Kain Tenun Majalaya Kurang Branding

410

YUYU (35), melipat kain tenun Majalaya yang dipamerkan di Tamansari Batik Festival 2017 di Graha Manggala Siliwangi, Jalan Aceh, Kota Bandung. Tenun Majalaya memiliki kualitas bagus. Namun minimnya promosi dan motif yang kurang kekinian membuat penjualannya di Jabar masih minim.

Lemahnya branding membuat nilai tambah kain tenun Majalaya dinikmati daerah lain. Pedagang kain tenun di sejumlah daerah di luar Jawa Barat menjual kembali kain tenun Majalaya dengan harga hingga 3,5 kali lipat harga beli dari produsen di Majalaya.

Chief Executive Officer (CEO) Maxxindo Communication, Desay Savitri Devi, mengatakan bahwa kain tenun Majalaya dipasarkan pedagang kain tenun di Jepara dengan harga Rp 700.000 per helai. Konsumen umumnya menganggap kain tersebut sebagai tenun dari Jepara.

“Padahal itu dari Majalaya. Harga aslinya di Majalaya hanya Rp 200.000 per helai,” ujarnya.

Ia ditemui pada acara Tamansari Batik Festival 2017 di Graha Manggala Siliwangi, Jalan Aceh, Kota Bandung, Rabu 4 Oktober 2017.

Festival batik tersebut berlangsung selama lima hari, 4-8 Oktober 2017. Terdapat 80 tenant mulai dari perajin batik, bordir, tenun, hingga kerajinan tangan. Ikut ambil bagian dalam pameran tersebut perajin yang sedang naik daun karena batiknya banyak digunakan dalam rancangan Ivan Gunawan.

Untuk menginspirasi banyak orang, pameran tersebut juga menghadirkan perajin istimewa yang membatik menggunakan kakinya. Pengunjung bisa menyaksikan langsung proses membatik sang perajin yang tidak menyerah dengan kekurangan fisiknya.

Lemah Pemasaran

Wakil Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jabar, Giselawati Mizwar, mengakui, selama ini produsen dan perajin tenun dari Majalaya umumnya fokus pada produksi. Mereka menjual produknya dengan label kosong, tanpa merek, sehingga bisa dengan mudah dibranding pelaku usaha dari daerah lain.

“Mereka hanya fokus produksi. Lalu, nanti ada yang ambil untuk mereka jual di daerahnya. Ulos contohnya. banyak yang aslinya berasal dari Majalaya. Sayang, pemasarannya lemah,” katanya.

Dekranasda Jabar, menurut dia, saat ini sedang memikirkan upaya untuk kembali mengangkat nama tenun Majalaya agar kembali ke puncak kejayaannya. Dengan demikian, nilai tambah kain tenun Majalaya bisa dinikmati oleh para produsen dan perajin.

Operational Maxxindo Communication, Yuwono Andi, mengatakan, untuk bisa kembali meraih kejayaannya, kain tenun Majalaya harus membuat motif dan warna yang kekinian. Selama ini mayoritas motif dan pilihan warna tenun Majalaya umumnya masih mempertahankan pakem lama.

Tenun Garut disukai

Motif kain Majalaya umumnya untuk konsumen laki-laki dengan pilihan warna gelap. Sementara konsumen yang lebih konsumtif dengan produk fesyen, termasuk kain tradisional adalah wanita. Umumnya, mereka menyukai warna-warna yang lebih atraktif dan menarik, baik terang maupun pastel.

“Tenun Jabar yang saat ini sedang naik daun adalah tenun Garut. Mereka dinamis mengikuti tren warna dan motif kekinian yang disukai pasar. Kreativitas yang kekinian memang diperlukan untuk merebut pasar, termasuk bagi wastra tradisional,” katanya.

Yuyu Wahyudin dari Rio Tenun Padaringan, Majalaya, mengatakan, selama ini umumnya produk tenun Majalaya memang dijual ke Medan, Sulawesi, dan Kalimantan. Kain dibuat sesuai dengan pesanan dan umumnya memiliki motif untuk laki-laki dan warna gelap.

Produk tenun Majalaya yang paling diminati pasar adalah yang ditenun dengan mesin. Harganya Rp 200.000 per helai untuk kain dengan panjang 2,5 meter. Dalam satu hari mereka memproduksi hingga 50 helai.

“Kain tenun manual sekarang peminatnya kurang. Mungkin karena harganya juga yang Rp 750.000 per helai. Produksinya lama, bisa sampai satu minggu untuk satu helai,” ujarnya. (C-003/BBS)***