JK Menyarankan Tangani Dulu Covid 19 Krisis Ekonomi Di Depan Mata

1585
JK Menyarankan Tangani Dulu Covid 19 Krisis Ekonomi Di Depan Mata

BISNIS BANDUNG – Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) menyebutkan,  penyebab utama krisis ekonomi yang melanda dunia saat ini adalah pandemi virus corona (Covid-19). JK  menyarankan pemerintah agar menangani krisis pandemi Covid-19 terlebih dahulu untuk menyelesaikan persoalan krisis ekonomi.

“Jadi kalau ingin menyelesaikan (krisis) ekonomi  kita harus tahu sebabnya dulu apa, sebabnya Covid ini. Itu dulu yang harus diselesaikan,” kata JK secara daring dalam acara Millenial Fest, Minggu (16/8).

Dikemukakan JK ,  roda ekonomi otomatis kembali berjalan apabila pandemi virus corona sudah teratasi dengan baik. Krisis yang terjadi saat ini karena menurunnya daya beli masyarakat.

Menurutnya, saat ini mayoritas masyarakat hanya membeli barang-barang pokok untuk kebutuhan sehari-hari ketimbang membeli barang-barang sekunder.

Oleh karena itu, lanjut JK, tak heran bisnis hotel, bisnis penerbangan hingga bisnis tekstil sangat terpuruk sepanjang pandemi virus corona.

“Karena orang enggak berjalan, orang enggak datang ke daerah, orang enggak beli sesuatu yang tak penting. Enggak belanja kebutuhan sekunder. Apalagi kebutuhan luxury-nya dan enggak banyak,” ujar JK.

JK mengidentifikasi terjadi perubahan gaya hidup kelompok kelas menengah dan kelompok kelas atas atau kelompok mampu di Indonesia saat pandemi terjadi.

Untuk kelompok menengah, JK menyebut mereka sedang menghemat gaji di tengah pandemi virus corona. Sementara kalangan atas yang kerap berinvestasi, menurut JK, mereka sedang menunggu keadaan untuk kembali menginvestasikan duitnya.

“Krisis ekonomi itu akibat dari krisis kesehatan. Kalau ingin mengatasi cepat ekonomi itu, bagaimana cepat mengatasi pandemi ini,” kata pria yang juga Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) itu. Sementara Presiden Jokowi   mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2020 tentang Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Selain mengampanyekan adaptasi kehidupan baru (AKB) di tengah pandemi virus corona. Langkah tersebut diambil  untuk menggerakan roda ekonomi yang macet akibat pandemi virus corona.

Kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia mencapai 139.549 orang. Dari jumlah itu, 93.103 orang di antaranya sembuh dan 6.150 orang meninggal dunia.

Jurang resesi ?

Sementara itu , ekonom senior Rizal Ramli menyebut ,  Indonesia saat ini sudah masuk kedalam jurang resesi ekonomi, hal tersebut dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tumbuh negatif.

“Kita sudah masuk resesi, pertumbuhan ekonomi sudah negatif, pengangguran meningkat karena banyak PHK,” kata Rizal dalam sebuah diskusi secara virtual, beluma lama ini.

Rizal tak menampik jika Pandemi Virus Corona atau Covid-19 menjadi biang keladinya, walau sebelum adanya wabah tersebut, perekonomian Indonesia sudah bermasalah.

“Sekarang pertanyaannya, adakah di pemerintahan Jokowi, ada yang bisa mengembalikan situasi krisis ini .  Mohon maaf, saya bilang tidak ada,” ujar Rizal.

Sebelumnya, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah tak menampik potensi krisis di Indonesia. Dalam sebuah diskusi online Piter mengatakan,  nasib ekonomi Indonesia kedepan tidak jauh berbeda dengan negara lain yang mulai mengalami krisis ekonomi akibat pandemi.

“Sekarang kita ramai menyebut berbicara Singapura dilanda resesi, kita (Indonesia) juga sudah di depan mata. Kita juga akan resesi, sesuatu yang tidak akan terelakkan,” kata Piter.

Apalagi lanjut Piter , saat ini kasus virus corona ditanah air semakin hari makin banyak jumlahnya, sehingga kemungkinan pemerintah bakal menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jilid dua bisa terjadi , jika penyebaran virus ini tidak terkendali.

Piter menuturkan, ekonomi pada kuartal kedua sudah mengalami kontraksi. Begitupun pada kuartal ketiga dan keempat yang hampir diyakini terjadi penyusutan ekonomi, walaupun dengan skala lebih kecil.

“Kuartal III kita perkirakan masih negatif karena selama ada wabah Covid 19 ,  perekonomian kita belum akan normal, aktivitas sosial ekonomi terbatasi konsumsi jauh turun,” kata Piter. (B-003) ***