Kebiasaan Orang Jepang yang Harus Kita Tiru

588

Setiap bangsa memiliki budaya dan kebiasaan positif. Jepang adalah salah satu negara yang bisa maju karena kebiasan dan budaya masyarakatnya. Dalam akun facebooknya, Apandi Aji Pratama membagikan 12 budaya Jepang yang sangat berperan dalam memajukan negaranya. Setidaknya dalam 12 hal ini, kita perlu belajar ke negeri sakura itu.

Menghormati Orang Lain

あいさつ Aisatsu adalah budaya negara Jepang entah itu meminta maaf, berkenalan, bertamu di rumah orang, mengatakan permisi, bahkan sampai berbicara di telepon pun orang Jepang membungkuk sedikit (padahal orang yang berbicara dengannya tidak bisa melihat dia).

Membungkuk (お辞儀, ojigi) adalah sebuah keharusan. Tradisi yang sudah diajarkan kepada anak-anak sejak balita.

Malu

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dalam pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pemimpin yang terlibat korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

Mandiri

Sejak usia dini anak-anak di Jepang dilatih untuk mandiri. Bahkan seorang anak TK sudah harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Biasanya mereka mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang nantinya akan mereka kembalikan di bulan berikutnya.

Kerja Keras

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun).Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

Membaca Buku

Jangan kaget kalau Anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran.Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca.

Antre

Tentu saja sudah tidak asing lagi mendengar kalau orang Jepang memang terkenal dengan budaya antre. Mereka antre dalam berbagai hal, bahkan untuk ke toilet pun antre. Meskipun mereka sangat menghargai waktu, tapi tak ada yang menyerobot antrean meski terburu-buru, dan meski tidak ada garis, atau pembatas untuk meluruskan antrean, mereka tetap rapi mengantre.

Hemat

Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, mungkin kita sedikit heran dengan banyaknya orang Jepang yang sering jalan kaki ataupun naik sepeda.

Tepat Waktu

Tidak perlu ditanyakan lagi menyangkut soal waktu orang jepang sangat menghargai waktu, bagi mereka waktu adalah uang jika membuang waktu berarti dia telah membuang uang, bahkan kereta dan bus semua berjalan sesuai jam yang tertera, tak ada keterlambatan bahkan semenit pun. Mengajarkan kedisiplinan dan pentingnya tepat waktu.

Kerja Sama

Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut.

Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, namun 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok.

Menerapkan Penemuan

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat.

Memilah Sampah

Kota-kota di Jepang sangat bersih, karena kedisiplinan warganya dalam mengelola sampah. Tong sampah di Jepang ada banyak, dibedakan berdasarkan jenis sampahnya. Tidak cuma organic dan non organic, tapi ada sampah khusus botol, kemasan karton susu atau jus, sampah dapur, plastic, kertas, dan kaleng. Buang sampah harus dipilah-pilah dulu, dan warganya dengan tertib membuang dan memilah sampah berdasarkan jenisnya.

Naik Eskalator

Naik eskalator di Jepang, sudah budaya bahwa bagian kanan digunakan untuk orang yang terburu-buru. Jadi kalau naik eskalator dan tidak lagi terburu-buru harus di bagian kiri, kalau berdua juga jangan sebelahan, jadi ga bisa gandengan. (C-003/bbs)***