Jatigede Jangan Dibiarkan Meranggas

294

SECARA keseluruhan Bendung Jatigede belum benar-benar termanfaatkan.  Pembangunan yang berbasis teknologi seperti pembangkit tenaga listrik dan jaringan irigasi seolah-olah berjalan di tempat. Pembangunan Jatigede yang memakan waktu 62 tahun itu belum terasa manfaatnya secara nyata bagi masyarakat Sumedang dan kabupaten lainnya yang berada di hilir Cimanuk.

Bukan hanya pembangunan fisik yang masih harus menunggu komitmen pemerintah pusat, waduk terbesar kedua di Jabar itu belum terasa manfaatnya secara langsung oleh Pemda dan rakyat Sumedang. Penduduk terdampak dan masyarakat yang punya harapan besar akan manfaat bendungan itu, seolah-olah masih menunggu. Potensi pariwisata yang sangat besar, sampai sekarang masih tersimpan di dasar waduk. Pemda dan rakyat Sumedang seperti menunggu dan terus menunggu. Selama dua tahun setelah diresmikan Agustus 2015, Jatigede masih berupa genangan air amat luas. Masyarakat sekitar belum mampu merasakan aliran  uang dari danau bersejarah panjang itu.

Melihat keadaan seperti itu, Ketua Tim Pengarah Sumedang in Move juga penasihat Paguyuban Motekar, Herman Suryatman, meminta Pemkab Sumedang tidak harus menunggu regulasi dari pemerintah pusat dalam mengelola pariwisata di Jatigede. ”Pemkab Sumedang harus kreatif dan inovatif dalam membuat paket wisata Jatigede,” katanya seperti dimuat PR 26/12. Herman memberi arahan, beberapa paket wisata yang dapat dilakukan Pemkab, dalam hal ini Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparbudpora). Paket itu, antara lain, menurut Herman, dibuat one day tour (ODT).

Dengan paket itu para wisatawan dapat diajak ke puncak Bukit Batuduua, Gunung Lingga, sebagai tempat penyelenggaraan  paralayang. Di Gunung Lingga para wisatawan dapat diajak berkunjung ke kampung adat dan menikmati kuliner khas Sunda. Dari  sana para wisatawan dapat ikut menguji adrenalinnya dengan tandem paralayang, mendarat di kawasan Jatigede.