Jabar Tak Mau Jadi Pengekor Animator Dunia

16

BISNIS BANDUNG – Sebuah film  animasi “Riki Rhino” yang digarap secara apik dan disutradarai oleh Erwin Budiono  mulai tayang di bioskop pada 27 Februari 2020. Melalui gebrakan animasi ini  ada tekad besar  “disemangati”   Pemrov Jabar guna  menjadikan bisnis film animasi  yang berkelas sebagai industri kreatif  berbicara di level dunia.

Harapannya tentunya  Jabar dalam garapan film animiasi tidak hanya sekadar pengekor tetapi menjadi kiblat animator-animator dunia. Pengisi suara Film Riki Rhino ini, antara lain  melibatkan sejumlah artis  Hamish Daud sebagai Riki, Ge Pamungkas sebagai Beni, Zack Lee sebagai Mr Jak, Aurel Hermansyah sebagai Bebeb dan yang istimewa Ridwan Kamil sebagai Grada.

Riki Rhino adalah film animasi dari rumah produksi Batavia Picture. Tokoh di film tersebut adalah hewan-hewan endemik Indonesia salah satunya Elang Jawa hewan endemik Gunung Ciremei Jawa Barat.

Kang Emil selaku  Gubernur Jawa Barat,  ikut terlibat di film animasi besutan batavia picture. Ia berperan penting  menjadi pengisi suara dari karakter Grada, burung elang  Jawa  yang merupakan hewan endemik Gunung Ciremei.

“Tatkala ditawari untuk mengisi suara bagi karakter atau tokoh Elang Jawa  serta membaca skripnya, Pak Gubernur langsung  berminat,” kata Kepala Bidang Industri Pariwisata  Disparbud  Jabar, Azis Zulficar, Kamis (20/2/2020) kepada pers di Gedung Sate  dalam acara Jabar Punya Informasi (Japri).

Ia  menjelaskan, awalnya Batavia Picture mengajak Pemprov Jabar bekerjasama dalam menggarap film animasi Riki Rhino. Film Animasi Edukasi yang salah satu tokohnya adalah Elang  Jawa.

Karena menjaga hewan-hewan endemik juga sebagai bagian dari visi misi tawaran tersebut diterima, bahkan tidak hanya itu Gubernur Emil juga siap membantu menjadi pengisi suara tokoh Grada.

“Jadi film ini merupakan tentang sikap Pemprov Jabar yang peduli dengan keberadaan hewan asli Jabar yang salah satunya Elang Jawa,” kata dia.

Azis juga mengatakan secara kualitas film Riki Rhino ini tidak kalah dengan film animasi Frozon yang dibuat oleh animator luar negeri.

“Ya tidak kalah dari film ‘Frozen’. Dan (‘Riki Rhino’) ini dijadikan sebuah edukasi bahwa Jabar itu memiliki hewan-hewan langka yang menurut penilaian dari sisi produser wajib juga lestarikan salah satunya melalui film animasi,” kata dia.

Azis juga menerangkan animator-animator Jawa Barat ada, saat ini mereka yang tertarik di dunia animasi, harus belajar ke luar Jawa. Mereka pergi ke Batam, yang saat ini menjadi center animasi dengan sasaran Singapura.

“Kalau sekarang banyak sineas-sineas atau animator Jabar terus pergi ke Batam, kenapa Batam? Karena Batam itu centernya untuk pembuatan animasi dengan target singapura,” jelasnya.

Agar suatu hari kelak, mereka tidak perlu belajar jauh ke Batam hanya untuk mendapatkan studio animasi, Azis mengatakan siap mengusulkan kepada pimpinannya agar Jawa Barat juga punya studio animasi sendiri.

“Mudah-mudahan Jabar ke depan, kami coba agar ada satu studio khusus
kaitannya, bagaimana pembinaan terhadap animato animator animasi ini. Supaya bisa menghasilkan film film bermutu dan beredukasi,” katanya.

Azis  berharap ada  studio untuk animasi bagi calon sineas Jabar karena menurutnya film animasi tidak ada matinya contohnya saja film donal bebak, mickey mouse. (B-002)***