benar atau tidak. Kerumunan para siswa di sekolah sulit dihindari apalagi mereka sudah lama tidak bertemu dan berkumpul. Dipastikan pada hari pertama akan terjadi peluk cium, berangkulan, bersalaman. Rasa rindu akan mudah membuat mereka lupa akan protocol kesehatan.

Selain itu, kerumunan siswa sulit diatasi. Masalahnya, di sejumlah sekolah, jumlah siswa rata-rata hampir melampaui kapasitas kelas. Jumlah siswa satu kelas ada yang mencapai 40 orang. Satu meja digunakan tiga siswa. Sekolah akan mengalami kesulitan ketika harus memelihara jarak antar-siswa. Kalau itu dilakukan, pasti dibutuhkan kelas yang sangat luas dan itu tidak mungkin, terutama di sekolah yang ada di perkotaan. Tentang penggunaan masker, cuci tangan, penyemprotan dengan disipektan, sangat mudah dilakukan.

Agar protokol kesehatan dapat dilaksanakan dan para siswa dapat bersekolah dengan masuk kelas, hanya mungkin dilakukan dengan cara masuk bergiliran. Satru kelas dibagi dua atau tiga kelompok belajar. Satu kelompok masuk kelas selama dua atau tiga hari kemudian bergiliran dengan kelom[pok lain dalam jumlah  waktu yang sama.  Pengawasan harus dilakuiklan secara ketat, baik oleh guru kelas maupun guru mata pelajaran. Begitu pula orangtua murid di rumah. Suruhlah mereka mencuci tangan dengan sabun ketika mereka tiba di rumah sepulangh dari sekolah. Segera cuci pakaian mereka dan betki minum air hangat, kalau ada, air jahe.

Apakah sekolah,siswa dan orangtuanya  siap  melaksanakan tata belajar- mengajar dengan budaya baru? ***