Kenali Gejala Longsor Di Daerah Perbukitan

27

Banyak masyarakat, terutama di wilayah pedesaan yang letaknya di perbukitan atau dibawah tebing membangun tempat tinggal. Tidak jauh-jauh dari Kota Bandung , di wilayah Bandung Utara banyak rumah dibangun dipinggir tebing . Menggunakan kontruksi beton sebagai landasan pijak untuk  rumah di atasnya agar rumah yang dibangun di  tanah curam , bisa sejajar dengan akses jalan raya. Selain bangunan rumah penduduk yang dibangun di lembah atau lereng perbukitan yang memiliki potensi terjadinya tanah longsor.

Dari berbagai narasumber yang dihimpun BB menyebut beberapa hal yang perlu diketahui apabila  tinggal atau akan membangun rumah/tempat tinggal di wilayah yang memiliki potensi tanah longsor , terutama setelah diguyur hujan lebat  cukup lama.  Antara lain : Kenali lingkungan untuk mengetahui tanah yang berpotensi longsor . Apakah  di kawasan tersebut pernah terjadi tanah longsor (gerakan tanah) karena gerakan tanah , cenderung terulang kembali di daerah lereng perbukitan.

Kemudian  memerhatikan  tanda-tanda bakal terjadinya gerakan tanah/longsor sekitar tempat tinggal saat hujan mengguyur lebat , di antaranya rekahan tanah, runtuhan batuan  atau luncuran material tanah dari atas bukit atau tegakan pohon , tiang listrik  yang menjadi miring. Apabila melihat hal serupa itu , segera lapor  ke pihak  pemerintahan setempat , selain bergegas  atau mengungsi meninggalkan wilayah tersebut samapi dinyatakan aman. Di samping itu ,  lakukan pembersihan sampah atau benda – benda yang terdapat di saluran air yang berada di lereng bukit agar  tidak menjadi penyumbat saat hujan turun dan airnya melimpah keluar saluran dan luberan air menjadi penyebab banjir yang melanda permukiman atau menjadi penyebab terjadinya gerkana tanah. Selalu waspada  saat hujan turun lebat , terutama pada malam hari saat kita lengah. Curah hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung lama, cukup berbahaya dan bisa menjadi pemicu terjadi longsor/gerakann tanah.

Hal lain yang perlu diketahui bila terdengar ada suara yang tidak lazim terdengar saat turun hujan, seperti bunyi dentuman , suara pohon tumbang atau suara batuan yang terlontar . Suara-suara serupa itu bisa menjadi salah satu petunjuk awal  terjadinya gerakan tanah di lereng . Sama halnya , jika kita bertempat tinggal berdekatan dengan  sungai . Kita juga harus waspada  yang tidak lazim terhadap peningkatan  air , bahkan penuruan aliran air sungai . Penuruan air sungai harus kita waspadai karena tidak menutup kemungkinan saluran air di bagian hulu tersumbat tanah longsor dan menjadi banjir bandang yang melanda kawasan di bawahnya karena sumbatan tanah longsor tidak mampu menahan volume air cukup besar . Seperti terjadi banjir bandang yang melanda wilayah Ujungberung sekitar tahun 1977 lalu . Sebuah lembah di antara bukit di kaki Gunung Manglayang tertimpa tanah longsor , hingga membentuk bendungan . Ketika volume air terus bertambah , bendungan yang terbentuk secara alami tersebut tidak mampu menahan ribuan meter kubik air yang mengisinya, bendungan alami tersebut ambrol dan airnya meluncur deras ke wilayah Ujungberung (waktu wilayah Kab.Bandung) yang berada  di bawahnya , meluluh lantakan harta benda , rumah warga Ciporeat , Cigending dan Cipanjalu, bahkan menelan korban jiwa . Bongkahan pohon besar berserakan di jalan raya di depan kantor Polsek Ujungberung saat ini ,   menjadi sebuah pemandangan yang memilukan dan mengerikan, bagaimana dashyatnya  terjangan banjir bandang. Sementara yang harus diwaspadai sewaktu terjadi peningkatan aliran air yang  warnanya kecoklatan (keruh) , hal serupa itu menjadi salah satu petunjuk terjadi banjir.

Mengenai lereng-lereng bukit yang berada di antara lintasan jalan raya , juga patut diwaspadai oleh pengguna jalan karena tidak menutup kemungkinan, lereng bukit yang berada di kiri-kanan jalan raya memiliki potensi longsor. (B-003) ***