Kaum Milenial Pertanyakan Megawati Kritik Demo Tolak UU CK Diam Saja Melihat Kebijakan Yang Melemahkan Rakyat

45

BISNIS BANDUNG – Para demonstran muda yang masuk kategori milenial (1981-2000, berdasarkan Biro Sensus AS) mempertanyakan balik sumbangsih Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri yang mengkritik unjuk rasa tolak Omnibus Law Undang-undang Cipta Kerja. Bahkan mantan Presiden RI itu meminta Presiden Joko Widodo tak memanjakan

Fajar Adi Nugroho (22) salah seorang Mahasiswa Universitas Indonesia (UI)  menyayangkan sikap  elite partai dan pemerintahan yang sering kali meremehkan gerakan anak muda.

Padahal menurutnya, aksi unjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja yang mereka lakukan adalah sumbangsih yang nyata. Mereka turun ke jalan untuk memperjuangkan hak rakyat.

“Hari ini mahasiswa bergabung dengan rakyat menjadi bukti dari amalan Tri Dharma Perguruan Tinggi, amalan pendidikan dan pengabdian kami pada rakyat,” kata Fajar kepada CNNIndonesia.com, Rabu (28/10) yang dikutip Bisnis Bandung.com, kemarin.

Fajar menilai sepantasnya  anak muda yang telah mengenyam pendidikan di kampus turun ke jalan. Tapi sebaliknya , ia  mempertanyakan generasi senior yang hanya diam melihat rakyat sengsara.

“Para elite yang sudah mengenyam pendidikan tinggi, di luar negeri, justru diam saja melihat kebijakan yang melemahkan rakyat. Di mana gelar-gelar akademik mereka selama ini?” ujar Fajar.

Hal sama diungkapkan Abia Indou (29), mahasiswa Universitas Nasional yang juga menyayangkan pernyataan Megawati. Disebutkan, aksi unjuk rasa inilah sumbangsih kalangan muda untuk Indonesia. Upaya deligitimasi terhadap gerakan mahasiswa tak akan berpengaruh

“Jika ada yang  menyebut gerakan kami gerakan yang tidak berasal dari hari nurani, itu bullshit [omong kosong] karena ini perjuangan murni untuk bangsa Indonesia,” ucap Abia.

Abia mengingatkan bangsa ini didirikan berkat peran para pemuda. Dimulai dari Boedi Oetomo pada 1908 dan dilanjutkan Sumpah Pemuda pada 1928.

Abia menilai elite kekuasaan saat ini ingin memutarbalikkan sejarah. Dia menduga ada upaya menghilangkan peran pemuda dalam membangun bangsa.

Mengubah fakta sejarah

“Pemerintah mencoba mengubah fakta sejarah peran pemuda jaman sekarang,”ungkap Abia.

Dian Septi Trianti (37) dari kalangan buruh menilai para elite lupa bahwa demonstrasi juga bentuk sumbangsih kaum muda dari masa ke masa.Ia mengingatkan beberapa momentum pendirian bangsa yang diwarnai demonstrasi oleh pemuda. Misalnya Reformasi pada 1998 yang digerakkan mahasiswa. “Jangan dianggap demonstrasi bukan sumbangsih. Negara ini dibangun dari rentetan demonstrasi,” kata Dian saat ditemui CNNIndonesia.com di lokasi aksi.

“Setop merepresi kaum muda yang turun ke jalan, setop. Kemudian jangan represi dengan ancaman dropout, pelarangan demo, membatasi hanya buat karya ilmiah saja,” ucap Dian.

Nining Elitos (42) yang juga dari elemen buruh  tak sepakat jika gerakan para millenial direndahkan. “Itu hal yang keliru. Justru kita harus mengajarkan pemuda harus memiliki kecerdasan, keberanian, dan pengetahuan bagaimana mempertahankan agar bangsa kita tidak dijajah, agar rakyat Indonesia tidak dijajah,” kata Nining.

Nining berpendapat sudah bukan saatnya untuk membeda-bedakan elemen pergerakan. Menurutnya, ketidakadilan di negeri ini harus dilawan bersama-sama.”Kita tidak bisa lagi percaya terhadap kekuasaan saat ini. Maka penting penyatuan dari seluruh gerakan rakyat dari berbagai macam aliansi di daerah-daerah untuk melakukan perjuangan sekuat-kuatnya,” tutur Nining menegaskan. (B-003) ***